Pernyataan Mendagri Iran Terkait Ledakan Pelabuhan Shahid Rajai
POROS PERLAWANAN – Menteri Dalam Negeri Iran, Eskandar Momeni, mengonfirmasi pada Senin (27/4) bahwa sejumlah pihak telah dipanggil terkait insiden ledakan di Pelabuhan Shahid Rajai. Dalam keterangannya, Momeni mengakui adanya sejumlah kelalaian dalam penanganan insiden tersebut.
Berdasarkan laporan Kantor Berita Tasnim dari Bandar Abbas, Momeni memaparkan bahwa proses pemadaman kebakaran di pelabuhan dilakukan dalam kondisi yang sangat menantang. “Selama dua hari terakhir, tim bantuan dan petugas pemadam kebakaran telah bekerja dalam kondisi yang sangat berat untuk melaksanakan operasi pemadaman,” ungkapnya.
Momeni menyampaikan duka mendalam atas tragedi tersebut dan menambahkan, “Hingga saat ini, tercatat 46 korban jiwa, sementara sejumlah korban yang dilaporkan hilang masih dalam proses identifikasi. Proses identifikasi dilakukan oleh tim forensik melalui pencocokan DNA, dan tim identifikasi kepolisian telah dikerahkan ke lokasi kejadian.”
Menurut penjelasannya, petugas pemadam kebakaran dan tim penyelamat telah bekerja dengan penuh keberanian untuk memadamkan api dari berbagai titik dan membuka jalur akses. “Hingga semalam, upaya pemadaman dilakukan dari empat titik. Kini, seluruh area telah dibagi menjadi beberapa sektor dengan pendelegasian tanggung jawab kepada masing-masing dinas terkait untuk mempercepat proses pemadaman,” jelasnya.
Momeni menegaskan bahwa api saat ini sudah dalam kondisi terkendali, meskipun tim penyelamat masih terus melakukan pemadaman. “Mengingat adanya sejumlah bahan kimia, kemungkinan asap masih akan terlihat selama beberapa hari ke depan. Namun, diperkirakan mulai malam ini atau besok, tanggung jawab pengelolaan lanjutan akan diserahkan kepada Pemerintah Provinsi,” tambahnya.
“Kebakaran telah terkendali dan proses pemadaman masih berlangsung,” Momeni menegaskan.
Pada pagi hari yang sama, dalam rapat gabungan Markas Besar Penanggulangan Krisis dan Dewan Keamanan, Momeni mengungkapkan bahwa investigasi awal telah dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab insiden. “Sejumlah pihak yang diduga terlibat telah dipanggil untuk dimintai keterangan,” ujarnya.
Mendagri Iran tersebut secara terbuka mengakui adanya kelalaian dalam insiden ini. “Kepatuhan terhadap protokol keselamatan dan prinsip pertahanan pasif di pelabuhan tidak ditangani dengan serius, yang mengakibatkan terjadinya insiden tragis ini,” tegasnya.
Arahan Strategis dalam Rapat Manajemen Krisis
Dalam rapat gabungan Markas Besar Krisis dan Dewan Pasokan Provinsi Hormozgan, Menteri Dalam Negeri menekankan urgensi langkah-langkah pencegahan untuk menghindari terulangnya insiden serupa. “Sistem pergudangan harus dirancang sedemikian rupa sehingga jika terjadi kerusakan di satu lokasi, dampaknya tidak langsung menyebar ke area lain,” kata Momeni.
“Oleh karena itu, kami menekankan bahwa implementasi sistem pertahanan pasif harus diintegrasikan di seluruh jenjang pelayanan dan infrastruktur untuk meminimalkan kerentanan terhadap kecelakaan atau kelalaian,” lanjutnya.
Sebagai Perwakilan Khusus Presiden, Momeni menginstruksikan Kantor Gubernur, berkoordinasi dengan otoritas kehakiman provinsi dan komite terkait, untuk mempercepat investigasi penyebab insiden dengan penuh kehati-hatian dan akurasi, serta segera mengumumkan hasilnya kepada publik.
Momeni dengan tegas menyatakan, “Setiap individu atau kelompok yang terbukti bersalah atau terlibat dalam insiden ini harus diproses secara hukum.” Ia juga menginstruksikan agar dilakukan analisis mendalam terkait alasan keberadaan barang berbahaya di pelabuhan, untuk kemudian disusun dalam laporan resmi yang diserahkan kepada Pemerintah.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap durasi penyimpanan barang di area pelabuhan sebagai langkah preventif untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Momeni mengakhiri keterangannya dengan menegaskan bahwa proses kompensasi bagi korban insiden tersebut harus segera dipercepat.
