Penembakan di Al-Quds Tewaskan 6 Pemukim, Faksi Perlawanan: Tanggapan atas Agresi Israel
POROS PERLAWANAN – Dilansir Al Mayadeen, sedikitnya enam warga pemukim Israel tewas dan lebih dari 20 lainnya mengalami luka-luka dalam sebuah insiden penembakan yang mengguncang wilayah Ramot Junction, Al-Quds yang Diduduki, pada Senin pagi 8 September. Insiden yang terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Kawasan ini dengan cepat memicu reaksi dari berbagai pihak, termasuk Kelompok Perlawanan Palestina.
Menurut laporan media lokal Israel, dua pria bersenjata melepaskan tembakan ke arah sebuah bus yang sedang berhenti di tengah kemacetan lalu lintas. Penembak disebut-sebut menggunakan senjata api jenis senapan mesin ringan rakitan yang dikenal sebagai “Carlo” dan sebuah pistol dalam serangan singkat namun mematikan itu. Enam korban dilaporkan dalam kondisi kritis dan sedang dirawat di rumah sakit setempat.
Saksi mata mengatakan salah satu penyerang menyamar sebagai petugas keamanan saat menaiki bus, sebelum kemudian memberondong para penumpang dengan tembakan dari jarak dekat. Kepolisian Israel menegaskan bahwa kedua pelaku akhirnya ditembak mati oleh petugas yang merespons cepat insiden tersebut.
Identitas resmi para penyerang belum diumumkan, namun laporan awal menyebut bahwa mereka berasal dari kota al-Qubayba dan Qatnah, di wilayah Tepi Barat. Polisi Israel saat ini tengah memeriksa benda mencurigakan yang ditemukan di lokasi kejadian, serta telah menutup seluruh akses jalan menuju Al-Quds sebagai langkah pengamanan.
Respons Kelompok Perlawanan Palestina
Tak lama setelah insiden terjadi, sejumlah faksi Perlawanan Palestina mengeluarkan pernyataan resmi yang menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan respons langsung terhadap eskalasi Militer Israel di Gaza dan Tepi Barat.
Gerakan Hamas menyebut aksi tersebut sebagai “pesan tegas” atas tindakan Israel yang terus melanjutkan agresi militer dan pelanggaran terhadap Masjid Al-Aqsa. “Operasi ini adalah respons alami terhadap perang pemusnahan yang dilakukan terhadap rakyat kami,” ujar Hamas dalam pernyataannya.
Sementara itu, Jihad Islam Palestina menilai serangan tersebut sebagai bentuk perlawanan sah terhadap kebijakan Pendudukan Israel yang represif, termasuk penghancuran sistematis rumah-rumah warga dan penangkapan sewenang-wenang di Wilayah Pendudukan.
Sayap militer Jihad Islam, Brigade Al-Quds menyatakan bahwa tindakan tersebut mencerminkan perlawanan aktif atas kekerasan yang terus menimpa warga Palestina, baik di Gaza, Tepi Barat, maupun Al-Quds.
Gerakan Mujahidin Palestina turut menyuarakan hal serupa. Dalam pernyataannya, mereka menyebut operasi penembakan itu sebagai “pesan yang ditulis dengan api” oleh rakyat Palestina sebagai balasan atas kebrutalan Militer Israel dan genosida yang terus berlangsung di Jalur Gaza. Mereka menyerukan peningkatan perlawanan bersenjata terhadap pasukan Pendudukan dan pemukim Israel.
Latar Belakang Ketegangan
Serangan ini terjadi di tengah aksi Militer Israel yang semakin intensif di Tepi Barat, termasuk serangkaian serangan ke kota dan kamp pengungsi Palestina, serta penahanan warga sipil tanpa proses hukum. Kondisi ini memicu gelombang kemarahan di kalangan warga Palestina dan meningkatkan kemungkinan terjadinya lebih banyak serangan balasan.
Situasi keamanan di Kawasan kini semakin tidak menentu, dengan kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut dalam waktu dekat. Otoritas internasional mendesak agar semua pihak menahan diri dan mendorong solusi damai untuk meredakan konflik yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
