Pemimpin Tertinggi Republik Islam: Seni, Sarana Efektif Wariskan Semangat Syuhada kepada Masyarakat
POROS PERLAWANAN – Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatullah Ali Khamenei menegaskan bahwa seni merupakan alat yang efektif dalam menyampaikan semangat perjuangan dan nilai-nilai para Syuhada kepada masyarakat. Hal ini disampaikannya dalam pertemuan dengan panitia Kongres Nasional Peringatan 1.880 Syuhada Kashan yang digelar di Kota Kashan pada Kamis malam 23 Januari.
Kashan: Kota dengan Warisan Sejarah dan Perjuangan
Dalam sambutannya, Ayatullah Khamenei menyebut Kashan sebagai kota yang memiliki warisan sejarah dan budaya yang kaya. “Kashan adalah tempat lahirnya ulama, penyair, ahli fikih, matematikawan, pejuang, dan seniman. Bahkan karpet yang ditenun di sini memiliki nilai seni tinggi, meskipun kerap dianggap remeh,” ujarnya.
Ia juga menyoroti peran penting Kashan dalam sejarah perjuangan melawan penjajahan, dengan menyebut tokoh-tokoh seperti almarhum Ayatullah Kashani dan ayahnya, Asyid Mustafa Kashani. “Mereka berjuang dengan keberanian luar biasa melawan penjajah Inggris. Imam Khomeini r.a. bahkan pernah berkata, ‘Saya belum pernah melihat siapa pun yang setangguh Ayatullah Kashani’,” ungkapnya.
Menjaga dan Menyampaikan Nilai-Nilai Perjuangan
Dalam bagian pidatonya, Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa nilai perjuangan para Syuhada tidak hanya terletak pada pengorbanan jiwa di medan perang. Ia menekankan bahwa dalam situasi genting, banyak orang, terutama yang berjiwa besar, rela berkorban demi agama, Tanah Air, dan kehormatan bangsa.
“Selain keberanian di medan perang, para Syuhada juga menunjukkan akhlak dan perilaku mulia yang patut dicontoh dan disampaikan kepada generasi mendatang,” ujarnya sembari mencontohkan semangat pengorbanan, seperti seorang prajurit yang dengan ikhlas memberikan sesuatu yang berharga kepada rekannya di saat dibutuhkan.
Lebih lanjut, Ayatullah Khamenei menyoroti aspek spiritualitas para Syuhada, seperti kesungguhan mereka dalam beribadah dan berdoa dengan penuh ketundukan kepada Allah, yang bahkan sulit dicapai oleh orang-orang seusia mereka. Ia juga menekankan pentingnya menjaga slogan-slogan suci Revolusi Islam, sebagaimana pesan seorang Syuhada kepada putrinya untuk mengajarkan nilai-nilai Revolusi kepada anak-anaknya.
Menurutnya, pelestarian nilai-nilai ini tidak cukup hanya dengan menamai jalan atau gedung dengan nama para Syuhada. “Seni adalah media yang paling efektif untuk merekam dan menyampaikan pesan ini,” tegasnya.
Seni sebagai Wahana Penyampaian Semangat Syuhada
Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa seni memiliki peran vital dalam merefleksikan nilai-nilai luhur perjuangan. Film, puisi, atau lukisan dapat menjadi sarana untuk menggambarkan pengorbanan, ketundukan kepada Allah, serta semangat juang yang tinggi.
“Kita sering berbicara tentang takwa, pengorbanan, dan istighfar, tetapi kata-kata saja tidak cukup. Tindakan nyata dari para Syuhada inilah yang harus kita tampilkan melalui seni,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya menggambarkan keteguhan hati para ibu Syuhada dalam karya seni. “Membesarkan seorang anak hingga dewasa, lalu mengikhlaskannya di jalan Allah bukanlah hal yang mudah. Kesabaran, rasa syukur, dan ketahanan mereka dalam menghadapi ujian besar ini harus disampaikan kepada masyarakat sebagai pelajaran berharga,” jelasnya.
Menurut Ayatullah Khamenei, semua nilai perjuangan tersebut hanya dapat direkam dan diwariskan secara efektif melalui karya seni yang autentik dan mendalam.
Pemimpin Tertinggi menutup bagian ini dengan menekankan pentingnya melestarikan dan menyampaikan nilai-nilai para Syuhada. “Ini bukan hanya tentang mengenang mereka, melainkan juga tentang mengambil pelajaran dari kehidupan mereka. Semangat mereka harus menjadi inspirasi bagi kita semua,” ujarnya.
Dengan demikian, Ayatullah Khamenei mengajak semua pihak, terutama seniman dan budayawan, untuk terlibat aktif dalam menciptakan karya yang mampu menyampaikan semangat dan nilai-nilai para Syuhada kepada masyarakat luas.
