Perang Sengit di Perbatasan Lebanon dan Terhambatnya Bantuan AS Perparah Defisit Anggaran Israel
POROS PERLAWANAN – Media-media Israel pada Minggu 10 November, melaporkan bahwa defisit anggaran Israel meningkat akibat perang di perbatasan Lebanon dan terhambatnya sebagian bantuan dari Amerika Serikat. Defisit ini diperkirakan akan melebihi 8 persen akibat dampak langsung dari biaya perang yang terus meningkat.
Menurut laporan berbagai media berbahasa Ibrani itu, prediksi defisit anggaran Israel untuk 2024 semakin buruk karena keterlambatan sebagian bantuan keuangan dari AS dan eskalasi konflik di Lebanon Selatan. Perusahaan penyiaran Israel memperkirakan defisit anggaran bisa melewati batas 8 persen setelah rezim Israel berencana menambah anggaran lebih dari 33 miliar Shekel (sekitar 8,80 miliar Dolar AS).
Mengutip sumber kredibel, dilaporkan bahwa lonjakan anggaran disebabkan oleh tertundanya sebagian bantuan dari AS, eskalasi konflik di Lebanon, serta penurunan peringkat kredit Israel. Seperti, harian Haaretz pada hari yang sama melaporkan bahwa para pejabat Israel bersiap menghadapi tekanan dari AS agar menghentikan perang di Gaza. Presiden Joe Biden diprediksi akan mengambil langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan menghambat bantuan militer dan finansial untuk Israel jika tidak ada upaya menghentikan konflik.
Ekonom senior JP Morgan baru-baru ini menurunkan prediksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Israel untuk 2024 dari 1 persen menjadi 0,5 persen, dan mengurangi estimasi pertumbuhan tahun depan dari 3,7 persen menjadi 3,3 persen. Bank tersebut juga menurunkan perkiraan pertumbuhan PDB untuk kuartal keempat dari 2,5 persen menjadi 2 persen akibat situasi keamanan yang semakin genting setelah pecahnya perang di perbatasan utara.
Kementerian Keuangan Israel pada akhir Oktober lalu menurunkan kembali perkiraan pertumbuhan ekonominya untuk 2024 dari 1,1 persen menjadi 0,4 persen. Dana Moneter Internasional (IMF) sebelumnya juga menyesuaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi Israel dari 1,6 persen pada April menjadi 0,7 persen, dengan alasan meningkatnya biaya perang.
Tiga lembaga pemeringkat kredit utama turut menurunkan peringkat kredit Israel, meramalkan bahwa pertumbuhan ekonomi rezim itu akan mendekati nol pada akhir tahun, sementara defisit anggaran bisa mencapai 9 persen dari PDB.
Ekonom Israel, Yacov Sheinin memperkirakan bahwa total biaya perang di Gaza dan Lebanon bisa mencapai 120 miliar Dolar AS, atau sekitar 20 persen dari PDB. Surat kabar Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa perang di Lebanon selama satu setengah bulan terakhir telah menghabiskan biaya lebih dari 9 miliar Dolar AS.
Laporan Bloomberg juga mencatat bahwa anggaran Israel untuk 2025 akan berfokus pada peningkatan pengeluaran militer. Anggaran perang yang diajukan ke parlemen Israel untuk 2025 mencapai 117 miliar Shekel (sekitar 31,23 miliar Dolar AS), atau sekitar 6,5 persen dari PDB. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan persentase belanja militer Israel pada 2022 sebesar 4,2 persen dari PDB dan rata-rata OECD yang hanya 1,7 persen.
Bloomberg menambahkan bahwa perang di Gaza dan Lebanon, serta ketegangan yang meningkat dengan Iran, telah memperburuk ekonomi dan keuangan Israel, memaksa rezim Netanyahu untuk fokus menekan defisit anggaran.
