New York Times: Minneapolis dan Gaza Hadapi Pola Kekerasan Serupa
POROS PERLAWANAN — Harian Amerika, The New York Times menyoroti kesamaan pola kekerasan dan penindasan negara yang terjadi di Minneapolis, Amerika Serikat, dan Jalur Gaza. Sorotan tersebut dimuat dalam artikel opini Kolumnis senior, Thomas L. Friedman berjudul “Minneapolis and Gaza Now Share the Same Violent Language”.
Artikel yang terbit pada Minggu 25 Januari itu mengaitkan kekerasan aparat keamanan di Minneapolis dengan serangan Militer Israel di Gaza. Kedua peristiwa tersebut dipandang lahir dari kalkulasi politik Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, yang sama-sama diperkirakan menghadapi kontestasi elektoral pada 2026.
Dalam tulisannya, Friedman menggambarkan dilema moral yang muncul dari dua rangkaian peristiwa itu, mulai dari penembakan terhadap warga sipil dan tenaga medis oleh aparat Federal di Minneapolis, hingga serangan udara Israel yang menewaskan jurnalis Palestina di Gaza saat mereka mendokumentasikan distribusi bantuan kemanusiaan.
Friedman menilai kekerasan di dua wilayah berbeda tersebut mencerminkan kecenderungan para pemimpin memilih jalan pintas berbasis kekuatan, alih-alih kerja politik yang lebih rumit melalui dialog dan negosiasi. Pendekatan represif, tulisnya, kerap dianggap menguntungkan secara elektoral melalui narasi “keamanan” dan “hukum dan ketertiban”.
Artikel itu juga menyoroti praktik aparat Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) yang menggunakan penutup wajah saat operasi di Minneapolis. Menurut Friedman, praktik tersebut menimbulkan pertanyaan serius mengenai akuntabilitas dan transparansi penegakan hukum di dalam negeri Amerika Serikat.
Di Gaza, pola serupa disebut terlihat dari serangan Israel yang menewaskan tiga jurnalis Palestina, termasuk Abdul Raouf Shaath, juru kamera berpengalaman yang pernah bekerja dengan media internasional. Militer Israel, tulis Friedman, mengeluarkan pernyataan standar dengan mengeklaim serangan itu menargetkan “tersangka operator drone Hamas”, tanpa penjelasan rinci.
Friedman menempatkan kekerasan di Gaza dalam konteks politik domestik Israel. Netanyahu disebut berada di bawah tekanan koalisi sayap kanan yang menolak penarikan pasukan dari Wilayah Pendudukan dan mendorong kelanjutan perang, sementara Hamas mempertahankan kendali militernya di lapangan untuk menjaga posisi tawar politik.
Sementara di Amerika Serikat, Friedman menilai Trump melihat kekacauan domestik sebagai modal kampanye menjelang pemilihan paruh waktu, meski jajak pendapat menunjukkan mayoritas publik menolak metode keras ICE. Ia juga mencatat adanya perbedaan pandangan di internal Gedung Putih, termasuk sikap Wakil Presiden J. D. Vance yang menyerukan stabilisasi situasi.
Artikel tersebut ditutup dengan peringatan bahwa masyarakat di Minneapolis, Israel, dan Gaza berpotensi menjadi korban dari kalkulasi politik para elite. Ketika kekuasaan dipertahankan melalui kekacauan, tulis Friedman, harga sosial dan kemanusiaannya akan jauh lebih mahal.
