Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran: Seperti yang Diprediksi, Trump Kembali Khianati Diplomasi demi Perang
POROS PERLAWANAN — Penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei mengatakan bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali mengorbankan jalur diplomasi dan memilih memperpanjang konflik melalui kebijakan tekanan militer terhadap Iran.
Menurut laporan Press TV pada Sabtu 30 Mei, Rezaei menyampaikan peringatan tersebut melalui unggahan di akun X miliknya di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington pasca-kelanjutan blokade maritim Amerika terhadap Iran.
“Seperti yang telah diprediksi, Presiden Amerika Serikat untuk ketiga kalinya mengkhianati diplomasi”, tulis Rezaei.
Ia menilai keputusan Washington mempertahankan blokade laut serta terus mengajukan tuntutan yang dinilai berlebihan dalam proses perundingan menunjukkan bahwa Pemerintahan Trump tidak benar-benar mengejar penyelesaian politik.
“Dengan melanjutkan blokade maritim dan mengajukan tuntutan berlebihan dalam negosiasi, dia semakin membuktikan bahwa dirinya bukan seorang negosiator dan sedang mengejar tujuan lain”, lanjutnya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah kebuntuan diplomatik yang terus membesar setelah Amerika Serikat memperpanjang tekanan terhadap jalur perdagangan dan pelabuhan Iran. Teheran memandang langkah itu sebagai pelanggaran terhadap ketentuan gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan Trump secara sepihak pada awal April.
Rezaei yang juga mantan Panglima Tertinggi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebelumnya mengatakan kepada jaringan CGTN China bahwa Iran siap mematahkan blokade tersebut melalui jalur diplomasi maupun tindakan langsung apabila diperlukan.
Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat pada akhirnya tidak memiliki banyak pilihan selain kembali ke meja perundingan. Menurutnya, kelanjutan perang hanya akan menyeret Washington ke situasi yang semakin sulit dikendalikan.
“Amerika sedang mendekati kami dalam kegelapan, sementara kami memantau (dengan jelas) setiap gerakan mereka”, kata Rezaei.
Iran sebelumnya memperketat pengawasan di sejumlah koridor strategis Kawasan sebagai respons atas agresi terbaru Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam tersebut. Langkah itu diambil setelah Presiden AS, Donald Trump pada 13 April mengumumkan kelanjutan blokade maritim terhadap kapal dan pelabuhan Iran.
Di tengah meningkatnya eskalasi Kawasan, kedua pihak dilaporkan masih menggelar pembicaraan berkala guna mencari jalan menuju penghentian perang secara permanen. Namun pernyataan terbaru Rezaei menunjukkan jurang ketidakpercayaan Tehran terhadap komitmen diplomatik Washington semakin dalam.
