Militer Lebanon: Israel Langgar Kesepakatan Gencatan Senjata yang Baru Berumur Sehari
POROS PERLAWANAN – Dikutip Mehr dari al-Jazeera, Rezim Zionis telah melanggar gencatan senjata di Lebanon meski kesepakatan itu baru berumur sehari.
Pada Kamis 28 November kemarin, Militer Lebanon mengumumkan bahwa Israel pada hari Rabu dan Kamis berkali-kali melanggar gencatan senjata dengan melancarkan sejumlah serangan udara dan darat.
Al-Mayadeen melaporkan, Rezim Zionis menyerang kawasan-kawasan di desa Tayyibah dan Markaba di selatan Lebanon dengan tembakan artileri.
Pusat Informasi Palestina mengutip dari Radio Militer Israel bahwa Rezim Zionis telah melanggar gencatan senjata.
Radio Militer Israel melaporkan, pada hari Kamis kemarin sebuah drone Rezim Zionis menargetkan sebuah kendaraan di desa Markaba di selatan Lebanon. Para penumpang kendaraan itu gugur akibat serangan tersebut.
Sumber Radio Militer Israel mengeklaim, tujuan penargetan kendaraan itu dengan drone adalah “menjauhkannya dari kawasan tersebut, bukan membunuh para penumpangnya.”
Sebelum itu, Pusat Informasi Palestina memberitakan bahwa Militer Israel beberapa kali menembak ke arah pendudukan kawasan perbatasan Lebanon. Sejumlah warga dikabarkan gugur dan terluka akibat serangan tersebut.
Faksi-faksi Poros Perlawanan menyambut baik gencatan senjata Lebanon dan memandangnya sebagai kemenangan Hizbullah atas Israel.
Di sisi lain, media-media radikal domestik dan politisi Israel menyudutkan Netanyahu lantaran kalah di hadapan Hizbullah.
Pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid berkomentar,”Kesepakatan dengan Hizbullah tidak bisa menghapus aib kegagalan-kegagalan politis Netanyahu. Harus ada kesepakatan yang membuat para tawanan kita dibebaskan dari tangan Hamas di Gaza serta para pengungsi kita kembali ke rumah-rumah mereka.”
Lapid mengakui kekalahan Rezim Zionis di hadapan Poros Perlawanan dan menambahkan,”Pada hakikatnya, Kabinet Netanyahu pada akhirnya terpaksa menerima gencatan senjata. Kabinet Netanyahu gagal mendapatkan raihan politis dalam masalah ini.”
Mantan PM Israel, Naftali Bennett juga mengecam pedas Kabinet Netanyahu. Ia berkata,”Kesepakatan dengan Hizbullah adalah kegagalan total dan memalukan di bidang diplomasi-keamanan untuk Israel. Dengan merekonstruksi selatan Lebanon, Hizbullah akan menggunakan kawasan ini untuk kembali menyerang Israel,”
Mantan Menteri Perang Israel, Avigdor Lieberman juga mengkritik ketidakbecusan Netanyahu dan anggota Kabinetnya dalam memanajemen perang. Lieberman mengatakan,”Melalui kesepakatan dengan Hizbullah, Netanyahu memberi hadiah kepada kelompok ini untuk membunuh orang-orang Israel.”
