Panglima IRGC: Garda Revolusi Iran Siap Perkuat Hubungan Strategis dengan Angkatan Bersenjata Yaman
POROS PERLAWANAN — Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan kesiapan penuh untuk memperkuat hubungan strategis dengan Angkatan Bersenjata Yaman dalam menghadapi apa yang disebut sebagai “arogansi global dan Zionisme internasional”.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Panglima Pasukan Darat IRGC, Mayor Jenderal Mohammad Pakpour, dalam sebuah pesan resmi yang ditujukan kepada Kepala Staf Angkatan Bersenjata Yaman, Brigadir Jenderal Yousef Hassan Al-Madani, yang baru diangkat.
Menurut laporan Mehr News Agency, pada Senin 20 Oktober, Jenderal Pakpour menegaskan bahwa IRGC siap memperdalam kerja sama militer dan ideologis dengan Yaman sebagai bagian dari Poros Perlawanan regional yang menentang dominasi Barat dan Israel di Kawasan.
“Korps Garda Revolusi Islam, seraya memperbarui komitmennya terhadap cita-cita luhur para syuhada Front Perlawanan dan Pembebasan Quds, menyatakan kesiapan penuhnya untuk memperkuat hubungan berbasis agama dan strategis dengan Angkatan Bersenjata Yaman dalam menghadapi arogansi global dan Zionisme internasional”, tulis Pakpour dalam pesannya.
Dukungan terhadap Front Perlawanan dan Perjuangan Palestina
Dalam suratnya, Pakpour juga memuji “jihad abadi” rakyat Yaman yang telah mempertahankan kehormatan dan kedaulatan negaranya di tengah agresi berkelanjutan. Ia menyebut perjuangan Yaman sebagai “kisah epik dalam sejarah Perlawanan Islam” dan menegaskan bahwa semangat perlawanan tersebut turut memperkuat barisan umat Islam dalam membela rakyat Palestina dan Gaza.
“Kesyahidan para pejuang Yaman akan semakin menguatkan tekad bangsa yang heroik dalam menghadapi musuh bebuyutan umat Islam, serta dalam melanjutkan perjuangan membela kaum tertindas, khususnya rakyat Palestina dan Gaza”, tulisnya.
Pakpour juga menyampaikan ucapan selamat atas pengangkatan Al-Madani sebagai Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Yaman, menggantikan posisi Syahid Al-Ghammari yang gugur dalam tugas. Ia menyebut Al-Madani sebagai “panglima terkemuka dan pejuang tanpa tanda jasa dari Perlawanan Islam” yang diharapkan mampu melanjutkan visi strategis Front Perlawanan di Kawasan.
“Kehadiran Yang Mulia akan menjanjikan kelanjutan jalan mulia Syahid Al-Ghammari dan penguatan Front Perlawanan melawan musuh-musuh bangsa Islam”, tulisnya lagi.
Konteks Regional: Konsolidasi Poros Perlawanan
Pesan Pakpour muncul di tengah meningkatnya intensitas serangan Israel terhadap Lebanon dan Gaza, serta meningkatnya koordinasi politik dan militer antara Iran, Hizbullah, dan Ansharullah (Houthi) di Yaman. Pernyataan ini juga mencerminkan penegasan posisi Iran sebagai tulang punggung Poros Perlawanan regional, terutama setelah meningkatnya tekanan diplomatik dari Amerika Serikat dan sekutunya di Teluk.
Hubungan antara Teheran dan Sanaa telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, diwarnai dengan dukungan logistik dan pelatihan militer kepada Kelompok Perlawanan Yaman, yang oleh Barat disebut sebagai proksi Iran.
Dengan pernyataan terbaru ini, IRGC tampaknya ingin menegaskan kembali komitmen strategisnya terhadap Yaman, baik sebagai sekutu ideologis maupun sebagai bagian dari perimbangan kekuatan baru di Timur Tengah yang semakin menantang hegemoni Washington dan Tel Aviv.
