Netanyahu Seret Israel ke Ambang ‘Bencana Terbesar’ di Tengah Retaknya Internal
POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, media Israel mulai membunyikan alarm keras atas arah yang ditempuh pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Harian Maariv dalam laporan terbarunya memperingatkan bahwa kepemimpinan Netanyahu tengah menyeret entitas pendudukan menuju sebuah “bencana terbesar”, sebuah gambaran yang mencerminkan akumulasi krisis di berbagai lini.
Dalam sorotan tajamnya, Maariv menegaskan bahwa ancaman paling serius tidak datang dari luar, melainkan dari dalam tubuh masyarakat Israel sendiri. Retakan sosial yang kian melebar disebut sebagai krisis sentral yang berpotensi mengguncang fondasi eksistensi mereka. Media itu bahkan memperingatkan bahwa perpecahan internal ini dapat berujung pada runtuhnya proyek ideologis yang selama ini dijaga, termasuk gagasan yang dikenal sebagai “Kuil Ketiga”.
Konsep tersebut dikaitkan dengan ambisi kelompok pemukim ekstremis untuk membangun struktur keagamaan di wilayah Al-Quds, tepatnya di kompleks suci Masjid Al-Aqsa. Dalam beberapa waktu terakhir, penyerbuan pemukim ke kawasan tersebut terus meningkat, disertai tindakan kekerasan terhadap jamaah Muslim. Langkah-langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya sistematis untuk mengubah status historis dan religius situs suci itu, sekaligus membentuk ulang identitas kota dengan mengorbankan warisan Islam dan Kristen.
“Apa yang kita lihat di sekitar kita adalah hasil karya Netanyahu, sesuatu yang akan dibanggakan oleh malaikat-malaikat kehancuran,” tulis Maariv, dalam kritik yang secara langsung mengaitkan kebijakan pemerintah dengan memburuknya kondisi sosial internal.
Tak hanya di ranah domestik, posisi strategis Israel juga dilaporkan mengalami kemunduran signifikan. Dalam analisis terpisah, media yang sama menyebut bahwa kondisi Israel kini “lebih buruk dibandingkan sebelum perang di semua front.” Situasi di Gaza dan Lebanon disebut semakin memburuk, mencerminkan kegagalan dalam mencapai target yang telah berulang kali diumumkan oleh pemerintah.
Di tengah konflik yang melibatkan berbagai kawasan, termasuk ketegangan dengan Iran, operasi militer yang dilancarkan dinilai tidak menghasilkan capaian strategis yang signifikan. Sebaliknya, rangkaian konfrontasi tersebut justru memperdalam tekanan internal dan memperlihatkan rapuhnya arah kebijakan.
Gelombang kritik semakin menguat setelah tercapainya sejumlah gencatan senjata. Para analis Israel mulai secara terbuka menyebut perkembangan tersebut sebagai “kegagalan politik besar” yang mencerminkan kebuntuan strategi pemerintah. Di saat yang sama, perubahan dalam opini publik mulai terlihat melalui menurunnya dukungan terhadap blok sayap kanan Netanyahu.
Kondisi ini menunjukkan bahwa ketidakpuasan tidak lagi terbatas pada kalangan tertentu, melainkan telah meluas ke berbagai lapisan masyarakat. Media Israel, yang selama ini kerap menjadi corong narasi resmi, kini justru menjadi cermin dari krisis yang semakin dalam, sebuah realitas yang memperlihatkan bahwa tekanan terhadap kepemimpinan Netanyahu terus meningkat, baik dari luar maupun dari dalam.
