Pengakuan Inggris Baptis Al-Jolani dari ‘Jihadis’ Jadi Politisi
POROS PERLAWANAN – Di balik layar diplomasi dan resolusi konflik, terselip sebuah sandiwara klasik yang begitu sering dimainkan, mengganti kostum sang penjahat, lalu melemparkannya ke panggung politik dengan tepuk tangan dari kursi VIP Barat. Kali ini, aktornya adalah Muhammad Al-Jolani, atau bagi yang lebih akrab, Ahmad Al-Sharaa yang kini muncul dengan jas dan dasi, bukan lagi sorban dan senapan.
Mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Suriah, Robert Ford, belum lama ini menumpahkan sebagian kecil dari naskah rahasia ini. Dalam sebuah wawancara di kanal YouTube Baltimore Council on Foreign Affairs, bertajuk “Syrian Rebels Win – Now What?” yang tayang 13 Mei 2025, Ford secara terbuka mengungkap keterlibatannya dalam sebuah proyek untuk memoles Al-Jolani agar tampil layak di gelanggang politik.
Menurut Ford, sebuah organisasi Inggris, tentu saja berkedok “resolusi konflik” mengundangnya pada 2023 untuk ikut serta dalam proyek “rehabilitasi Al-Jolani”. Tujuannya? Membantu jebolan Madrasah Takfiri Al-Qaeda ini bertransisi dari label seram “teroris” menuju label yang lebih Instagram-friendly, yakni “aktor politik”.
Namun seperti biasa, ada yang tak disebutkan dalam video tersebut. Untungnya, Independent Arabic bersedia mengisi kekosongan itu dengan menyatakan bahwa mantan Penasihat Keamanan Nasional Inggris sekaligus tangan kanan Tony Blair, Jonathan Powell, sebagai dalang intelektual di balik proyek ini. Dialah yang meminta Ford untuk bergabung. Powell, kini Direktur organisasi bernama Inter Mediate, dikenal senang berbincang dengan siapa saja, termasuk para pemegang senjata dan pemimpi khilafah.
Kepingan yang Mulai Menyatu
Fakta yang lebih mencengangkan adalah bahwa Powell juga salah satu pejabat Barat pertama yang bertatap muka dengan Al-Jolani di awal “kebangkitannya”. Dalam pertemuan tersebut, sang mantan jihadis, yang kini sedang dibersihkan citranya, berjanji bahwa Suriah di bawah kepemimpinannya tak akan menjadi ancaman bagi Israel. Sebuah pernyataan yang cukup untuk membuka banyak pintu, terutama di koridor kekuasaan London dan Washington.
Pemerintah Suriah tentu membantah semua ini. Namun, situs Israel i24 justru memperkuat tuduhan itu. Mereka merilis laporan yang menyebut bahwa Badan Intelijen Inggris dan AS telah menjalin komunikasi sejak lama dengan Al-Jolani, bahkan menjadikannya pilihan utama dalam proyek stabilisasi wilayah. Tak tanggung-tanggung, Washington dikabarkan menggelontorkan dana sebesar 100 juta Dolar untuk “bantuan ekonomi” di Idlib, sebuah wilayah yang secara de facto dikendalikan Al-Jolani agar kawasan itu tetap tenang hingga Assad jatuh. Rupanya, perubahan rezim pun kini punya anggaran.
Powell dan Buku Panduan “Berbincang dengan Teroris”
Jonathan Powell sendiri bukan orang baru dalam permainan ini. Dalam bukunya yang sangat literal, “Talking to Terrorists: How to End Armed Conflicts?”, ia dengan santai menyebut bahwa “terorisme hanyalah taktik”, sebuah istilah netral yang bisa disematkan terhadap siapa saja, tergantung posisi negosiasi. Ia percaya bahwa berbicara dengan ISIS suatu hari nanti tidak hanya mungkin, tapi logis. Dialog, katanya, lebih baik daripada isolasi, terutama jika isolasi itu buruk bagi kepentingan strategis.
Setelah pensiun dari Pemerintahan Blair pada 2011, Powell mendirikan Inter Mediate, organisasi yang konon bekerja dalam “konflik paling kompleks dan berbahaya”. Lembaga ini mengeklaim membuka jalur komunikasi rahasia antara pihak-pihak yang bertikai, dengan tim kecil fleksibel dan tak lupa, tanpa perlindungan politik resmi. Sebuah operasi yang, jika dilakukan oleh negara lain, barangkali akan disebut sebagai subversif. Namun bila dilakukan oleh Inggris? Itu harus disebut “soft diplomacy”.
Dialog Rahasia, Kepentingan Terang Benderang
Melalui situs resminya, Inter Mediate menyatakan bahwa mereka beroperasi di medan konflik yang tak terjangkau organisasi lain, dan justru di situlah daya magisnya. Mereka menyebut diri sebagai “penghubung rahasia” yang memfasilitasi dialog ketika semua pintu tertutup. Namun, dalam konteks Suriah, “penghubung” ini tampaknya juga berfungsi sebagai jembatan emas bagi proyek geopolitik Barat, lengkap dengan sponsor, pelatihan, dan legitimasi.
Koneksi Powell yang Lebih Tua dari Revolusi
Bukan hanya Jonathan Powell yang memiliki hubungan dengan Suriah sebelum 2011. Saudaranya, Lord Charles Powell, duduk di Dewan Said Foundation, yayasan milik pengusaha Suriah-Inggris Wafic Said. Menurut beberapa sumber, Wafic Said dilaporkan telah bertemu dengan Al-Jolani pada Januari 2025 di Istana Kepresidenan Damaskus. Jadi, entah dari lorong diplomatik atau ruang gelap intelijen, semua jalan tampaknya mengarah ke satu titik, yakni normalisasi sang jihadis.
Dari Jihadis Jadi Teknokrat
Mungkin dunia memang telah berubah. Mungkin kini kita harus membiasakan diri melihat tokoh-tokoh dengan tangan berlumuran darah duduk di meja bundar, berbicara tentang “stabilitas regional” dan “pembangunan ekonomi”. Atau mungkin, ini hanyalah pengulangan drama lama, di mana para aktor berganti kostum, tetapi sutradara dan naskahnya tetap sama; proyek imperialis lama dengan wajah baru.
Satu hal yang pasti bahwa jika Al-Jolani kini adalah seorang “politisi”, maka dunia sedang menjalani satire terbesarnya, tanpa perlu ikut tertawa, karena kita sedang menjadi bagiannya. [PP/MT]
