Pemimpin Tertinggi: Syahid Raisi Pelayan Tulus Rakyat dan Pembela Martabat Iran, Cerminan Ideal Pejabat Pemerintahan Ilahi
POROS PERLAWANAN – Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei mengadakan pertemuan di Teheran pada Selasa 20 Mei kemarin untuk mengenang Presiden Iran, Syahid Ibrahim Raisi, Menteri Luar Negeri Hossein Amir Abdollahian, serta sejumlah pejabat lainnya yang gugur dalam kecelakaan helikopter pada 19 Mei 2024 silam.
Dalam pidatonya, Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa tujuan utama mengenang para syuhada adalah untuk mendorong perenungan serta menggali pelajaran dari perjalanan hidup mereka.
Mengulas karakter spiritual, tutur kata, dan tindakan Syahid Raisi, beliau menyatakan, “Syahid Raisi adalah cerminan ideal dari seorang pejabat dalam Pemerintahan Ilahi. Dengan pengabdian tanpa pamrih, ia melayani rakyat dan membela kehormatan, martabat, serta kredibilitas bangsa Iran. Jalan hidup dan pendekatan yang ditempuhnya adalah pelajaran berharga bagi para pejabat, generasi muda, dan generasi yang akan datang.”
Pemimpin Tertinggi menekankan bahwa menjauh dari corak pemerintahan bergaya Firaun dan bergerak menuju tata kelola yang berlandaskan nilai-nilai Ilahi merupakan prinsip fundamental dalam pemerintahan. Dalam hal ini, Syahid Raisi dinilai sebagai manifestasi nyata dari prinsip tersebut.
Mengutip ayat-ayat suci Al-Quran, beliau menjelaskan: “Kesombongan, meremehkan rakyat, serta membebankan tanggung jawab secara sepihak kepada mereka adalah karakteristik pemerintahan tiranik seperti Firaun. Syahid Raisi justru menunjukkan kebalikannya: ia melihat dirinya sebagai bagian dari rakyat, bahkan dalam banyak hal merasa lebih rendah dari mereka. Dengan perspektif itulah ia memimpin.”
Ayatullah Khamenei juga menyoroti pentingnya menggunakan seluruh potensi yang ada untuk melayani umat, sembari menjauhkan diri dari penyalahgunaan jabatan demi kepentingan pribadi.
“Banyak individu dalam sistem Pemerintahan Islam yang memiliki sifat-sifat luhur ini. Namun, karakter dan pelajaran dari kehidupan Syahid Raisi harus dijadikan budaya publik yang hidup,” ujarnya.
Beliau menekankan bahwa untuk memahami karakter seseorang, kita perlu menelaah isi hati, ucapan, dan tindakannya.
“Syahid Raisi memiliki hati yang penuh ketawadhuan dan senantiasa mengingat Tuhan. Lidahnya senantiasa berkata jujur dan benar, sementara tindakannya mencerminkan kerja keras yang terus-menerus dan tanpa lelah,” jelas Pemimpin Tertinggi.
Kerendahan hati, doa, dan kedekatan spiritual Syahid Raisi kepada Allah disebut sebagai sifat yang konsisten sepanjang pengabdiannya.
“Ia dipenuhi kasih sayang terhadap rakyat. Ia tak pernah mengeluh atas tuntutan mereka, dan tidak menyimpan prasangka buruk. Ia senantiasa berupaya menunaikan amanah berat yang dipikulnya.”
Ayatullah Khamenei juga menggarisbawahi bahwa bahkan dalam urusan diplomasi, tutur kata Syahid Raisi selalu jelas dan tulus.
“Ia senantiasa mengambil sikap tegas dan terbuka, tidak pernah memberi ruang bagi musuh untuk berilusi bahwa Iran tunduk karena ancaman, bujukan, atau tipu daya.”
Membandingkan sikap ini dengan perilaku para pemimpin Barat, beliau berkata: “Untuk memahami pentingnya kejelasan dalam tutur katanya, bandingkanlah dengan bahasa penuh kemunafikan para pejabat negara-negara Barat. Mereka berseru lantang atas nama perdamaian dan hak asasi manusia, namun menutup mata terhadap pembantaian lebih dari 20.000 anak tak berdosa di Gaza—bahkan mendukung para pelakunya.”
Lebih lanjut, Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa etos kerja dan komitmen tinggi Syahid Raisi merupakan dimensi penting lainnya dari keteladanannya.
“Ia terus bekerja dan berusaha. Tidak mengenal lelah, tidak terikat waktu siang atau malam dalam memberikan pelayanan terbaik secara berkelanjutan.”
Berbagai upaya Syahid Raisi dalam penyediaan air bersih, pembangunan jalan, penciptaan lapangan kerja, reaktivasi industri yang terbengkalai, hingga penyelesaian proyek-proyek yang mangkrak disebut sebagai bukti nyata dari pengabdiannya.
“Ia juga memperjuangkan kehormatan dan posisi bangsa di kancah internasional, serta berupaya memperkuatnya,” tambah beliau.
Pemimpin Tertinggi juga merujuk pada laporan lembaga keuangan internasional yang mencatat pertumbuhan ekonomi Iran, dari hampir nol pada awal Pemerintahan ke-13 menjadi hampir 5% di akhir masa jabatannya, sebagai bukti nyata kemajuan dan kebanggaan nasional.
“Fakta bahwa Presiden (Syahid Raisi) mengangkat Al-Quran dan foto Syahid Qasim Soleimani di hadapan Sidang Umum PBB adalah simbol kebanggaan bagi bangsa ini,” pungkas Ayatullah Khamenei.
