Mossad dan Normalisasi Kerusuhan Terbuka
POROS PERLAWANAN — Tidak ada lagi sandiwara. Tidak ada lagi bahasa diplomatik yang menipu. Mossad kini berbicara dengan suara aslinya: terang, menantang, dan terbuka tanpa rasa malu. Seruan langsung kepada warga Iran untuk melanjutkan protes, disertai klaim keterlibatan “di lapangan”, menandai satu fakta yang tak terbantahkan, bahwa rezim Zionis telah meninggalkan operasi bayangan dan memilih konfrontasi terbuka.
Laporan Tasnim News Agency pada Kamis (8/1/26) mengonfirmasi pergeseran drastis ini. Melalui akun media sosial berbahasa Persia, Mossad secara eksplisit menyatakan dukungannya terhadap aksi protes di Iran. Ini bukan semata-mata provokasi digital. Ini adalah deklarasi perang hibrida dalam bentuk paling telanjang.
Selama bertahun-tahun, campur tangan asing terhadap stabilitas internal Iran dibungkus dengan berbagai retorika “hak asasi”, “kebebasan”, dan “dukungan moral”. Kini topeng itu jatuh. Ketika sebuah badan intelijen asing secara terbuka mengajak rakyat negara lain turun ke jalan, tidak ada lagi ruang bagi tafsir lunak. Ini adalah intervensi langsung terhadap kedaulatan nasional.
Momentum kemunculan seruan ini pun bukan kebetulan. Seruan ini muncul tak lama setelah pertemuan antara Benjamin Netanyahu dan Donald Trump, dua figur utama Poros Setan dalam konfrontasi terhadap Iran. Pesannya lugas dan kasar, bahwa seluruh instrumen telah dilepas, dari sanksi ekonomi hingga agitasi sosial, dari tekanan diplomatik hingga sabotase narasi.
Dalam kerangka perang hibrida, jalanan hanyalah satu lapisan. Medan utama sesungguhnya adalah pikiran publik. Mossad tampaknya berasumsi bahwa dengan tampil terbuka, agitasi dapat diubah menjadi legitimasi. Perhitungan ini keliru dan justru berbalik arah. Keterbukaan semacam itu bukan tanda kekuatan, melainkan pengakuan atas kegagalan strategi lama yang tidak mampu menembus kesadaran nasional Iran.
Lebih jauh, seruan terbuka ini justru memperjelas siapa yang berdiri di balik upaya menggeser protes menjadi kerusuhan. Ketika rezim Zionis mengklaim kehadiran “di lapangan”, klaim tersebut sekaligus mengonfirmasi perannya dalam mendorong eskalasi dan instabilitas. Tidak ada lagi ruang bagi narasi kepolosan atau penyangkalan.
Bangsa Iran tidak sedang berhadapan dengan persamaan yang rumit. Peta musuh kini terbaca dengan jelas. Rezim Zionis berperan sebagai perancang utama, Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di Eropa bertindak sebagai penyangga politik dan media, sementara elemen-elemen domestik yang terkooptasi berfungsi sebagai pion lapangan. Ini bukan tuduhan emosional, melainkan pola berulang yang terlihat di berbagai medan konflik.
Dalam situasi seperti ini, respons setengah hati adalah bentuk kelengahan strategis. Perang hibrida menuntut kewaspadaan total, yakni pemahaman mendalam terhadap strategi lawan, penguasaan narasi publik, dan konsolidasi kesadaran nasional. Musuh menggantungkan harapan pada fragmentasi, dan jawabannya harus berupa kohesi.
Kesadaran kolektif rakyat Iran adalah benteng yang tidak dapat ditembus oleh operasi intelijen yang kehilangan kerahasiaannya. Ketika Mossad berbicara terlalu lantang, hal ini justru membantu menjelaskan siapa yang menggerakkan kerusuhan dan untuk tujuan apa. Ini adalah ironi strategis yang tidak dapat ditutupi oleh propaganda.
Sejarah berulang kali menunjukkan bahwa intervensi asing paling sering gagal bukan karena kekurangan kekuatan militer atau teknologi, melainkan karena meremehkan ingatan, rasionalitas, dan daya tahan sebuah bangsa. Rezim Zionis tampaknya kembali mengulangi kesalahan klasik itu, dan kali ini dengan suara yang terlalu keras untuk diabaikan.
