Pahlawan Sejati Tak Pernah Mati
POROS PERLAWANAN – Ribuan warga dari berbagai latar belakang tumpah ruah di jalanan Beirut, memberikan penghormatan terakhir kepada dua sosok utama Hizbullah Lebanon: Sayyid Hasan Nasrallah dan Sayyid Hasim Safiudin. Prosesi pemakaman ini menjelma menjadi simbol solidaritas nasional yang melampaui sekat-sekat negara, etnis, dan agama—menegaskan posisi Hizbullah sebagai pilar identitas dan perlawanan global.
Poros Perlawanan menghadirkan laporan khusus ini, merangkum momen-momen sarat makna yang disaksikan langsung dari jantung Ibu Kota Lebanon. Laporan ini diadaptasi dari media resmi KHAMENEI.IR, yang secara komprehensif mendokumentasikan prosesi pemakaman bersejarah ini.
Kamis malam, 20 Februari, pesawat Boeing milik maskapai nasional Lebanon mendarat perlahan di Bandara Internasional Beirut. Meluncur dari Teheran, burung besi ini menurunkan ketinggian sambil memutar arah menuju pesisir barat Beirut. Dari balik jendela, kerlip lampu kota perlahan menggantikan gelapnya langit Asia Barat yang lelap. Namun, suasana bandara tak sepenuhnya mencerminkan duka nasional. Larangan penerbangan langsung dari Teheran ke Beirut selama prosesi pemakaman memicu gelombang protes dari para pendukung Perlawanan. Di sekitar area bandara, massa berkumpul, meneriakkan kecaman terhadap keputusan yang dinilai sarat muatan politis.
Meninggalkan ruang imigrasi, setiap pendatang akan melintasi Jalan Raya Imam Khomeini (r.a), poros utama yang menghubungkan bandara dengan pusat kota. Lebih dari sekadar jalur transportasi, jalan ini menjadi simbol ikatan erat antara Lebanon dan Iran. Sepanjang perjalanan, spanduk-spanduk berisi penghormatan kepada dua Syuhada—yang dalam budaya lokal disebut sebagai “Aminin al-Aminin” atau “Penjaga Kepercayaan”—terpampang di kanan-kiri jalan.
Di tiang-tiang bendera, merah-putih-hijau milik Lebanon berkibar berdampingan dengan kuning-hitam bendera Hizbullah, menegaskan peran organisasi ini sebagai benteng identitas nasional di tengah ancaman eksternal.
Stadion utama Beirut yang telah dipersiapkan untuk prosesi pemakaman kini menjelma menjadi lautan manusia. Di bawah gerimis malam yang jatuh perlahan, para anggota Hizbullah bekerja tanpa henti: memasang spanduk, menata panggung, dan mengatur jalur prosesi. Divisi media organisasi ini merancang frasa khusus untuk kedua Syuhada: “Sayyid Syuhada al-Ummah” bagi Sayyid Hasan Nasrallah dan “Sayyid al-Hasimi” bagi Sayyid Hasim Safiudin. Keduanya bukan sekadar ulama Syiah dan pemimpin spiritual, tetapi juga arsitek strategi militer Hizbullah yang berkali-kali menggagalkan upaya infiltrasi Israel.
Sejarah perjuangan ini berawal empat dekade silam, saat Imam Khomeini (r.a) memimpin Revolusi Islam Iran—sebuah gerakan yang menjadi api inspirasi bagi berbagai Kelompok Perlawanan di Asia Barat. Tahun 1982 menjadi titik balik: Tentara Israel dengan mudah merangsek hingga Beirut, meninggalkan gambaran ikonik para prajuritnya yang berdiri di landasan Bandara Beirut. Saat rakyat Iran bertempur melawan invasi Irak di Khorramshahr, embrio Perlawanan Lebanon mulai tumbuh di sekitar bandara Beirut—meski kala itu mereka masih terisolasi dan nyaris tak dikenal.
Empat dekade kemudian, garis pertempuran telah bergeser ke perbatasan selatan Lebanon. Di sepanjang Garis Biru—garis demarkasi yang memisahkan Lebanon dari Palestina yang Diduduki—pasukan Perlawanan kini berhadapan langsung dengan Militer Israel. Namun, perjuangan ini bukan sekadar konflik bersenjata. Akarnya menembus jauh ke masa lampau: sejak Perang Dunia I, ketika kekuatan kolonial seperti Inggris dan Prancis membagi Asia Barat demi mengamankan kepentingan geopolitik mereka. Pembagian wilayah Syam bagian timur yang melahirkan negara Lebanon memberi Prancis pijakan strategis di pesisir Mediterania.
Pasca-Perang Dunia II, pengaruh kekuatan Barat, termasuk Amerika Serikat, kian mencengkeram kawasan ini. Namun, peta kekuasaan mulai bergeser pada akhir abad ke-20, ketika Revolusi Islam Iran menjadi katalisator bagi gelombang perlawanan di Timur Tengah, termasuk kelahiran Hizbullah.
Kini, dua Syuhada yang dikenang—Sayyid Hasan Nasrallah dan Sayyid Hasim Safiudin—adalah bagian dari generasi pertama Perlawanan yang terinspirasi oleh Imam Khomeini. Di masa muda mereka, keyakinan bahwa dominasi asing di Asia Barat dapat dihentikan menjadi suluh perjuangan yang tak kunjung padam. Seratus tahun setelah Perang Dunia I, delapan puluh tahun setelah Perang Dunia II, dan empat dekade setelah Revolusi Islam Iran, perjuangan mereka telah mengubah lanskap geopolitik kawasan ini. Asia Barat—yang selama berabad-abad menjadi medan perebutan kekuasaan asing—kini berdiri dengan kekuatan dan harga dirinya sendiri.
Di penghujung persiapan prosesi pemakaman yang sarat penghormatan dan solidaritas, Lebanon ingin mengirimkan pesan yang bergema melampaui batas-batas geografis: perjuangan kedua Sayyid ini tak akan pernah sirna dari ingatan sejarah. Sebagaimana nama Imam Khomeini tetap hidup dalam sanubari para pengikutnya, jejak perjuangan mereka menjadi bukti bahwa pahlawan sejati tak pernah mati.
