Pemimpin Ansharullah Yaman: Perlawanan Rakyat Palestina adalah Pelajaran Besar dan Model Sukses yang Layak Didukung Dunia Islam
POROS PERLAWANAN – Pemimpin Ansharullah Yaman, Sayyid Abdul Malik Badreddin Al-Houthi, dalam pidato pekanan pada Kamis 12 Juni, menyampaikan bahwa perlawanan rakyat Palestina di Gaza merupakan sebuah pelajaran besar dan model keberhasilan yang layak mendapat dukungan penuh dari dunia Islam.
Merujuk pada upaya Pendudukan Zionis untuk mengubah Masjid Ibrahimi menjadi sinagog Yahudi, Al-Houthi menyatakan, “Apa yang terjadi di Gaza menunjukkan bahwa Perlawanan dapat bertahan dan bahkan menang dalam menghadapi agresi besar. Ini adalah model sukses yang harus kita dukung secara komprehensif.”
Zionis Gunakan Bantuan Kemanusiaan sebagai Perangkap Genosida
Mengomentari tragedi kemanusiaan akibat blokade di Gaza, Al-Houthi menyoroti tindakan biadab tentara Zionis yang menembaki warga Palestina yang sedang mengantre bantuan makanan.
“Adegan memilukan di mana rakyat ditembak saat menunggu bantuan adalah cerminan kejahatan luar biasa. Rezim Zionis secara sistematis memaksa rakyat memilih antara kelaparan atau datang ke pusat distribusi yang justru dijadikan lokasi pembantaian,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa rezim Israel telah melarang bantuan kemanusiaan PBB selama lebih dari 100 hari, mengubah titik-titik distribusi menjadi jebakan eksekusi massal.
Yerusalem dalam Kepungan dan Yahudisasi Sistematis
Al-Houthi mengutuk eskalasi kekerasan harian di Masjid Al-Aqsa. Ia menggambarkan bagaimana situs suci umat Islam itu digunakan untuk ritual Talmud, tarian ejekan, serta seruan anti-Islam.
“Pendudukan Zionis terus memperluas permukiman ilegal, menghancurkan rumah, merampas tanah, dan mengusir penduduk dari kawasan seperti Sheikh Jarrah, Silwan, Jabal al-Mukabar, dan al-Isawiyah,” katanya.
Ia juga mengungkap bahwa rencana Pendudukan terbaru melibatkan pembangunan 22 permukiman baru, yang secara de facto mengubur solusi dua negara.
Kegagalan Strategis Rezim Zionis di Gaza
Al-Houthi menyoroti keberhasilan faksi-faksi Perlawanan, khususnya Brigade Al-Qassam dan Al-Quds, dalam menghadapi agresi militer Zionis selama lebih dari 600 hari.
“Dengan segala keunggulan militer dan dukungan Amerika, musuh gagal menundukkan Gaza. Ini membuktikan bahwa kekuatan spiritual dan tekad bisa mengalahkan superioritas teknologi,” ujarnya.
Ia mengkritik negara-negara Arab yang dinilainya abai terhadap penderitaan Palestina. “Sebagian rezim Arab bersikap beku, apatis, seolah tidak belajar dari sejarah atau memahami kenyataan hari ini.”
Yaman, Blokade Laut, dan Operasi Militer ke Israel
Al-Houthi menegaskan komitmen Yaman terhadap perjuangan Palestina melalui berbagai operasi militer dan blokade maritim terhadap kapal-kapal yang terhubung dengan Israel.
“Dalam sepekan terakhir, kami meluncurkan 11 rudal balistik hipersonik dan drone ke Wilayah Pendudukan, termasuk Haifa, Yaffa, Ashdod, dan Bandara Ben Gurion. Operasi malam Selasa sangat signifikan dan memaksa jutaan pemukim masuk ke tempat perlindungan,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa jalur pelayaran menuju dan dari Wilayah Pendudukan Zionis akan tetap diblokade di Laut Merah, Teluk Aden, dan Selat Bab al-Mandab. “Sangat disesalkan, beberapa negara Arab tetap mengirim barang ke Israel via Mediterania,” kritiknya.
Panggilan untuk Pawai Sejuta Rakyat dan Konsolidasi Dukungan
Pemimpin Ansharullah menyerukan pawai sejuta rakyat pada Jumat di Lapangan Al-Saba’in, Sanaa, dan seluruh provinsi. Ia menekankan bahwa aksi ini adalah bentuk jihad dan loyalitas terhadap Allah, Al-Quran, Islam, dan rakyat Palestina.
“Rakyat Yaman harus terus memobilisasi diri, baik dalam bentuk demonstrasi, konferensi, maupun kegiatan publik. Ini adalah jihad moral dan amanat kemanusiaan,” katanya.
Membangun Generasi Perlawanan
Menutup pidatonya, Al-Houthi menyampaikan bahwa perjuangan rakyat Yaman akan berdampak signifikan dalam membangun masyarakat kuat, sadar, dan berdaya.
“Selama 20 bulan terakhir, jalan perlawanan yang kami tempuh telah menghasilkan banyak manfaat strategis. Kami telah berkorban, dan pengorbanan itu tidak sia-sia. Mereka yang memilih tunduk pada musuh Allah akan jatuh dalam kehinaan, sementara mereka yang berdiri tegak akan bangkit dalam kemuliaan dunia dan akhirat,” pungkasnya.
