Para Ahli Eropa: Kekuatan Iran Membuat Petualangan AS Jadi Mahal
POROS PERLAWANAN — Sejumlah analis di Eropa menilai pengalaman “perang 12 hari” serta kemampuan pencegahan Iran membuat opsi konfrontasi militer Amerika Serikat dan Israel semakin mahal dan berisiko. Mereka memperingatkan setiap petualangan baru dapat memicu konsekuensi keamanan regional yang sulit dikendalikan.
Laporan itu disampaikan dalam rangkaian wawancara dengan IRNA pada Minggu (1/2/2026), melibatkan peneliti anti-perang Inggris Steve Bell, mantan anggota parlemen Inggris Chris Williamson, serta mantan diplomat dan eks anggota intelijen Inggris Alastair Crook.
Steve Bell: kemampuan respons Iran membatasi kalkulasi perang lawan
Steve Bell, peneliti Inggris dan anggota senior Koalisi Anti-Perang, menilai perang 12 hari menunjukkan Iran mampu merespons secara efektif dan terorganisir. Menurut Bell, kemampuan ini membatasi ruang gerak pihak lain dalam mempertimbangkan perang.
Bell menyoroti ketahanan Iran setelah serangan awal, termasuk kemampuan mengatur ulang kekuatan dan memberi pukulan balasan terhadap fasilitas Israel. Situasi tersebut, menurutnya, memaksa Washington lebih berhati-hati.
Bell juga menyebut kerentanan sistem pertahanan Israel saat menghadapi serangan balik menjadi kejutan besar bagi pemerintah dan publik Israel yang selama ini terbiasa dengan anggapan “kebal”.
Dalam penilaiannya, pengalaman itu memperkuat kesimpulan bahwa Israel rentan, sementara pangkalan dan fasilitas AS di kawasan juga berpotensi menjadi sasaran jika konfrontasi meluas.
Bell menambahkan pertimbangan domestik di AS ikut menjadi faktor penghambat. Mengutip jajak pendapat Universitas Quinnipiac, Bell mengatakan sekitar 70 persen warga AS menentang aksi militer terhadap Iran, sedangkan dukungan hanya 18 persen. Dalam kondisi seperti itu, keputusan perang baru dinilai berisiko tinggi bagi kepentingan politik Washington.
Chris Williamson: Iran bukan lawan mudah, kapal induk rentan
Mantan anggota parlemen Inggris, Chris Williamson, menilai Iran bukan lawan yang mudah. Menurutnya, Washington dan Tel Aviv memahami konsekuensi berat dari konfrontasi langsung, sehingga opsi tindakan militer makin mahal.
Williamson juga menyinggung kerentanan aset militer AS di kawasan, termasuk kapal induk dan kapal-kapal pendamping. Menurutnya, armada seperti itu bisa menjadi target rudal Iran jika eskalasi terjadi.
Williamson memperingatkan dampak konflik baru berpotensi luas, termasuk menimbulkan bencana kawasan dan mengguncang stabilitas ekonomi.
Ia menyebut pengalaman perang 12 hari mengungkap kapasitas pembalasan Iran, dan jika konfrontasi terulang, tingkat kerusakan serta biaya konflik dapat meningkat.
Alastair Crook: petualangan Trump bisa jadi bunuh diri politik
Mantan diplomat dan eks anggota intelijen Inggris Alastair Crook menilai petualangan militer Washington di kawasan akan menjadi bumerang politik. Menurutnya, langkah seperti itu dapat merugikan pemerintahan Presiden Donald Trump, terutama menjelang pemilu paruh waktu.
Crook juga mengklaim Israel berada dalam posisi sangat tertekan selama perang 12 hari. Ia menyebut Israel meminta gencatan senjata setelah menerima pukulan berat.
Kesimpulan para narasumber: pencegahan Iran bukan slogan
Meski disampaikan dengan sudut pandang berbeda, ketiga narasumber membawa kesimpulan serupa: kekuatan respons dan pencegahan Iran mengubah kalkulasi biaya dan risiko bagi AS dan Israel.
Menurut rangkaian pandangan tersebut, konflik militer bukan opsi yang cepat dan murah. Eskalasi berpotensi memicu rangkaian dampak keamanan regional yang bisa berkembang di luar kendali pihak yang memulainya.
Para analis menilai pencegahan bukan sekadar konsep, melainkan hasil dari kemampuan respons efektif, ketahanan pemulihan pasca serangan, serta peluang untuk menargetkan kepentingan lawan di kawasan.
