Pakar Timur Tengah Soroti Perhitungan Trump dan Keselarasan Tujuan AS–Israel Hadapi Iran
POROS PERLAWANAN — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran kembali menjadi pusat perhatian Asia Barat. Di tengah kekhawatiran pemerintah regional atas potensi eskalasi perang baru, Kelompok-kelompok Perlawanan memperingatkan risiko langkah gegabah dari Washington. Para analis pun menilai konfrontasi ini bukan sekadar adu urat saraf, melainkan bagian dari strategi geopolitik yang lebih luas.
Presiden AS, Donald Trump terus mendorong kebijakan “Tekanan Maksimum” terhadap Iran. Ia mengandalkan demonstrasi kekuatan militer, termasuk pengerahan armada dan latihan di kawasan Teluk Persia. Namun, sejumlah pengamat melihat Washington juga menyimpan keraguan untuk benar-benar masuk ke skenario perang terbuka, mengingat konsekuensi militer dan politik yang bisa berbalik menghantam kepentingan Amerika sendiri.
Dalam situasi tersebut, suara Perlawanan regional menguat. Sejumlah pemimpin Perlawanan Lebanon menegaskan Iran tidak sendirian. Dari Yaman, pernyataan yang senada muncul dengan klaim bahwa kapal-kapal Amerika berada dalam jangkauan pemantauan mereka. Gelombang respons ini menandai satu pesan: bila konfrontasi naik level, efeknya berpotensi menyebar ke seluruh Kawasan.
Pada saat yang sama, beberapa Pemerintah regional menyampaikan kekhawatiran dan penolakan terhadap aksi militer terhadap Iran. Mereka mendorong jalur konsultasi, diplomasi, serta mediasi guna mencegah benturan langsung Teheran vs Washington.
Di tengah dinamika itu, Kantor Berita Iran, IRNA pada Kamis 29 Januari mewawancarai sejumlah pakar geopolitik untuk membaca arah kebijakan AS serta tujuan yang bertaut antara Washington dan Tel Aviv.
Pakar urusan Timur Tengah, Jafar Qanadbashi menilai situasi saat ini telah melewati tahap negosiasi. Menurutnya, Amerika mengarah pada upaya memberi “pukulan telak” terhadap Iran, namun langkah tersebut justru menjadi kesalahan strategis. Ia menyebut Washington selama puluhan tahun mencoba melemahkan Republik Islam melalui berbagai jalur politik, propaganda global, dan tekanan ekonomi, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan.
Qanadbashi menilai bahwa alih-alih mengisolasi Iran, tekanan itu malah mendorong simpati lebih luas. Ia menyebut dunia kini bergerak menuju konfigurasi baru, tidak lagi sepenuhnya unipolar. Dalam fase transisi tersebut, ancaman militer AS terhadap Iran bisa memperkuat posisi Teheran sebagai simbol perlawanan terhadap hegemoni.
Ia juga menilai Washington memahami Iran memiliki kemampuan militer dan daya tahan politik yang besar. Karena itu, setelah jalur ekonomi dan propaganda tidak mematahkan Iran, opsi militer kembali muncul sebagai alat tekanan. Namun, Qanadbashi mengingatkan bahwa jika AS memilih jalan perang, Washington akan menghadapi dua risiko besar sekaligus: pukulan balasan di medan militer dan meningkatnya posisi Iran sebagai kutub penting dalam arena global.
Sementara itu, analis regional Mohammad Saleh Sedgian mengkritik pendekatan Trump yang dinilainya mencampuri urusan internal negara lain. Menurutnya, sikap semacam ini berbahaya karena bisa menjadi preseden jika komunitas internasional hanya memberikan reaksi formal tanpa tindakan tegas.
Sedgian juga menyoroti kalkulasi Trump terhadap situasi domestik Iran. Ia menyebut Washington salah membaca realitas internal, merujuk pada mobilisasi massa pada 12 Januari di Teheran dan kota-kota lain yang menampilkan dukungan publik kepada Republik Islam serta penolakan terhadap aksi teror. Menurutnya, peristiwa itu menjadi sinyal kuat bahwa tekanan eksternal tidak otomatis melemahkan legitimasi internal Iran.
Dalam konteks internasional, Qanadbashi memperkirakan Rusia dan China tidak ingin Amerika berhasil menghadapi Iran. Menurutnya, kemenangan Washington dalam kasus Iran dapat memperbesar ruang intervensi AS terhadap Beijing dan Moskow. Karena itu, kedua negara diperkirakan akan memakai instrumen diplomatik, intelijen, hingga dukungan teknologi untuk menahan eskalasi dan mencegah benturan langsung.
Di level regional, ia menilai negara-negara seperti Arab Saudi dan Turki berada dalam posisi rapuh. Mereka cenderung menampilkan sikap netral di ruang publik, namun tetap mengkhawatirkan dampak perang terhadap stabilitas Kawasan dan keamanan energi dunia. Sedgian menilai bahwa bagi banyak aktor regional, perang baru hanya akan membuka pintu kekacauan dan konflik panjang.
Berkenaan dengan keselarasan tujuan AS dan Israel, Sedgian menilai agenda Trump tidak sepenuhnya sama dengan Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu. Netanyahu disebut menginginkan runtuhnya Republik Islam dan melemahnya Iran sebagai negara, sementara Trump lebih fokus pada tekanan untuk meningkatkan posisi tawar dalam negosiasi. Di tengah perbedaan agenda itu, negara seperti Oman disebut berupaya mengambil peran mediasi.
Pada akhirnya, para analis menilai ancaman perang tidak otomatis berujung serangan langsung. Namun, tensi tinggi tetap berbahaya karena satu insiden kecil dapat memicu eskalasi luas. Dalam situasi ini, respons rakyat Iran, konsolidasi internal, dan penguatan kemampuan pertahanan disebut para pengamat sebagai faktor utama yang membentuk perhitungan Washington.
