Mufti Agung Oman Peringatkan Bahaya Pelucutan Senjata Gaza dan Kecam Penjarahan Bantuan Kemanusiaan
POROS PERLAWANAN — Dilansir Al Mayadeen, Mufti Agung Oman, Sheikh Ahmad al-Khalili, mengeluarkan peringatan keras terhadap upaya pelucutan senjata faksi-faksi Perlawanan Palestina di Gaza. Ia menegaskan bahwa menyerahkan senjata hanya akan membuat rakyat Palestina semakin rentan terhadap agresi brutal yang terus berlangsung dari Israel.
Dalam pernyataannya yang dipublikasikan melalui akun resminya di platform X pada Selasa 5 Agustus, al-Khalili menyatakan bahwa jika Perlawanan meletakkan senjata, maka tak akan ada yang datang membantu mereka. Ia menyerukan kepada rakyat Palestina untuk tetap teguh memegang ajaran Al-Qur’an dan bersabar dalam menghadapi penderitaan maupun kesulitan yang menimpa mereka.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan dari beberapa negara Arab yang mendesak pelucutan senjata sebagai syarat untuk gencatan senjata atau proses rekonstruksi di Gaza. Al-Khalili mempertanyakan logika tuntutan tersebut, mengingat rakyat Gaza saat ini hidup di bawah pengepungan ketat, bombardir terus-menerus, serta krisis pangan dan obat-obatan yang semakin parah.
Sheikh al-Khalili juga mengecam keras para oportunis yang menyalahgunakan situasi kemanusiaan untuk mencari keuntungan pribadi. Ia menyinggung adanya pihak-pihak yang menjarah bantuan dan menjualnya kembali dengan harga tinggi. Menurutnya, tindakan seperti ini merupakan kejahatan moral dan kemanusiaan yang harus segera dihentikan. Ia mendesak adanya langkah-langkah nyata untuk memastikan distribusi bantuan berjalan dengan aman dan adil.
Lebih lanjut, al-Khalili menyerukan kepada organisasi internasional dan kekuatan global untuk segera bertindak menjamin pengiriman bantuan kemanusiaan tanpa gangguan ke wilayah Gaza. Ia menekankan pentingnya solidaritas umat Islam dan dunia untuk menolak upaya mendelegitimasi perlawanan Palestina, terlebih di tengah pembantaian dan pengepungan yang terus terjadi.
Pernyataan al-Khalili mencerminkan meningkatnya keresahan di kalangan ulama dan masyarakat Muslim terhadap lemahnya respons dunia internasional, sekaligus menjadi seruan tegas untuk tidak menyerah pada tekanan yang melemahkan perjuangan Palestina.
