Loading

Ketik untuk mencari

Analisa

Persekongkolan Rahasia UEA-Israel Aktifkan Takfiri ISIS di Jalur Gaza

POROS PERLAWANAN – Artikel eksklusif The Washington Post pada 18 November berjudul “Gang Looting Gaza Aid Operate in Areas Under Israeli Control, Aid Groups Say” mengungkap sisi kelam dinamika konflik di Gaza. Laporan ini mencatat adanya kelompok bersenjata yang secara sistematis merampas bantuan kemanusiaan di Gaza selatan, tepatnya di wilayah yang dikuasai oleh Israel. Penolakan otoritas Israel terhadap permintaan perlindungan tambahan untuk konvoi bantuan, serta pelarangan keterlibatan pihak berwenang Gaza, memperlihatkan pengabaian yang disengaja terhadap perlindungan dan distribusi bantuan yang sangat dibutuhkan.

Kolaborasi Rahasia: UEA, Israel, dan ISIS

Selama bertahun-tahun, hubungan antara Israel, negara-negara Teluk Persia, dan kelompok-kelompok Takfiri seperti ISIS atau Jabhat al-Nusra (Front al-Nusra) telah menjadi bahan spekulasi. Ini bukan fenomena baru. Sejak konflik Suriah, berbagai laporan telah mengungkap hubungan mesra antara Israel dan sejumlah kelompok teroris yang bertujuan untuk menghancurkan basis perlawanan di kawasan tersebut. Kini, sumber diplomatik mengungkapkan dimensi baru dari kolaborasi tersebut dalam konflik yang sedang berlangsung di Gaza.

Menurut sumber-sumber tersebut, ISIS kini telah diberi peran strategis oleh Israel dan Uni Emirat Arab (UEA) untuk menciptakan ketidakstabilan yang terorganisasi di Gaza. Taktik yang digunakan adalah merampas bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza dan mengubahnya menjadi narasi seolah-olah penjarahan tersebut dilakukan oleh warga Palestina sendiri. Tujuan utamanya adalah untuk melemahkan simpati internasional terhadap perjuangan Palestina dan memperkuat kontrol Israel atas wilayah tersebut.

Yaser Abu Syabab: Dalang Penjarahan di Gaza

Yaser Abu Syabab, nama yang mulai dikenal dalam beberapa pekan terakhir di Gaza, merupakan pemimpin kelompok bersenjata yang kerap merampas bantuan kemanusiaan yang seharusnya disalurkan kepada warga sipil. Menurut laporan, Abu Syabab memiliki hubungan erat dengan UEA, yang telah merekrut sejumlah elemen sisa ISIS untuk menjalankan misi destruktif ini. Beberapa pekan sebelum penjarahan besar-besaran dimulai, Abu Syabab bertemu dengan pejabat keamanan Israel dan UEA untuk merancang strategi operasi penjarahan bantuan.

Abu Syabab sebelumnya dikenal sebagai pendukung kuat ISIS di Gaza. Ia ditahan oleh pasukan Hamas selama 13 bulan atas tuduhan kriminal, namun dibebaskan setelah pertempuran terakhir di Gaza. Kini, ia bebas beroperasi di wilayah yang berada di bawah pengawasan ketat militer Israel, memimpin kelompok bersenjata yang secara sistematis merampas bantuan.

Jejak Dukungan Israel dan UEA

Abu Syabab berasal dari suku Tarabin, yang beroperasi di Gaza selatan, Gurun Negev, dan Semenanjung Sinai. Sumber dari PBB yang dikutip The Washington Post menyebutkan bahwa Abu Syabab adalah tokoh kunci di balik penjarahan sistematis bantuan kemanusiaan di wilayah timur Rafah. Di bawah komandonya, kelompok ini menyerang truk bantuan, menutup jalan dengan penghalang tanah, dan menggunakan senjata untuk menghentikan konvoi bantuan. Dengan sekitar 100 anggota, kelompok ini melakukan serangan yang semakin memperburuk krisis kelaparan di Gaza.

Salah satu insiden besar terjadi pada awal Oktober ketika kelompok Abu Syabab menyerang 80 dari 100 truk bantuan, dan merampas seluruh muatannya. Para pengemudi truk sering kali diintimidasi dan dibunuh, dan banyak di antara mereka yang kini menolak untuk mengangkut bantuan ke Gaza. Keberhasilan kelompok ISIS dalam merampas bantuan dengan dukungan dari Israel dan UEA menunjukkan bahwa kelompok ini beroperasi dengan impunitas yang jelas.

UEA dan Ambisi Pascakonflik di Gaza

Peran UEA dalam krisis ini tidak hanya terbatas pada penjarahan bantuan. Media Israel sebelumnya melaporkan bahwa UEA tengah berusaha untuk memperluas pengaruhnya di Gaza melalui dukungan terhadap Muhammad Dahlan, mantan Kepala Keamanan Otoritas Palestina. Dahlan, yang memiliki latar belakang kontroversial termasuk keterlibatannya dalam upaya pembunuhan Ismail Haniyeh pada 2006, kini menjadi kandidat kuat yang didorong oleh UEA untuk mengambil alih Gaza setelah konflik berakhir. Dengan mengendalikan Gaza melalui figur seperti Dahlan, UEA berharap bisa memperbesar pengaruh politiknya di Palestina dan mempererat hubungan dengan Israel.

Krisis Kemanusiaan yang Terabaikan

Selain dampak langsung penjarahan, krisis kemanusiaan di Gaza semakin memburuk. Menurut laporan PBB dan data organisasi bantuan internasional, lebih dari 2 juta warga Gaza kini terperangkap dalam kondisi kelaparan yang akut. Sebagian besar bantuan yang masuk ke Gaza dirampas oleh kelompok-kelompok bersenjata seperti yang dipimpin Abu Syabab. Ini menunjukkan betapa rendahnya tingkat prioritas yang diberikan oleh Israel dan UEA terhadap kesejahteraan rakyat Gaza. Bahkan ketika dunia mengutuk genosida Palestina, UEA tetap mempertahankan hubungan diplomatik dengan Israel demi kepentingan politik mereka.

Serangan Terpadu terhadap Poros Perlawanan

Kolaborasi antara Israel, UEA, dan ISIS bukanlah sekadar permainan geopolitik, tetapi merupakan upaya sistematis untuk menghancurkan Poros Perlawanan di Palestina. Dukungan terang-terangan UEA kepada Israel, termasuk melalui pengaktifan kembali kelompok Takfiri ISIS, mencerminkan strategi yang dirancang untuk menciptakan destabilisasi permanen di Gaza dan memecah soliditas Perlawanan Palestina.

ISIS digunakan bukan hanya sebagai alat untuk menciptakan kekacauan, tetapi juga untuk memecah-belah kekuatan lokal dan membangun narasi bahwa Gaza adalah wilayah yang tidak terkendali dan membutuhkan intervensi eksternal. Sementara itu, UEA memanfaatkan kekacauan ini untuk memperkuat posisinya di Palestina, menciptakan ruang bagi ekspansi pengaruhnya melalui tokoh-tokoh seperti Muhammad Dahlan.

Upaya ini tidak hanya merusak nilai-nilai kemanusiaan, tetapi juga menggarisbawahi ambisi besar untuk melemahkan perjuangan rakyat Palestina terhadap dominasi Israel dan sekutunya. Dengan menghidupkan kembali ancaman Takfiri di Gaza yang sudah tertekan, UEA dan Israel membuktikan bahwa mereka tidak segan-segan menggunakan strategi paling destruktif untuk menghancurkan aspirasi kemerdekaan Palestina dan membungkam Perlawanan yang telah menjadi simbol keteguhan rakyat Gaza. [PP/MT]

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *