Moral Pasukan Israel Runtuh di Tengah Perang Gaza yang Tak Berujung
POROS PERLAWANAN — Dilansir Al Mayadeen, krisis serius melanda Militer Israel setelah laporan terbaru menyebutkan bahwa moral tentaranya terus merosot di tengah perang berkepanjangan di Gaza. Menurut The Wall Street Journal (WSJ), pasukan cadangan yang menjadi tulang punggung operasi militer kini menunjukkan tanda-tanda kelelahan, penolakan, bahkan pemberontakan moral.
Hampir dua tahun perang tanpa henti di berbagai front telah membuat Militer Israel menghadapi tekanan besar. Para komandan mengaku kesulitan mengumpulkan kembali 60.000 pasukan cadangan yang ditarik dari kehidupan sipil mulai dari pekerja kantoran, mahasiswa, hingga kepala keluarga. Lebih dari 30 prajurit dan perwira yang diwawancarai WSJ mengungkapkan bahwa rasa lelah dan ketidakpercayaan terhadap kepemimpinan politik membuat barisan tentara berada di titik kritis.
Dalam upaya putus asa, beberapa komandan bahkan menggunakan pesan berantai di WhatsApp untuk merekrut sukarelawan, khususnya tenaga medis dan penembak jitu, guna menjalankan operasi baru di Kota Gaza. Militer memang menegaskan kesiapan operasional, tetapi mereka juga tak menutup mata bahwa krisis dukungan terhadap pasukan cadangan menjadi ancaman nyata.
Perpecahan Internal dan Penolakan Publik
Fenomena ini mencerminkan perpecahan internal yang semakin lebar. Survei terbaru menunjukkan sekitar 80% warga Israel mendukung perundingan damai untuk mengakhiri perang sekaligus membebaskan tawanan. Ribuan tentara cadangan dan veteran telah menandatangani petisi menuntut penghentian operasi militer.
Sejak serangan 7 Oktober 2023, sentimen pasukan berubah drastis. Pemanggilan berkali-kali membuat mereka merasa hanya diperalat untuk kepentingan politik. Seorang Sersan Mayor dengan pengalaman lebih dari 400 hari di Gaza dan Lebanon menyatakan, “Orang-orang mati sia-sia, dan Netanyahu memperpanjang perang demi kelangsungan politiknya sendiri.”
Ketidakpuasan semakin meluas setelah muncul wacana pengecualian wajib militer bagi kelompok ultra-Ortodoks. Banyak cadangan menilai kebijakan ini tidak adil, mengingat mereka sendiri terus-menerus dikerahkan ke garis depan.
Dampak Sosial dan Psikologis
Dampak perang juga dirasakan di rumah tangga para tentara. Istri seorang perwira cadangan, Dalit Kislev Spektor menceritakan bagaimana suaminya pulang dengan trauma setelah mendengar kabar rekan seperjuangannya bunuh diri. “Perang ini lebih politis daripada militer. Kalau terserah saya, suami saya tidak akan kembali bertugas,” katanya.
Sejumlah pasukan bahkan mulai menolak panggilan dinas. Beberapa di antaranya mengaku tidak tahan melihat tindakan brutal di lapangan, termasuk perintah pembuangan warga sipil Palestina yang terluka.
Tuduhan Genosida dan Tekanan Global
Di sisi lain, kecaman dunia terhadap Israel semakin keras. Asosiasi Internasional Cendekiawan Genosida (IAGS) menyatakan bahwa operasi militer Israel memenuhi definisi hukum genosida internasional. Mereka menyoroti serangan terhadap warga sipil, penggunaan kelaparan sebagai senjata, blokade bantuan kemanusiaan, hingga pengungsian massal.
Data Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 63.000 warga Palestina tewas dan 160.000 lainnya terluka sejak 7 Oktober 2023. Hanya dalam periode Maret hingga awal September 2025, lebih dari 11.000 jiwa kembali menjadi korban.
Titik Kritis
Untuk meredam krisis, Militer Israel mencoba menerapkan jadwal rotasi dan opsi keringanan tugas. Namun langkah itu dinilai tidak cukup. Kepala Staf, Eyal Zamir bahkan menentang gagasan pendudukan penuh Gaza karena keterbatasan sumber daya manusia.
Pengamat menilai bahwa keruntuhan moral tentara menjadi ancaman terbesar bagi Israel sendiri. “Semakin banyak keraguan atas tujuan perang, semakin sedikit yang bersedia datang,” ujar salah satu perwira yang diwawancarai WSJ. “Kita sudah sangat dekat dengan garis merah.”
