“Muawiyah” vs Muawiyah: Kegagalan Epik Sejarah Berbiaya 100 Juta Dolar
POROS PERLAWANAN – Sudah lama kita mendengar bahwa sejarah ditulis oleh para pemenang. Namun siapa sangka, sejarah juga bisa dihancurkan oleh tangan-tangan yang ingin mengubahnya. Ini dia, kisah tentang bagaimana lewat serial “Muawiyah”, 100 juta Dolar dihamburkan untuk membuat Muawiyah terlihat hebat—hanya untuk membuktikan betapa cacatnya citra tersebut.
Ketika para pembuat kebijakan budaya di Arab Saudi duduk mengelilingi meja panjang mereka, mungkin mereka membayangkan suatu proyek mahapenting: sebuah film megah yang akan memperbaiki reputasi tokoh kontroversial dalam sejarah Islam, Muawiyah bin Abu Sufyan. Mereka mungkin berkata: “Bagaimana kalau kita buat dia tampak seperti seorang pahlawan Islam yang agung? Rakyat pasti akan menelan mentah-mentah cerita ini!”
Betapa naifnya.
Sejak serial ini mulai tayang, sesuatu yang benar-benar di luar dugaan terjadi: para ulama dan tokoh-tokoh Sunni, yang seharusnya mendukung proyek ini, justru membongkar fakta-fakta mengejutkan tentang Muawiyah dari sumber-sumber tepercaya mereka sendiri. Seketika, dunia maya dipenuhi dengan kutipan dari kitab-kitab klasik Sunni yang menelanjangi karakter asli Muawiyah. Para penonton yang awalnya hanya ingin menikmati tontonan sejarah ala Hollywood justru mendapati diri mereka terperosok ke dalam lubang kelam sejarah yang selama ini tertutup rapat.
Efeknya? Boomerang sempurna.
Alih-alih mengagungkan Muawiyah, film ini justru menjadi pemicu gelombang kesadaran baru tentang bagaimana sejarah Islam diwarnai intrik, pengkhianatan, dan permainan politik yang brutal. Kini, umat Islam yang selama ini tidak terlalu peduli dengan dinamika sejarah mulai mempertanyakan siapa sebenarnya Muawiyah, dan mengapa banyak ulama besar terdahulu justru mengecamnya.
Bahkan, tokoh besar dalam Mazhab Hanbali, Imam Ahmad bin Hanbal, yang kerap dipuja oleh kalangan konservatif, justru memiliki kritik keras terhadap Muawiyah. Fakta ini, yang selama ini hanya diketahui oleh segelintir akademisi dan sejarawan, kini menyebar luas bak kebakaran hutan di musim panas.
Dan coba tebak? Ini baru permulaan.
Jika para kreator film ini punya sedikit saja kemampuan berpikir strategis, mereka pasti sudah bisa membayangkan betapa buruknya hasil dari usaha ini. Namun, dengan ketidaktelitian luar biasa yang mereka tunjukkan, mereka justru menyediakan panggung emas bagi para kritikus untuk membongkar sosok yang ingin mereka glorifikasi.
Tujuan awal film ini jelas: menciptakan narasi baru yang dapat mengukuhkan Muawiyah sebagai pahlawan Islam yang bijaksana, cerdas, dan penuh strategi. Namun realitas yang terjadi justru sebaliknya: film ini telah membuka kotak Pandora sejarah yang selama ini tertutup rapat, mengundang generasi baru Muslim untuk bertanya lebih dalam, membaca lebih luas, dan meragukan lebih banyak propaganda yang selama ini mereka telan bulat-bulat.
Tanpa perlu menjadi seorang analis politik ulung, siapa pun bisa melihat bahwa proyek ini—dengan semua anggaran luar biasa besarnya—tidak hanya gagal mencapai tujuannya, tetapi justru berubah menjadi instrumen perpecahan di tengah umat Islam.
Dan inilah ironi terbesar dari semuanya: 100 juta Dolar yang mereka habiskan untuk membuat Muawiyah terlihat baik justru menjadi investasi terbaik untuk membuktikan bahwa dia tidak sebagus yang mereka klaim.
Dalam dunia politik dan propaganda, ada satu aturan emas yang selalu berlaku: jangan pernah menciptakan pertanyaan yang jawabannya bisa merugikanmu sendiri. Sayangnya, mereka tidak membaca aturan itu.
Seperti pepatah Arab: “انقلب السحر على الساحر!”
“Sihir telah berbalik menyerang sang penyihir!”
Atau dalam bahasa modern: “Selamat! Kalian baru saja menyalakan api yang membakar rumah kalian sendiri.” [PP/MT]
