Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Menteri Zionis Tuding Suriah-Qatar-Turki sebagai ‘Poros Kejahatan Baru’

POROS PERLAWANAN – Dalam serangan terbaru terhadap sejumlah negara di Kawasan, Menteri Diaspora Israel (Urusan Yahudi di Luar Palestina yang Diduduki), Amichai Shikli menyebut Turki, Qatar, dan Suriah sebagai “Poros Kejahatan Baru”.

Menurut Kantor Berita Tasnim pada Sabtu 20 September, Shikli, yang juga Menteri Urusan Yahudi di Luar Wilayah Pendudukan dalam Kabinet Benyamin Netanyahu, berbicara dalam sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh Jerusalem Post di Yerusalem yang Diduduki. Dengan nada agresif, ia menggambarkan kondisi rezim Zionis yang semakin tertekan di Kawasan maupun di dunia.

Pejabat Zionis yang dikenal ekstremis ini menyatakan kekhawatiran atas terbentuknya koalisi regional baru melawan Israel. Ia berkata: “Poros kejahatan yang baru adalah Turki, Suriah, dan Qatar. Ini adalah Iran yang baru.”

Menuduh Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan berusaha memulihkan pengaruh regionalnya, Shikli mengatakan, “Erdoğan secara terbuka menyatakan bahwa Yerusalem (Quds) harus menjadi bagian dari kekaisarannya dan Israel harus dihancurkan.” Ia juga menyebut Erdoğan sebagai “musuh peradaban Barat” sekaligus bagian dari “Ikhwanul Muslimin”.

Shikli, yang berasal dari sayap kanan ekstrem Partai Likud, menilai kepemimpinan Tahrir al-Sham di Suriah tidak dapat diandalkan. Ia menolak pendekatan pasif dari Pemerintahan Ahmed al-Sharaa (Jolani) terhadap Israel, serta menyerukan tindakan militer serius terhadap Suriah pasca-Assad.

Kritik terhadap Sekutu Barat dan Harapan pada Sayap Kanan

Dalam pidatonya, Shikli juga menyinggung isolasi internasional Tel Aviv. Ia mengkritik keras sekutu tradisional Israel di Eropa, khususnya Prancis. Menyinggung sikap Paris terkait perang Gaza dan pengakuan negara Palestina, ia mengatakan, “Saya sangat kecewa dengan Pemerintah Prancis… Israel tidak mendapat dukungan dari Prancis, dan itu bukan cara memperlakukan seorang teman.”

Ia menyebut Presiden Prancis, Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer sebagai “pemimpin terlemah di Eropa”.

Lebih jauh, Shikli secara terbuka menyatakan dukungan terhadap gerakan sayap kanan dan anti-Islam di Eropa. Menjawab pertanyaan tentang hubungannya dengan kelompok-kelompok ini, ia menegaskan bahwa mereka bukan “ekstremis”, melainkan “normal”. Ia menyebut tokoh seperti Marine Le Pen dan Jordan Bardella (Prancis, Partai Reli Nasional), Santiago Abascal (Spanyol, Partai VOX), serta Partai Reformasi di Inggris sebagai sekutu baru Israel, dengan alasan sikap mereka yang anti-Palestina dan anti-Islam.

Pergeseran Israel ke arah aliansi sayap kanan ini mencerminkan kebuntuan diplomatik Tel Aviv sekaligus upaya mencari sekutu baru di tengah menguatnya politik identitas, rasisme, dan perpecahan di Barat.

Ketika moderator Jerusalem Post mengingatkan bahwa pernyataannya “tidak diplomatis”, Shikli menjawab: “Saya bangga. Saya muak dengan kemunafikan.”

Pernyataan ini semakin menyingkap wajah diplomasi rezim Israel yang didasarkan pada agresi, ekstremisme, dan politik adu-domba.

Latar Belakang Politik Shikli

Amichai Shikli awalnya merupakan anggota Partai Yamina pimpinan Naftali Bennett pada Pemilu 2021. Partai itu meraih tujuh kursi, namun Shikli menolak kesepakatan Bennett dengan Yair Lapid untuk membentuk pemerintahan “Koalisi Perubahan”, dan memilih bergabung dengan oposisi.

Keputusan itu membuat Kabinet Bennett–Lapid berdiri dengan mayoritas rapuh hanya 61 kursi. Setelah satu anggota parlemen mengundurkan diri, koalisi tersebut terjerumus ke krisis hingga akhirnya menyetujui Pemilu dini.

Dalam Pemilu November 2022, Koalisi Perubahan kalah dan pemerintahan sayap kanan religius Netanyahu berkuasa. Shikli kemudian bergabung dengan Partai Likud dan ditunjuk sebagai Menteri Diaspora Israel.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *