Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Washington Post: Serangan Mendatang Iran Bakal Mematikan bagi para Serdadu AS

Washington Post: Serangan Mendatang Iran Bakal Mematikan bagi para Serdadu AS

POROS PERLAWANAN – Di saat Pemerintahan Trump telah meningkatkan kehadiran personel militer AS di Timur Tengah, dua pejabat Barat menyatakan bahwa negara-negara anggota Dewan Kerjasama Teluk (GCC) telah memperingatkan pejabat AS bahwa program rudal Iran mampu menimbulkan kerusakan signifikan terhadap kepentingan Washington di Kawasan.

Dikutip Fars dari Washington Post, berdasarkan penilaian yang disusun oleh salah satu sekutu AS di Teluk, meski mengalami kerugian dalam Perang 12 Hari, elemen kunci program rudal Iran tetap utuh dan kemampuan lainnya telah dibangun kembali.

Kemampuan Iran untuk melakukan serangan balasan yang efektif telah menjadi faktor kunci dalam pengambilan keputusan Pemerintahan Trump saat menempatkan pasukan di sekitar Republik Islam Iran.

Trump awalnya mengeklaim bahwa ia mempertimbangkan tindakan militer untuk mendukung protes di Iran, tetapi ia kemudian mengubah sikapnya dan menyeru Iran untuk kembali ke negosiasi nuklir. Padahal Trump sendiri telah menarik AS dari Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) 2015 selama masa jabatannya yang pertama.

Menurut surat kabar tersebut, seorang diplomat Iran menekankan bahwa Tehran siap untuk berunding dengan hormat, tetapi tidak akan terlibat dalam negosiasi di bawah ancaman militer AS.

AS sebelumnya telah berkolaborasi dengan Rezim Israel dalam serangan selama 12 hari yang menargetkan fasilitas nuklir Iran. Setelah serangan AS pada Juni, Tehran membalas dengan serangan rudal terhadap Pangkalan Udara al-Udeid milik AS di Qatar.

Menurut Washington Post, Iran telah memberi sinyal kepada sekutu AS di Kawasan bahwa mereka mampu melakukan serangan mematikan di Teluk Persia. Namun kali ini, berbeda dengan di al-Udeid, serangan semacam itu tidak akan dibatasi dan dikendalikan.

Menurut penilaian dari sekutu AS di Teluk, Iran telah mempertahankan amunisi jarak pendeknya, platform peluncuran, dan kemampuan produksi misilnya. Amunisi ini dapat menargetkan aset-aset AS di Teluk Persia, termasuk lebih dari sepuluh pangkalan militer dan puluhan ribu personel militer.

Mantan diplomat Iran, Amir Mousavi menjelaskan bahwa sejak Perang 12 Hari, Tehran telah menggandakan produksi misilnya dan membuat kemajuan signifikan dalam memperbaiki peluncur yang rusak. Selain itu, Iran telah memindahkan beberapa peluncur ke daerah pegunungan di negara tersebut, yang lebih sulit untuk ditargetkan.

“Iran memiliki pegunungan dengan ketinggian ribuan meter. Mengakses dan merusak fasilitas ini tidaklah mudah,” kata Mousavi.

Beberapa negara di pesisir Teluk telah mengambil langkah demi menjauhkan diri dari upaya Washington untuk meningkatkan kehadiran militer AS di wilayah tersebut. Uni Emirat Arab dan Arab Saudi telah mengumumkan bahwa pasukan AS tidak akan menggunakan wilayah atau ruang udaranya dalam operasi apa pun.

Menurut seorang mantan pejabat Departemen Pertahanan AS dan instruktur di Marshall Tyre Institute, Iran memiliki program rudal terbesar di Kawasan. Ia menekankan, kemampuan rudal Iran lebih kuat daripada kemampuan pertahanan negara-negara di Kawasan.

Selain itu, pakar tersebut mengatakan bahwa sistem pertahanan udara negara-negara selatan Teluk Persia tersebar di area yang luas dan tidak sepenuhnya terintegrasi antar negara. Menurutnya, pertahanan ini terutama difokuskan pada perlindungan sejumlah target spesifik yang terbatas dan dapat kewalahan oleh serangan yang lebih luas.

Menurut Washington Post, analisis program rudal Iran mengonfirmasi penilaian Pemerintah tentang kemampuannya. Seorang peneliti di International Institute for Strategic Studies, merujuk pada perang 12 hari antara Iran dan Israel-AS, mengatakan, “Arsenal rudal jarak pendek, dan khususnya arsenal anti-kapal (Iran), pasti tetap utuh.”

Pakar tersebut menambahkan bahwa gambar satelit menunjukkan Iran telah mulai memperbaiki beberapa kerusakan yang ditimbulkan pada pabrik-pabrik dan basis produksi misilnya.

Sebelumnya, surat kabar AS, Wall Street Journal, mengutip pejabat di negara tersebut, melaporkan bahwa meskipun dalam beberapa hari terakhir Presiden AS mengumbar retorika tentang mengirim armada besar ke wilayah tersebut dan ancaman militer terhadap Iran, Militer AS siap melakukan serangan terbatas di Iran, tetapi bukan “serangan menentukan” yang diinginkan Trump, dan serangan itu pun tidak diharapkan untuk dilancarkan dalam waktu dekat.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *