Negosiator Top Iran Tiba di Moskow untuk Bicarakan Pencabutan Sanksi AS
POROS PERLAWANAN – Dilansir Press TV, negosiator Iran untuk pembicaraan dengan anggota yang tersisa dari kesepakatan nuklir 2015, Ali Baqeri-Kani telah tiba di Ibu Kota Rusia untuk melanjutkan pembicaraan yang dia mulai di Brussels tentang langkah-langkah menuju pencabutan sanksi tidak sah AS yang dikenakan terhadap Republik Islam.
Setibanya di Moskow pada Kamis malam, Baqeri-Kani mengatakan kepada wartawan bahwa selama kunjungannya ke Moskow, ia akan bertemu dengan mitranya dari Rusia, Sergei Ryabkov, pada putaran baru pembicaraan yang akan diadakan dan bertujuan untuk menghapus sanksi brutal AS terhadap Iran.
“Menurut kesepakatan dengan kelompok negara-negara P4+1 (Rusia, Inggris, Prancis, dan China plus Jerman) pembicaraan bilateral akan diadakan dengan setiap negara ini untuk berbagi pandangan tentang negosiasi, yang bertujuan untuk menghapus sanksi brutal yang dikenakan atas bangsa Iran. Dalam kerangka ini, putaran pertama pembicaraan dengan Rusia akan diadakan atas undangan Ryabkov,” kantor berita resmi Iran, IRNA, mengutipnya.
Kepala negosiator Iran menekankan, “Putaran baru pembicaraan akan diadakan dengan satu-satunya agenda untuk menghapus sanksi brutal dan tidak sah AS terhadap Iran.”
Baqeri-Kani menambahkan bahwa selain pencabutan sanksi, ia akan membahas peningkatan hubungan bilateral dan masalah-masalah lain yang menjadi kepentingan bersama dengan para Wamenlu Rusia.
“Saya percaya bahwa masalah terpenting dalam putaran baru pembicaraan adalah kesiapan pihak yang berlawanan dalam membuat keputusan serius untuk menghapus sanksi brutal dan melanggar hukum,” kata perunding utama Iran itu.
Dia menambahkan bahwa negosiasi penghapusan sanksi AS akan dilanjutkan dengan dihadiri oleh penanda tangan kesepakatan nuklir asal Eropa, yang secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), serta China dan Rusia.
Selama di Moskow, Baqeri-Kani akan bertemu dengan Ryabkov dan Mikhail Bogdanov, keduanya adalah Wakil dari Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov.
Kunjungan Baqeri-Kani ke Moskow terjadi setelah ia membahas penghapusan sanksi Iran dengan Wakil Sekretaris Jenderal Uni Eropa, Enrique Mora di Ibu Kota Belgia, Brussels, pada Rabu.
Setelah pertemuannya dengan Mora, Baqeri-Kani mentweet, “Melakukan dialog yang sangat serius & konstruktif dengan @enriquemora_ tentang elemen penting untuk negosiasi yang sukses. Kami setuju untuk memulai negosiasi sebelum akhir November. Tanggal pastinya akan diumumkan dalam pekan depan.”
Mantan Presiden AS, Donald Trump meninggalkan JCPOA pada Mei 2018 dan memberlakukan kembali sanksi anti-Iran yang telah dicabut kesepakatan itu.
Dia juga menempatkan sanksi tambahan terhadap Iran dengan dalih lain yang tidak terkait dengan kasus nuklir sebagai bagian dari kampanye “Tekanan Maksimum”.
Setelah satu tahun bersabar, Iran menggunakan hak hukumnya sebagaimana diatur dalam Pasal 26 JCPOA, yang memberikan hak kepada salah satu pihak untuk menangguhkan komitmen kontraknya jika terjadi ketidakpatuhan oleh penanda tangan lain dan melepaskan beberapa pembatasan yang diberlakukan pada program energi nuklirnya.
Iran dan pihak-pihak yang tersisa dalam JCPOA telah mengadakan enam putaran pembicaraan di Wina, yang dimulai setelah Pemerintahan AS, Joe Biden menyuarakan kesediaan untuk bergabung kembali dengan perjanjian nuklir, tiga tahun setelah Trump secara sepihak menarik Amerika Serikat dari kesepakatan itu.
Sementara ketidaksepakatan mengenai isu-isu utama tetap ada, para peserta mengambil jeda dari pembicaraan setelah Ebrahim Raeisi muncul sebagai pemenang dalam pemilihan presiden Iran bulan Juni, dan menunggu transisi demokrasi Iran berlangsung untuk melanjutkan pembicaraan.
Cakupan penghapusan sanksi dan keharusan AS untuk menjamin bahwa mereka tidak akan membuang JCPOA lagi adalah di antara masalah utama yang tidak diselesaikan selama Pemerintahan mantan Presiden Iran, Hassan Rouhani.
Dalam beberapa pekan terakhir, ada tekanan yang meningkat terhadap Teheran untuk kembali ke meja perundingan. Pemerintahan Raeisi telah mengumumkan dalam beberapa kesempatan bahwa mereka akan melanjutkan pembicaraan tetapi hanya untuk menghapus semua sanksi ilegal Amerika Serikat dan bahwa mereka tidak akan mengambil bagian dalam negosiasi demi negosiasi.
