Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Perang Melawan Iran Gerus Armada Drone MQ-9 Reaper Amerika

POROS PERLAWANAN — Angkatan Udara Amerika Serikat dilaporkan berupaya memperkuat kembali armada pesawat nirawak MQ-9 Reaper setelah mengalami kerugian besar selama perang melawan Iran. Langkah tersebut dilakukan dengan membeli drone yang sebelumnya diproduksi untuk pelanggan lain tetapi belum digunakan.

Menurut laporan The War Zone yang dikutip Press TV pada Sabtu (6/6/2026), Angkatan Udara AS telah memperoleh pendanaan untuk membeli sejumlah unit MQ-9A Block 5 dari perusahaan General Atomics guna mengisi kembali armada yang berkurang akibat konflik.

Juru bicara Angkatan Udara AS mengatakan pihaknya berupaya memperoleh pesawat yang masih tersedia dan sebelumnya dibuat untuk pelanggan lain yang tidak lagi membutuhkan aset tersebut.

Laporan Air & Space Forces Magazine bulan lalu menyebut Amerika Serikat kehilangan hampir 30 drone MQ-9 Reaper selama 40 hari perang melawan Iran. Sejumlah drone dilaporkan ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Iran, sementara lainnya rusak saat berada di pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan yang menjadi sasaran serangan balasan Iran.

Menurut The War Zone, kerugian tersebut berdampak signifikan terhadap jumlah armada Reaper yang dimiliki Angkatan Udara AS. Dokumen anggaran resmi menunjukkan jumlah MQ-9 yang aktif turun menjadi 165 unit pada awal tahun fiskal ini, dibandingkan 231 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Wakil Kepala Staf Angkatan Udara AS untuk Perencanaan dan Program, Letnan Jenderal David Tabor, mengatakan pihaknya sedang berupaya membeli kembali sebanyak mungkin drone MQ-9A yang masih tersedia.

Namun, General Atomics menyatakan jumlah MQ-9A yang belum terjual di seluruh dunia kini tersisa kurang dari 10 unit. Produksi varian tersebut juga telah dihentikan setelah perusahaan beralih memproduksi MQ-9B yang lebih baru.

Untuk mempertahankan operasional armada yang masih aktif, Angkatan Udara AS juga dilaporkan mulai memanfaatkan komponen dari drone MQ-1 Predator yang telah dipensiunkan sebagai sumber suku cadang.

Laporan terpisah yang disusun untuk Kongres AS menyebut militer Amerika kehilangan sedikitnya 42 pesawat selama konflik tersebut dengan nilai kerugian yang diperkirakan mencapai sekitar 2,6 miliar dolar AS.

Dokumen yang mengacu pada data Pentagon, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), dan sejumlah media pertahanan itu menyebut kerugian mencakup pesawat tempur, pesawat pengintai, pesawat pengisian bahan bakar di udara, helikopter penyelamat tempur, serta berbagai jenis pesawat nirawak.

Laporan tersebut juga memperingatkan bahwa penggantian sebagian aset yang hilang dapat menghadapi kendala karena sejumlah sistem yang rusak atau hancur sudah tidak lagi diproduksi.

Konflik yang berlangsung sejak akhir Februari itu memicu serangan balasan Iran terhadap target-target Israel dan aset militer Amerika Serikat di berbagai wilayah kawasan. Selama konflik berlangsung, Iran mengklaim berhasil mencegat dan menembak jatuh sejumlah pesawat tempur, rudal, dan drone yang memasuki wilayahnya.

Kerugian yang dialami Amerika Serikat selama konflik tersebut kembali memunculkan perdebatan mengenai efektivitas sistem persenjataan modern dalam menghadapi kemampuan rudal dan pesawat nirawak yang dimiliki Iran.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *