‘Muawiyah’ dan 100 Juta Dolar: Dari Sejarah yang Dipoles Ulang Hingga Eksperimen Politik Berbungkus Hiburan
POROS PERLAWANAN – Di era modern, uang tidak hanya bisa membeli masa depan, tetapi juga masa lalu. Dengan 100 juta Dolar, seseorang bisa membangun ribuan sekolah, memperbaiki layanan kesehatan, atau—lebih menguntungkan lagi—memproduksi ulang sejarah dalam format sinematik. Karena, tentu saja, mengapa membiarkan masa lalu tetap seperti apa adanya jika bisa dirombak agar lebih sesuai dengan kepentingan hari ini?
Arab Saudi tampaknya memahami prinsip ini dengan sangat baik. Alih-alih menuangkan anggaran besar ke dalam inovasi atau kesejahteraan sosial, mereka memilih investasi yang lebih strategis: penulisan ulang sejarah dalam bentuk serial epik “Muawiyah”, yang menelan biaya setara Rp1,6 triliun. Bukan sekadar tontonan Ramadan biasa—ini adalah eksperimen politik dalam format hiburan beranggaran blockbuster. Bahkan, beberapa orang menyebutnya sebagai “Game of Thrones versi Islam” —lengkap dengan akrobat perebutan kekuasaan, intrik politik, dan narasi yang dikurasi sesuai kepentingan penguasa.
Sebab, mengapa membiarkan fakta sejarah berbicara sendiri jika bisa dipoles agar lebih menarik dan menguntungkan?
Sejarah: Narasi yang Bisa Dipesan Sesuai Selera
Sejarah sering dianggap sebagai sesuatu yang tetap, didasarkan pada fakta objektif. Sayangnya, realitasnya lebih dinamis dari itu: sejarah bukan hanya soal apa yang terjadi, tetapi juga bagaimana peristiwa itu diceritakan—dan lebih penting lagi, oleh siapa.
Dalam serial ini, Muawiyah bin Abu Sufyan bukan sekadar pendiri Dinasti Umayyah yang penuh kontroversi, tetapi ikon kebijaksanaan dan strategi politik. Sebuah transformasi luar biasa! Tidak lagi hanya dikenang sebagai sosok yang memperkenalkan sistem monarki dalam Islam, ia kini dipotret sebagai pemimpin visioner yang paham bahwa politik bukan soal pertempuran, melainkan seni bertahan dan memenangkan narasi.
Namun, sejarah tidak bekerja seperti naskah film. Kita tidak bisa sekadar memilih sudut pandang yang nyaman dan mengabaikan bagian yang tidak sesuai dengan kepentingan politik tertentu. Maka tak heran jika sejak kabar produksi serial ini mencuat, protes bermunculan—dari Irak hingga media sosial—menegaskan bahwa tidak semua orang setuju dengan versi sejarah yang dikurasi dengan biaya setara pembangunan ribuan sekolah.
Rp1,6 Triliun: Investasi pada Masa Lalu atau Masa Depan?
Menurut sang penulis naskah, Khaled Salah, serial ini bukan tentang kemenangan dan kekalahan, melainkan tentang menggali sisi manusia dalam politik. Pernyataan yang terdengar mulia—jika saja tidak begitu sinis. Sebab, jika proyek ini memang bertujuan mengedukasi, mengapa justru menjadi semacam alat pemantik perpecahan sebagaimana yang dikecam banyak pihak?
Untuk memahami skala investasi ini, mari kita konversikan angkanya: $100.000.000 USD = Rp1.631.250.000.000, dengan asumsi setiap 1 USD bernilai sekitar Rp16,312.50 atau 16,31 ribu rupiah. Satu triliun enam ratus tiga puluh satu miliar dua ratus lima puluh juta rupiah.
Jumlah ini cukup untuk:
1. Membangun ribuan gedung sekolah dan pusat pendidikan
2. Meningkatkan layanan kesehatan gratis bagi jutaan orang
3. Memberdayakan ekonomi rakyat dengan program kesejahteraan
Namun, rupanya, sejarah yang “benar” adalah investasi yang lebih mendesak. Apa artinya kesejahteraan masyarakat jika mereka tidak dididik dengan versi sejarah yang sesuai dengan kepentingan penguasa?
Drama Media Sosial: Dari Fatwa ke Meme
Di dunia digital, tidak ada kontroversi yang lengkap tanpa pertarungan di media sosial. Sejak serial ini mulai dipromosikan, kritik dan kecaman membanjiri internet. Tagar #MuawiyahSandalMuminin menjadi viral, mencerminkan gelombang skeptisisme terhadap produksi ini. Netizen tidak tinggal diam—mereka menganalisis, membandingkan, dan tak jarang mengejek betapa sejarah kini bisa direvisi dengan sentuhan produksi Hollywood Timur Tengah.
Namun, di balik kegaduhan ini, ada realitas yang lebih menggelitik: sejarah kini tidak lagi diperdebatkan di ruang akademik, tetapi di Twitter, TikTok, dan YouTube Shorts. Dulu, sejarah ditulis dengan tinta dan penelitian; kini ditentukan oleh trending topic dan algoritma. Sejarawan mungkin masih sibuk meneliti manuskrip kuno, tetapi di era digital, siapa pun yang memiliki cukup anggaran dan tim produksi bisa menentukan bagaimana sejarah diceritakan.
Dan dalam pertempuran ini, produksi yang mahal dan promosi yang agresif hampir selalu menang.
Masa Depan yang Dikuasai oleh Masa Lalu
Pada akhirnya, “Muawiyah” bukan sekadar drama sejarah, melainkan eksperimen politik dalam bentuk hiburan. Dengan anggaran fantastis dan jaringan distribusi yang luas, serial ini menjadi alat bagi Arab Saudi untuk membentuk opini publik, baik di dunia Islam maupun di luar. Ini bukan sekadar produksi televisi, melainkan strategi geopolitik.
Sejarah bukan lagi tentang apa yang terjadi, tetapi tentang siapa yang mampu menceritakannya dengan lebih meyakinkan. Dalam dunia yang dikendalikan oleh propaganda, kebenaran bukanlah soal fakta, tetapi soal siapa yang memiliki anggaran produksi lebih besar dan jaringan distribusi lebih luas.
Dan sementara kita duduk menyaksikan pertunjukan ini, satu hal menjadi jelas: Masa depan bukan hanya dikuasai oleh mereka yang memiliki kekuatan, melainkan juga oleh mereka yang tahu cara mengatur ulang masa lalu untuk beragam kepentingan. [PP/MT]
