Pernyataan Tiga Negara Eropa: Tindakan Israel Tidak Dapat Dibenarkan
POROS PERLAWANAN — Tiga negara Eropa mengeluarkan pernyataan bersama yang menyerukan gencatan senjata segera di Jalur Gaza. Menurut Al Jazeera pada Sabtu 26 Juli, Inggris, Prancis, dan Jerman menyampaikan seruan mendesak untuk mengakhiri perang di Gaza dan menghentikan krisis kemanusiaan yang terus memburuk di wilayah tersebut.
Dalam pernyataan itu ditegaskan: “Kami sangat menentang upaya Israel untuk menguasai Wilayah Palestina yang Diduduki. Tel Aviv harus memenuhi kewajibannya berdasarkan hukum internasional. Kami mendesak agar Israel segera mengizinkan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan organisasi non-pemerintah menjalankan mandat kemanusiaan mereka di Gaza.”
Pernyataan itu juga menambahkan: “Kami siap mengambil langkah-langkah lebih lanjut untuk mendukung gencatan senjata segera di Gaza. Eskalasi serangan Militer Israel di Gaza merupakan tindakan yang tidak proporsional dan tidak dapat dibenarkan.”
Namun, perlu dicatat bahwa Inggris, Prancis, dan Jerman selama agresi Israel di Jalur Gaza justru merupakan pemasok utama persenjataan dan pendukung politik rezim Zionis. Hingga kini, posisi itu belum berubah, menjadikan pernyataan mereka sarat dengan kontradiksi dan kepentingan geopolitik terselubung.
Meskipun demikian, pernyataan bersama ini tetap menghadirkan kontras yang menyakitkan dibandingkan diamnya sebagian besar dunia Arab dan Islam. Di tengah siaran langsung atas horor pembantaian anak-anak kelaparan, rumah sakit dihancurkan, kota-kota dikubur dalam puing, para pemimpin Arab lebih sibuk menjaga citra diplomatik dan kestabilan ekonomi daripada menyelamatkan sesama umat.
Kenaifan mereka bukan karena tidak tahu, tapi karena memilih untuk tidak peduli. Ada yang bersembunyi di balik jargon “kedaulatan nasional”, ada pula yang pasrah pada tekanan kontrak senjata, gas, atau rayuan kekuasaan global. Dunia Islam, yang seharusnya menjadi pelindung alami Palestina, justru terlihat lebih takut merusak relasi dagang dengan Tel Aviv daripada terganggu oleh genosida yang kini berlangsung di depan mata.
Hal paling tragis adalah ini: mereka tidak hanya membiarkan pembantaian itu terjadi, bahkan mereka menontonnya. Seolah Gaza bukan bagian dari tubuh umat. Seolah jeritan rakyat Palestina hanya sekadar siaran yang bisa dilewatkan dengan remote dan kebisuan.
Di tengah bara kehancuran Gaza, dunia Arab dan Islam tidak tampil sebagai aktor, bahkan bukan penonton aktif melainkan hanya bayang-bayang yang malu terhadap sejarahnya sendiri.
