Pemimpin Ansharullah: Umat Islam Wajib Tolak Perimbangan ‘Agresi Tanpa Respons’ yang Dikehendaki Musuh
POROS PERLAWANAN– Dalam pidato mingguan pada Kamis 31 Oktober, Pemimpin Ansharullah, Sayyid Abdulmalik Badrudin al-Houthi menyatakan bahwa dalam pekan ini saja, Rezim Zionis telah melakukan 25 pembantaian hingga menewaskan dan melukai lebih dari 1.400 orang.
“Salah satu kejahatan mengerikan yang dilakukan Israel adalah serangan ke Bet Lahiya. Mereka menargetkan sebuah gedung besar bertingkat lima dan menyerang semua wanita serta anak-anak di dalamnya,” kata al-Houthi, diberitakan al-Alam.
Sehubungan dengan agresi Israel ke Iran, al-Houthi mengatakan,”Tanpa melihat skala (minim) kerugian yang diakibatkan agresi Israel, itu adalah pelanggaran kedaulatan dan serangan ke teritori Iran.”
“Dengan menyerang teritori negara lain, Israel dengan dukungan AS berusaha memaksakan perimbangan ‘agresi tanpa respons’ terhadap bangsa kita.”
“Perimbangan tanpa respons berarti bahwa Israel bisa menargetkan negara Muslim mana pun dan negara itu tidak berhak membalas. Menerima perimbangan semacam ini sama saja dengan menerima penodaan dan penghinaan.”
“AS meminta dari Iran agar jangan membalas agresi, pelanggaran kdaulatan, dan tumpahnya darah (4 tentara Iran). Dengan sikap serupa, Barat juga mendesak Iran agar tidak membalas. Inilah yang diminta mereka dari seluruh negara-negara Kawasan.”
“Perimbangan agresi tanpa respons sangat membahayakan Umat Islam. Tidak boleh ada negara Muslim, Arab, dan merdeka mana pun di dunia yang menerimanya.”
“Cara pandang AS kepada negara-negara Arab mengharuskan mereka membuka pintu untuk Israel. Tak ada pengecualian untuk negara Arab mana pun. AS bergerak dalam sebuah proyek, program, dan tujuan yang sama dengan Israel.”
“Persenjataan yang digunakan Isarel dalam agresi dan kejahatanya berasal dari AS. AS bukan hanya memberikan bom dan rudal kepada Israel, tapi juga membuatkan bom-bom besar untuk menghancurkan kota dan membunuh warga sipil.”
“Laporan-laporan dari Israel sendiri menyatakan, 75 persen amunisinya selama setahun ini diperoleh dari AS,” tandas al-Houthi.
Pemimpin Ansharullah mengumumkan, pekan ini Yaman melancarkan operasi dengan menggunakan 13 rudal balistik bersayap dan sebuah drone. Ia menegaskan, operasi militer Yaman di laut akan terus berlanjut hingga Israel menghentikan agresinya.
