Pakar Israel: Pada 7 Oktober, Hanya dalam Satu Menit Israel Nyaris Runtuh Total
POROS PERLAWANAN — Seorang pakar asal Israel yang meneliti jihad, Zionis, dan politik Islam mengungkapkan bahwa Operasi Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023 telah menempatkan Israel di ambang kehancuran total.
Dalam wawancara dengan podcast News One yang dirilis pada Minggu 26 Oktober, yang dinukil Tasnimnews Agency, pakar jihad dan politik Islam, Ofer Benstock menyebut bahwa serangan Hamas terhadap Israel pada hari itu “membawa negara ini hanya satu menit dari keruntuhan total”. Ia menambahkan bahwa perang antara Israel dan Palestina belum berakhir, dan bahkan belum memasuki tahap stabilisasi.
Menurut Benstock, Badai Al-Aqsa bukan sekadar operasi militer, melainkan guncangan strategis terbesar terhadap Israel sejak berdirinya “negara” tersebut. Ia menilai bahwa perang ini memiliki dimensi religius bagi rakyat Palestina, bukan semata konflik politik.
“Bagi Palestina, ini bukan perang biasa, ini kewajiban agama. Selama dimensi itu tetap hidup, perang tidak akan pernah benar-benar berakhir,” ujarnya.
Benstock juga membahas rencana perdamaian yang digagas Presiden AS, Donald Trump untuk Gaza. Ia meragukan efektivitasnya, meski telah memperoleh dukungan dari delapan pemimpin negara Arab dan Islam. Menurutnya, rencana itu tidak menyentuh akar persoalan sebenarnya, yakni perlawanan yang berakar pada identitas dan keyakinan.
Lebih lanjut, ia menilai bahwa Hamas tidak dapat mencapai tujuan strategisnya seorang diri.
“Upaya untuk menghancurkan Israel tidak akan berhasil tanpa dukungan kekuatan regional,” katanya. “Tanpa Hizbullah, partisipasi warga Palestina di Tepi Barat, komunitas Arab 1948, dan dukungan Iran, mustahil mengubah keseimbangan kekuatan di Kawasan.”
Pernyataan ini menjadi cerminan dari kecemasan mendalam di kalangan pengamat dan elite Militer Israel.
Serangan 7 Oktober bukan hanya mengguncang sistem keamanan, melainkan juga kepercayaan diri strategis Rezim Zionis. Fakta bahwa seorang pakar Israel mengakui negara itu sempat “hanya satu menit dari kehancuran” menegaskan besarnya dampak psikologis dan politik dari operasi tersebut.
Lebih dari setahun setelah peristiwa itu, Israel masih berjuang mengembalikan citra dan rasa aman nasionalnya. Sementara itu, Hamas dan Kelompok Perlawanan lain terus menegaskan bahwa pertempuran belum berakhir, dan bahwa 7 Oktober hanyalah awal dari babak baru perimbangan kekuatan di Kawasan.
