Netanyahu ‘Kecanduan Perang’, Pertahankan Kekuasaan di Tengah Krisis Politik
POROS PERLAWANAN – Gelombang kritik tajam mengguncang panggung politik Israel. Perdana Menteri Benyamin Netanyahu kini disebut-sebut semakin terdesak, baik dari dalam negeri maupun tekanan internasional, menyusul eskalasi konflik dengan Iran yang dinilai gagal mencapai tujuan strategis.
Laporan yang dikutip Al Mayadeen dari berbagai media Israel mengungkap posisi politik Netanyahu yang terus merosot. Jajak pendapat terbaru yang dirilis akhir pekan lalu bahkan disebut sebagai “bencana politik” yang mencerminkan keruntuhan basis dukungan publik terhadapnya. Dalam laporan tersebut diungkapkan bahwa koalisi pemerintahan semakin menyusut, kursi di Knesset terancam hilang, sementara dukungan terhadap rival politiknya, Naftali Bennett, justru meningkat signifikan.
Sejumlah pengamat Israel tak segan melontarkan kritik keras. Mereka menyebut kepemimpinan Netanyahu kini berada dalam bayang-bayang “halusinasi politik” yang berbahaya. Dalam salah satu kutipan tajam disebutkan, “Israel saat ini dipimpin oleh sosok yang didorong obsesi untuk bertahan di kekuasaan, bahkan jika harus menyeret negara ke dalam konflik tanpa ujung.” Kritik lain bahkan menuding Netanyahu “kecanduan perang”, menjadikan konflik sebagai alat untuk mempertahankan legitimasi politiknya.
Situasi ini diperparah dengan meningkatnya isolasi internasional terhadap Israel. Laporan tersebut menyoroti gelombang kecaman global yang terus menguat, disertai ancaman potensi tuntutan hukum terkait dugaan kejahatan perang. Di sisi diplomatik, posisi Israel disebut semakin terpojok, dengan hubungan luar negeri yang kian tegang.
Tak hanya itu, Netanyahu juga dituding berperan dalam menyeret Amerika Serikat ke dalam pusaran konflik. Keterlibatan Presiden Donald Trump dalam dinamika tersebut dinilai memperumit situasi politik Washington, baik di dalam negeri maupun di panggung global. “Langkah Netanyahu telah meninggalkan sekutu utamanya dalam posisi yang sulit”, tulis laporan tersebut.
Sementara itu, analisis tajam datang dari kolumnis senior Haaretz, Amir Oren. Dalam laporannya, Oren menegaskan bahwa Israel gagal total mencapai tujuan perang terhadap Iran. Ia merinci tiga kegagalan utama Israel yaitu Pemerintahan Iran tetap bertahan, program nuklir tidak berhasil dihancurkan, dan jalur strategis seperti Selat Hormuz tetap tertutup.
“Semua klaim keberhasilan hanyalah karangan dan alasan”, tulis Oren. Ia menambahkan bahwa bahkan operasi militer intensif tidak menghasilkan dampak signifikan terhadap kekuatan Iran. “Kemenangan tidak diukur dari jumlah kehancuran, melainkan dari tercapainya tujuan strategis, dan itu tidak terjadi”, tegasnya.
Lebih jauh, Oren mengkritik Netanyahu karena mengabaikan “front dalam negeri” Israel. Ia menilai fokus berlebihan pada konfrontasi eksternal justru melemahkan fondasi internal negara. Dalam pandangannya, kekuatan strategis Israel tidak hanya berada di medan perang, tetapi juga dalam stabilitas internal dan dukungan global yang kini semakin tergerus akibat kebijakan konfrontatif.
Di tengah badai kritik dan kemerosotan politik ini menggambarkan satu realitas yang sulit dibantah yaitu kepemimpinan Netanyahu tengah berada di titik rapuh, sementara perang yang digencarkan justru berbalik menjadi beban politik yang mengancam masa depan kekuasaannya sendiri.
