Mundur dari Gagasan Gila Soal Gaza, Trump: Saya Hanya Menyarankan, Tidak Memaksa
POROS PERLAWANAN – Dalam wawancara radio dengan Fox News yang dipublikasikan pada Jumat 21 Februari, Presiden AS, Donald Trump mengaku “sedikit terkejut” lantaran Yordania dan Mesir menolak proyeknya untuk menguasai Gaza dan mengusir warga Palestina.
“Proyek saya adalah jalan keluar untuk masalah Gaza. Saya pikir, ini adalah proyek yang benar-benar efektif,” ujar Trump, al-Alam memberitakan.
“Namun saya tidak memaksakan proyek tersebut. Saya hanya menyarankannya dan kemudian AS akan menjadi pemilik kawasan tersebut, Hamas tidak akan ada, bakal ada pembangunan, dan sebuah kawasan bersih serta modern bakal muncul.”
Pada 25 Januari lalu, Trump mengajukan proyek pemindahan paksa warga Gaza ke negara-negara tetangga, seperti Mesir dan Yordania. Wacana ini segera direspons negatif oleh kedua negara, juga negara-negara Arab dan berbagai organisasi regional-internasional. Beberapa waktu kemudian, Washington juga menggulirkan wacana kepemilikan atas Gaza.
Proyek kontroversial ini digulirkan pertama kali oleh Trump dalam jumpa pers dengan Benyamin Netanyahu selaku tamu resmi luar negeri pertamanya usai Pilpres 2024. Ia menekan bahwa warga Palestina harus dipindah dari Gaza. Mesir dan Yordania harus bersedia menampung mereka.
Pada 4 Februari, Trump meneyatakan bahwa AS harus menguasai, mengontrol, dan membangun Gaza yang hancur karena perang, serta “memilikinya dalam jangka waktu panjang.” Statemen ini pun menuai berbagai kecaman global.
Para pengecam menyatakan bahwa dengan menggulirkan wacana tersebut, Trump bukan hanya mendukung pembersihan etniis di Gaza, tapi juga menginjak-injak Piagam PBB dengan mewacanakan kepemilikan atas Gaza.
Sekjen PBB, Antonio Guterres menyatakan bahwa menurut estimasi lembaga internasional tersebut, dibutuhkan lebih dari 53 miliar Dolar untuk merekonstruksi Gaza dan mengakhiri bencana kemanusiaan yang diakibatkan perang. Nominal ini mencakup 20 miliar Dolar biaya rekonstruksi di 3 tahun pertama.
