Netanyahu Pecat Menteri Perang Israel yang Dinilainya Gagal Taklukkan Gaza dan Lebanon
POROS PERLAWANAN – Setelah serangkaian kegagalan militer di Gaza dan Lebanon yang tidak mencapai target yang diklaim, Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, secara resmi memecat Menteri Perang, Yoav Gallant. Keputusan ini menandai eskalasi terbaru dalam ketegangan yang terus meningkat di antara para petinggi Israel.
Saluran berita Channel 12 Israel melaporkan pada Selasa malam 5 November, bahwa Netanyahu telah memberhentikan Gallant dari jabatannya.
Netanyahu menjelaskan alasannya dan menyatakan, “Hubungan kepercayaan antara saya dan Gallant telah hancur sepenuhnya, itulah sebabnya saya menunjuk Israel Katz [yang saat ini menjabat Menteri Luar Negeri] sebagai penggantinya.”
Meski demikian, ada perkembangan mengejutkan ketika Gideon Sa’ar, yang dikenal sebagai salah satu tokoh kuat dalam politik Israel, diumumkan sebagai Menteri Luar Negeri baru rezim Zionis.
Sumber internal rezim Israel menunjukkan bahwa perpecahan di Kabinet Netanyahu semakin terlihat jelas. Washington Post baru-baru ini mengungkapkan bahwa Kabinet Netanyahu terpecah tajam, baik secara internal maupun dalam hubungannya dengan Gedung Putih. Laporan tersebut menyoroti bagaimana keputusan Netanyahu untuk membatalkan perjalanan Yoav Gallant ke Washington dianggap sebagai indikasi kuat dari perbedaan mendalam antara kedua politikus yang berasal dari Partai Likud itu.
Menurut mantan Wakil Kepala Dewan Keamanan Dalam Negeri Israel, Chuck Freilich, langkah Netanyahu untuk melemahkan dan mengendalikan Gallant sudah jelas. “Netanyahu ingin memastikan dia tetap menguasai kendali penuh dan tidak memberikan celah bagi Gallant untuk memperkuat posisinya,” kata Freilich.
Gallant sendiri memiliki rekam jejak panjang sebagai anggota Partai Likud, tetapi selama beberapa bulan terakhir, perbedaan sikapnya dengan Netanyahu semakin mencolok.
Perselisihan ini terutama berkaitan dengan strategi militer dalam mengelola konflik yang sedang berlangsung di Gaza. Gallant juga dipandang sebagai ancaman potensial bagi Netanyahu, karena popularitasnya di kalangan anggota partai membuatnya menjadi kandidat serius untuk memimpin Partai Likud di masa depan. Hal ini diperkirakan menjadi salah satu faktor di balik keputusan Netanyahu untuk membatalkan kunjungan Gallant ke Amerika Serikat.
Di sisi lain, Washington Post mencatat bahwa meskipun Gallant jarang mengungkapkan pandangannya tentang kebijakan pertahanan Israel secara eksplisit, ia kerap menantang Netanyahu secara terbuka. Salah satu isu yang menimbulkan ketegangan adalah perbedaan pandangan mengenai respons terhadap ancaman Iran, sebuah topik yang menjadi inti kebijakan luar negeri Israel.
Setelah mendengar kabar pemecatannya, Gallant memberikan pernyataan yang mencerminkan dedikasinya yang kuat, dengan mengatakan: “Keamanan Israel adalah misi hidup saya, dan itu tidak akan pernah berubah.”
Langkah Netanyahu ini disambut dengan pujian dari Menteri Keamanan Dalam Negeri Israel, Itamar Ben Gvir, yang menyatakan, “Dengan pemecatan Gallant, peluang untuk kemenangan akan lebih besar,” dan mengucapkan selamat kepada Netanyahu atas keputusannya.
Namun, reaksi keras juga muncul dari kelompok-kelompok tertentu. Keluarga tahanan Israel mengutuk langkah Netanyahu dan menggelar demonstrasi untuk menunjukkan ketidakpuasan mereka. Mereka menuduh Netanyahu bermain politik dengan isu pertukaran tahanan, dengan tujuan menunda proses negosiasi demi agenda politiknya sendiri. Para keluarga ini menuduh, keputusan Netanyahu hanya akan memperburuk situasi dan merugikan mereka yang sudah lama menunggu kejelasan nasib orang-orang tercinta yang masih ditahan.
Banyak kritikus menilai, pemecatan Gallant memperlihatkan semakin rapuhnya fondasi politik Netanyahu, yang terus menghadapi tantangan, baik dari dalam maupun luar partainya.
