Loading

Ketik untuk mencari

Opini

Skenario ‘Rubah vs Landak’ dalam Diplomasi Perlawanan Ala Iran: Model Global bagi Negara-Negara Tertindas

POROS PERLAWANAN – Bangsa Iran yang heroik sekali lagi dengan teguh mempertahankan hak-haknya yang sah dan tidak dapat dicabut dalam kondisi yang paling sulit selama 47 tahun terakhir.

Bangsa ini telah menunjukkan kepada dunia bahwa mereka adalah bangsa paling berani dalam sejarah modern dan menjadi teladan perlawanan bagi negara-negara lain yang berjuang untuk hak-haknya serta membela diri, baik di medan perang maupun di meja diplomasi.

Republik Islam juga telah membuktikan bahwa mereka mampu melindungi perbatasan wilayahnya dengan melakukan pembalasan terhadap musuh-musuh beserta sekutu dan proksi mereka di Kawasan. Iran telah menunjukkan kepada dunia, khususnya bangsa-bangsa tertindas, bahwa dengan keberanian, perlawanan, keteguhan, dan iman, sekuat apa pun dan sezalım apa pun musuhnya, kemenangan pada akhirnya akan berpihak kepada mereka.

Mungkin membutuhkan waktu lama, tetapi kemenangan pasti akan datang cepat atau lambat. Pengorbanan mereka di sepanjang jalan panjang dan penuh penderitaan dalam menjaga harga diri, kehormatan, dan hak-hak sah bangsa tidak akan pernah sia-sia.

Dalam beberapa bulan terakhir, kekuatan militer dan diplomasi Iran terlihat jelas. Setelah menimbulkan kerugian besar bagi kubu AS-Israel dan memaksa mereka untuk meminta gencatan senjata, Iran kini memperoleh penghormatan tinggi di kancah internasional setelah perundingan di Islamabad, di mana mereka menolak sikap arogan serta tuntutan maksimalis Amerika Serikat.

Hal ini pada hakikatnya merupakan kekalahan telak dan memalukan bagi hegemoni dunia yang mengeklaim memiliki “Militer paling kuat di dunia” — sebuah negara yang sebelumnya telah kalah dalam perang agresif, tanpa provokasi, dan tidak adil yang dimulainya terhadap Iran pada 28 Februari.

Namun, ini bukan pertama kalinya Amerika Serikat dan sekutunya mengalami kekalahan memalukan di tangan bangsa Iran yang besar, pasukan pertahanan yang berani, serta kepemimpinan yang bijaksana dan penuh pertimbangan.

Iran secara konsisten dan tegas mempertahankan hak serta posisi sahnya dalam berbagai isu nasional dan internasional di tingkat global, termasuk di Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya di Badan Nuklir PBB (IAEA), organisasi-organisasi afiliasi PBB lainnya, serta dalam berbagai perundingan yang dimediasi oleh negara-negara penengah selama 47 tahun terakhir.

Apa pun tingkat kesulitan dan permusuhan yang dihadapi, salah satu aspek terpenting dari perlawanan heroik Iran adalah kekuatan diplomasi dan kebijakan luar negeri, yang terlihat jelas dalam setiap keberhasilan perundingan yang dipimpin oleh para diplomatnya yang berani.

Diplomasi Perlawanan

Iran telah memperkenalkan jenis diplomasi baru dalam kamus modern hubungan internasional: “diplomasi perlawanan”. Iran menunjukkan bahwa pendekatan ini dapat berhasil jika sebuah bangsa yang teguh berdiri dengan loyalitas kepada pemimpinnya yang berani dan bijaksana, mengikuti arahan, memperjuangkan hak-haknya, serta memberikan dukungan penuh kepada para diplomatnya yang gigih, tak kenal lelah, setia, dan cerdas.

“Diplomasi perlawanan”, berbeda dengan semua bentuk diplomasi dalam teori klasik—mulai dari diplomasi senyap untuk menyelesaikan masalah atau membangun pengaruh di masa damai, hingga diplomasi kekuatan bersenjata di masa perang—merupakan yang paling sulit. Pendekatan ini mencakup berbagai jenis diplomasi dan mengandung seluruh unsur diplomasi konvensional.

Namun, secara unik, pendekatan ini menuntut keberanian jangka panjang, ketekunan tanpa henti, serta keteguhan dari para diplomat yang harus terus bekerja di bawah tekanan mental yang besar, menghadapi ancaman dari kekuatan hegemonik—bukan hanya satu negara, melainkan koalisi negara-negara yang pada kenyataannya tidak menghormati norma diplomasi.

Para musuh bertekad menghancurkan sistem Pemerintahan Islam Iran dan menekan rakyatnya melalui berbagai cara—mulai dari agresi militer, sanksi ekonomi, hingga penutupan akses medis yang vital.

Berunding secara berulang dalam jangka waktu panjang di bawah tekanan psikologis yang besar, sambil terus mencari cara untuk mengajukan gagasan dan proposal baru demi mempertahankan hak-hak bangsa, serta menganalisis niat tersembunyi pihak lawan di meja perundingan dengan ketajaman pandangan—semua ini merupakan sebuah maraton diplomasi yang luar biasa.

Selain itu, para diplomat Iran menyadari bahwa kehidupan mereka dan keluarga selalu berada dalam ancaman pembunuhan oleh pihak-pihak yang tidak mengenal batas kemanusiaan dan tidak menghormati hukum internasional.

Kekhawatiran tersebut semakin besar ketika rekan-rekan mereka menjadi target oleh pemerintah dari pihak yang justru menjadi mitra negosiasi, yang kemudian secara terbuka mengumumkan tindakan keji tersebut di media internasional.

Namun, sumber kekuatan utama para diplomat ini adalah bangsa mereka sendiri yang tangguh serta kepemimpinan yang bijaksana, yang memberikan kepercayaan penuh kepada mereka. Kombinasi ini menjadi sumber kekuatan batin dalam menghadapi penindasan dan kejahatan perang di meja perundingan.

Skenario Rubah dan Landak – Menghadapi Musuh yang Licik

Dalam hubungan internasional, baik di masa perang maupun damai, dua alat utama yang sering digunakan oleh kekuatan hegemonik adalah penggunaan kekuatan dan tipu daya.

Hal ini dapat diibaratkan dengan skenario klasik “rubah dan landak” di hutan.

Aliansi AS-Zionis-Eropa dan mitra Arabnya kerap bertindak seperti rubah—menggunakan berbagai taktik licik dan manipulatif, seperti perang delapan tahun, revolusi warna, pembunuhan, penghasutan kerusuhan, sanksi ekonomi maksimum, pengeboman tanpa pandang bulu, dukungan terhadap kelompok teroris, propaganda media, dan berbagai upaya lainnya untuk melemahkan Republik Islam.

Namun, seperti rubah dalam cerita tersebut, upaya mereka selalu gagal.

Sebaliknya, Republik Islam Iran memainkan peran sebagai landak—sederhana namun teguh dalam pendekatannya.

Sejak Revolusi Islam 1979, Imam Khomeini secara terbuka menyatakan bahwa Revolusi ini akan mendukung bangsa-bangsa tertindas dan membela hak-hak mereka.

Iran menegaskan bahwa kebijakan luar negerinya transparan dan jujur. Sejak Revolusi tersebut—bahkan dalam 300 tahun terakhir—Iran tidak menyerang negara lain. Iran mempertahankan wilayahnya, tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain, tidak melanggar hukum internasional, dan berupaya mendukung bangsa tertindas, meskipun harus mengorbankan kepentingannya sendiri.

Dalam perjalanan ini, Iran telah mengorbankan pemimpin besar, komandan militer, ilmuwan, intelektual, dan rakyatnya.

Keberhasilan Besar Diplomasi Perlawanan

Keberhasilan “diplomasi perlawanan” Iran juga terlihat dalam berbagai bidang hubungan luar negeri. Selama 47 tahun terakhir, Iran mengalami kemajuan dalam ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, budaya, pariwisata, pelatihan tenaga kerja, manufaktur, serta perdagangan.

Ribuan mahasiswa asing menempuh pendidikan di universitas dan lembaga pendidikan Iran, dan kini menjadi duta bagi pencapaian, sejarah, serta budaya Iran.

Iran juga rutin menyelenggarakan berbagai konferensi dan kegiatan internasional yang diikuti oleh akademisi dan peserta dari berbagai negara.

Salah satu hasil penting lainnya adalah berkembangnya ekonomi yang berkelanjutan dan relatif mandiri, berkat pemanfaatan sumber daya dan kemampuan domestik tanpa mengorbankan prinsip dalam perundingan.

Iran kini mampu memproduksi berbagai kebutuhan penting, termasuk obat-obatan.

Dengan demikian, “diplomasi perlawanan” menjadi jalan baru yang terus ditempuh Iran di tengah berbagai tantangan dan ancaman.

Bangsa Iran, Angkatan Bersenjatanya, serta kepemimpinannya tetap teguh, percaya kepada Tuhan, dan menunjukkan kepada dunia bahwa hidup bermartabat adalah hal yang mungkin.

Iran juga membuktikan bahwa bangsa lain dapat mengikuti jalan yang sama tanpa mengorbankan prinsip, dan tetap mencapai keberhasilan besar.

Oleh: Dr. Ahmad Habibullah

Sumber: Press TV

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *