Pantaskah Hamas Dicap ‘Bersalah’ karena Tidak Berterima Kasih kepada Pemerintah Arab?
POROS PERLAWANAN – Abdul Bari Atwan dalam tulisannya di situs Rai al-Youm pada 22 Januari, membahas kritik yang dialamatkan kepada dua Pemimpin Hamas, Dr. Khalil al-Hayya dan Abu Ubaidah. Keduanya dianggap tidak menyampaikan rasa terima kasih kepada Pemerintah Arab atas “dukungan” mereka selama perang di Gaza. Dalam analisisnya, Atwan juga menyoroti kampanye media yang menyerang kedua Pemimpin tersebut. Abdul Bari Atwan dalam tulisannya, menawarkan analisis mendalam terkait dinamika politik regional, hubungan Israel dengan Pemerintah Arab, serta posisi Hamas dalam konflik Israel-Palestina.
Konteks Politik dan Latar Belakang
Artikel Atwan muncul dalam konteks pasca-perang Gaza, di mana Israel melancarkan serangan besar-besaran yang disebut sebagai “Perang Genosida” terhadap Gaza. Dalam konflik ini, Hamas dan kelompok Perlawanan lainnya menunjukkan ketahanan luar biasa, yang oleh banyak pihak dianggap sebagai kemenangan simbolis melawan kekuatan Militer Israel yang jauh lebih superior.
Namun, setelah gencatan senjata yang terjadi pada Minggu 19 Januari, Hamas mendapat kritik karena dianggap tidak mengakui peran Pemerintah Arab dalam mendukung perjuangan mereka. Menurut Atwan, kritik ini tidak berdasar. Sebaliknya, ia berpendapat bahwa Pemerintah Arab justru seharusnya berterima kasih kepada Hamas karena tidak mengungkap keterlibatan mereka yang diam-diam mendukung Israel. Ia juga mengutip buku “The War” karya Bob Woodward, yang mengungkap bahwa beberapa rezim Arab justru meminta Amerika Serikat dan Israel untuk menghancurkan Hamas.
Sikap Pemerintah Arab
Atwan secara tegas mengkritik kebijakan Pemerintah Arab selama perang Gaza. Beberapa poin utama kritiknya meliputi:
1. Diam terhadap Pembantaian
Sebagian besar Pemerintah Arab memilih bungkam terhadap agresi Israel di Gaza, bahkan beberapa di antaranya diduga bersekongkol dengan Israel.
2. Minimnya Dukungan Nyata
Tidak ada dukungan militer, materiil, atau diplomatik yang signifikan dari Pemerintah Arab untuk Hamas atau rakyat Gaza.
3. Penahanan Kader Hamas
Beberapa negara Arab justru menahan anggota Hamas sebagai upaya untuk meraih dukungan dari Amerika Serikat dan Israel.
Kemandirian Hamas sebagai Kekuatan
Atwan menyoroti bahwa kemandirian Hamas dalam mengambil keputusan dan menjalankan perjuangannya menjadi faktor utama keberhasilan kelompok ini. Hamas tidak bergantung pada dukungan Pemerintah Arab yang kerap bersekongkol dengan musuh mereka. Atwan kemudian membandingkan Hamas dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), yang menurutnya telah kehilangan legitimasi karena terlalu bergantung pada dukungan luar.
Pidato Abu Ubaidah dan Pesan kepada Dunia
Dalam pidato beberapa jam setelah gencatan senjata, Juru Bicara Militer Hamas, Abu Ubaidah, secara khusus menyampaikan rasa terima kasih kepada rakyat Yaman, Hizbullah, Iran, Kelompok Perlawanan Irak, serta rakyat Lebanon dan Yordania. Hal yang secara jelas menunjukkan bahwa Hamas lebih menghargai dukungan dari rakyat biasa dan kelompok-kelompok Perlawanan dibandingkan dengan Pemerintah Arab yang sering kali hanya memberikan dukungan simbolis atau bahkan bersekongkol dengan Israel.
Kritik terhadap Pemerintah Arab
Dalam tulisannya, Atwan memberikan kritik tajam terhadap Pemerintah Arab yang dinilainya akan tercatat dalam sejarah dengan penuh aib. Beberapa poin penting yang disorot Atwan meliputi:
1. Normalisasi Hubungan dengan Israel
Banyak Pemerintah Arab yang memilih untuk menormalisasi hubungan dengan Israel, alih-alih menunjukkan dukungan nyata bagi Palestina.
2. Ketergantungan pada Amerika Serikat
Kebijakan luar negeri negara-negara Arab lebih berorientasi pada menjaga hubungan baik dengan Amerika Serikat dibandingkan membela hak rakyat Palestina.
3. Kegagalan Moral
Pemerintah Arab dinilai gagal dalam menjalankan tanggung jawab moral mereka terhadap saudara-saudara mereka di Gaza.
Harapan untuk Masa Depan
Atwan mengakhiri tulisannya dengan pesan optimistis tentang masa depan perjuangan Palestina. Ia menegaskan bahwa Perlawanan rakyat Palestina akan terus berlanjut menuju kemenangan, meskipun banyak Pemerintah Arab telah gagal dalam ujian moral dan politik mereka.
Artikel Atwan juga merupakan kritik tajam terhadap sikap Pemerintah Arab selama perang Gaza serta pembelaan terhadap Hamas atas kemandirian dan ketahanan mereka.
Atwan dengan jelas mengungkap dinamika politik yang kompleks di balik konflik Israel-Palestina serta menegaskan pentingnya kemandirian dan keteguhan prinsip dalam menghadapi penjajahan dan ketidakadilan.
Meskipun terdapat beberapa negara Arab yang diam-diam mendukung Hamas, Atwan menekankan bahwa Hamas lebih menghargai dukungan dari rakyat dan Kelompok-kelompok Perlawanan daripada pemerintah yang tidak konsisten dalam sikap mereka terhadap Palestina. [PP/MT]
