Loading

Ketik untuk mencari

Amerika Eropa

Runtuhnya Jembatan-jembatan Atlantik: Terbenamnya Barat, Terbitnya Timur

Runtuhnya Jembatan-jembatan Atlantik: Terbenamnya Barat, Terbitnya Timur

POROS PERLAWANAN – Sepanjang sepekan terakhir, hubungan antara dua sisi Samudera Atlantik mengalami perkembangan lebih banyak dari yang diprediksikan sebelum ini.

Dilansir Fars, Presiden Donald Trump dan Pemerintahannya telah membuat sebuah garis baru terkait sikap Washington terhadap Eropa melalui statemen-statemen mereka.

Sepertinya kebijakan-kebijakan baru Washington terpusat kepada upaya mengakhiri perang Ukraina-Rusia, menyerahkan tanggung jawab pembelaan Benua Biru kepada negara-negara Eropa, dan membentuk semacam aliansi transatlantik yang berporos kepada kelompok-kelompok kanan radikal.

Kolomnis Institut Carnegie, Christopher Chivvis dalam artikelnya di Guardian menyatakan bahwa setelah mengkaji hubungan AS-Eropa selama 25 tahun, dirinya mengetahui pandangan-pandangan yang meyakini bahwa era krisis ini akan berakhir dan hubungan kedua belah pihak akan kembali ke puncaknya. Namun, tulis Chivvis, tampaknya kali ini situasi berbeda.

Hal ini akan semakin jelas dengan menelaah statemen-statemen Trump dan para pejabatnya.

Di Konferensi Keamanan Munich, yang tiap tahun selalu diharapkan menjadi penegasan persatuan negara-negara di dua sisi Atlantik, para pejabat AS malah menghujani Eropa dengan kritik-kritik pedas.

Wapres AS, JD Vance dalam konferensi tersebut menyebut para pejabat Uni Eropa dengan ‘Komiser” (merujuk kepada era bersatunya Uni Soviet). Vance menuding mereka telah menyensor warga Eropa dengan dalih memerangi hoaks dan ujaran kebencian.

Statemen ini membuat Kepala Konferensi Keamanan Munich menangis. Dia berkata bahwa tampaknya tak ada lagi “nilai-nilai bersama” antara AS dan Eropa.

Menhan AS, Pete Hegseth di markas NATO di Brussel menegaskan bahwa “prioritas keamanan Washington telah berubah.” Menurutnya, Washington tak lagi menjadikan pembelaan untuk Eropa dan Ukraina sebagai bagian dari kebijakan utamanya.

Sikap ini, yang dipandang oleh Eropa dengan kekhawatiran dan kritik, dipandang oleh para raksasa Asia dengan optimisme.

Analis Institut Carnegie ini menulis, Menlu China, Wang Yi membahas keretakan yang muncul ini dengan “nada tenang dan itikad baik.”

Menlu India, S. Jaishankar bersikap lebih hati-hati. Namun dia juga memandang masalah dengan optimisme.

Chivvis menyatakan bahwa bagi negara-negara ini, runtuhnya Barat hanya satu tanda lain bahwa sisa abad ini akan menjadi milik mereka.

Menurutnya, perkembangan-perkembangan dalam satu pekan terakhir menandakan bahwa “sebuah tatanan baru mulai menampakkan diri.”

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *