Peringkat Global Institut Weizmann Anjlok Usai Terkena Serangan Rudal Iran
POROS PERLAWANAN — Data terbaru dari indeks ilmiah bergengsi Nature Index menunjukkan kemerosotan signifikan Institut Sains Weizmann Israel, yang untuk pertama kalinya dikeluarkan dari daftar 100 lembaga akademik teratas dunia. Penurunan ini terjadi setelah kerusakan besar akibat serangan rudal Iran dalam rangkaian pembalasan terhadap rezim Zionis selama Perang 12 Hari.
Surat kabar Zionis Yediot Aharonot, dikutip harian Kayhan pada Kamis (8/1/26), melaporkan bahwa Weizmann kini terdepak dari 100 besar lembaga akademik global. Data Nature Index menunjukkan penurunan tersebut berlangsung di tengah dampak lanjutan Operasi “Badai Al-Aqsa”, eskalasi ketegangan militer regional, serangan rudal Iran, serta meningkatnya sanksi dan boikot akademik internasional terhadap Israel terkait perang yang berlangsung di Gaza.
Media Israel mengaitkan penurunan tajam ini dengan kerusakan langsung pada infrastruktur penelitian Weizmann. Rudal Iran dilaporkan menghantam kampus institut tersebut di Rehovot pada tahun lalu, menghancurkan puluhan laboratorium dan gedung penelitian, serta melumpuhkan sekitar seperempat aktivitas riset institusi tersebut.
Enam bulan setelah serangan tersebut, dampaknya tercermin jelas dalam Nature Index 2025. Institut Weizmann dikeluarkan dari 100 besar baik dalam kategori peringkat keseluruhan maupun peringkat lembaga penelitian, sebuah capaian terburuk sejak indeks itu diterbitkan pertama kali pada 2014.
Dalam peringkat Research Leaders yang diperbarui, Weizmann kini berada di posisi ke-111 di antara lembaga akademik, merosot tajam dari peringkat ke-75 pada tahun sebelumnya. Dalam peringkat global yang mencakup universitas dan lembaga penelitian non-universitas, institut tersebut turun ke posisi ke-122 dari sebelumnya ke-82, atau penurunan lebih dari 25 persen. Sebagai perbandingan, pada 2017 Weizmann masih berada di peringkat ke-54 secara global dan ke-47 di antara lembaga akademik.
Tingkat kerusakan fisik dipaparkan dalam pertemuan Komite Keuangan Knesset pada Juni lalu. Dua gedung penelitian dilaporkan hancur total, sementara 112 bangunan lain di kompleks institut mengalami kerusakan dengan berbagai tingkat keparahan.
Direktur Institut Weizmann, Profesor Alon Chen, menyatakan bahwa sekitar 52 laboratorium penelitian dan enam laboratorium layanan tidak lagi dapat digunakan. Kondisi ini menyebabkan terhentinya sekitar 20 hingga 25 persen dari total kegiatan penelitian. Kerusakan langsung pada bangunan dan peralatan diperkirakan mencapai 1,5 hingga 2 miliar shekel, setara sekitar 412 hingga 549 juta dolar AS.
Chen juga menyoroti persoalan kompensasi peralatan ilmiah. Ia menyebutkan bahwa peralatan bernilai tinggi, seperti mikroskop yang dibeli lima tahun lalu seharga satu juta dolar AS, kini hanya dihitung bernilai sekitar 200 ribu dolar dalam skema kompensasi, sementara biaya pengadaan baru mencapai sekitar 1,5 juta dolar AS.
Sementara itu, media Israel juga melaporkan lemahnya kesiapan perlindungan sipil. Dokumen bocoran dari kantor inspektur jenderal pemerintah, Matanyahu Englman, menunjukkan bahwa pada awal 2025 sekitar 2,3 juta warga Israel, lebih dari 33 persen populasi, tidak memiliki akses ke tempat perlindungan standar. Selain itu, sekitar 12 persen dari fasilitas perlindungan yang ada dilaporkan tidak dapat digunakan.
