Loading

Ketik untuk mencari

Irak

Perlawanan Irak: Jari Kami di Pelatuk, Kami Tidak Akan Pernah Meletakkan Senjata

Perlawanan Irak Tegaskan Tak Bakal Hanya Jadi Penonton Perkembangan Terbaru Suriah

POROS PERLAWANAN – Tekanan internasional terhadap Kelompok-kelompok Perlawanan di Irak untuk melucuti senjata mereka semakin gencar. Namun, Faksi-faksi Perlawanan menegaskan bahwa mereka tidak akan pernah menyerahkan senjata, apalagi di tengah meningkatnya ancaman Zionis dan campur tangan asing yang kian nyata.

Proyek “Israel Raya” dan Ancaman terhadap Irak

Sumber terkemuka dari salah satu Kelompok Perlawanan mengungkapkan pada Minggu 24 Agustus kepada harian Al-Akhbar bahwa mereka telah memberi tahu Pemerintah secara tegas, bahwa pelucutan senjata bukanlah pilihan. “Setelah Netanyahu mengumumkan proyek Israel Raya, yang menjadikan Irak sebagai bagian dari skema itu, bagaimana mungkin kami meletakkan senjata?” tegasnya.

Ia menambahkan: “Pemerintah mungkin melihat isu ini sebagai manuver politik, tetapi kami memandangnya sebagai persoalan nasional. Kami memiliki pengalaman pahit pendudukan, dan kami tidak akan mengulanginya.”

Latar Belakang Pasukan Mobilisasi Rakyat

Pasukan Mobilisasi Rakyat (PMF) lahir pada 2014 menyusul fatwa bersejarah Ayatullah Sayyid Ali Sistani tentang Jihad Kifai menghadapi serangan brutal ISIS. Saat itu, tentara Irak melemah dan kota-kota besar nyaris jatuh ke tangan kelompok teroris.

Dalam situasi genting, rakyat dan para sukarelawan berhimpun. PMF tumbuh menjadi pilar utama pertahanan Irak untuk menghentikan laju ISIS ke Baghdad, mempertahankan tempat-tempat suci, dan akhirnya membebaskan wilayah luas seperti Tikrit, Fallujah, dan Mosul.

Kini PMF diakui sebagai bagian resmi dari struktur pertahanan Irak. Namun, keberadaannya yang independen dari pengaruh Amerika Serikat jelas tidak sejalan dengan kepentingan Washington dan sekutu-sekutunya di Kawasan.

Komite Koordinasi Senjata Tak Akan Diletakkan

Komite Koordinasi Perlawanan Irak dalam pernyataannya menegaskan: “Tangan para pejuang Perlawanan tetap siap di pelatuk untuk membela Irak dan rakyatnya.” Mereka memperingatkan agar serangan udara AS dihentikan, menyebutnya sebagai pelanggaran kedaulatan yang berbahaya.

Komite juga menuntut parlemen serta Pemerintah memenuhi tanggung jawab mereka dengan memaksa penarikan pasukan AS secara nyata dan menyeluruh.

Penarikan Pasukan AS: Ancaman atau Peluang?

Salah satu Pemimpin Kerangka Koordinasi, Ali al-Moussawi mengingatkan bahwa penarikan pasukan AS dari pangkalan Ain al-Assad tidak berarti Washington benar-benar meninggalkan Irak. “Kehadiran militer mungkin berkurang, tetapi pengaruh politik dan ekonominya tidak serta-merta hilang,” katanya.

Ia menekankan bahwa situasi saat ini sangat sensitif, bertepatan dengan Pemilu mendatang. Tekanan tambahan dalam bidang keamanan, politik, maupun ekonomi bisa membebani Irak. Namun ia juga melihat peluang: penarikan pasukan dapat menjadi momentum memperkuat militer Irak dan menegakkan kedaulatan penuh, asalkan Pemerintah mengiringinya dengan kebijakan yang jelas dan independen.

Konspirasi di Balik RUU PMF

Kontroversi politik seputar RUU Pasukan Mobilisasi Rakyat makin memanas. Agenda sidang parlemen terbaru menunjukkan rancangan undang-undang itu dihapus sementara, diduga karena perbedaan pandangan internal atau upaya merevisi sejumlah pasal penting sebelum diajukan kembali.

Sekretaris Jenderal Asaib Ahl al-Haq, Syekh Qais al-Khazali menilai tekanan internasional untuk membubarkan atau melemahkan PMF adalah “konspirasi terhadap Irak”. Dalam pidatonya, ia mengecam pernyataan para diplomat Barat yang menyebut PMF tidak lagi diperlukan setelah kekalahan ISIS.

“Ancaman terhadap Irak tidak pernah hilang, baik dari Suriah maupun dari proyek Zionis yang ingin memecah-belah Kawasan. Upaya pembubaran PMF adalah bagian dari rencana itu, dan rencana tersebut pasti akan gagal selama PMF tetap berdiri,” tegas al-Khazali.

Situasi Lapangan: PMF di Garis Depan

Di lapangan, PMF memperkuat posisinya. Sumber keamanan di Provinsi Anbar melaporkan meningkatnya pos pemeriksaan PMF di sekitar perbatasan Arar, menyusul informasi mengenai aktivitas kelompok kriminal di wilayah itu.

Sementara itu, Komando Operasi Gabungan Irak mengumumkan keberhasilan serangan udara terhadap sisa-sisa ISIS di Wadi al-Shay, Provinsi Salah al-Din. Sejumlah anggota ISIS dilaporkan tewas. Juru Bicara Panglima Angkatan Bersenjata Irak menegaskan bahwa kelompok teroris tersebut tidak lagi menjadi ancaman strategis bagi negara.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *