Perwakilan Hizbullah di Parlemen Lebanon: Jalan Perjuangan Syahid Abu Ali dan Syuhada Lainnya Terus Berlanjut
POROS PERLAWANAN – Perwakilan senior Hizbullah, Hassan Ezzedine menegaskan bahwa “seluruh agresi musuh Zionis terhadap Lebanon dilakukan dengan koordinasi dan otorisasi Amerika Serikat”. Ia menilai serangan brutal di pinggiran Beirut sebagai agresi terhadap seluruh Lebanon, dan menekankan bahwa Perlawanan akan terus melanjutkan jalan perjuangan syahid Abu Ali beserta seluruh syuhada lainnya.
Menurut Tasnimnews, dalam pidatonya pada Rabu 26 November, Ezzedine selaku anggota blok “Loyalitas Perlawanan” di parlemen Lebanon, membahas perkembangan situasi serta agresi berkelanjutan Rezim Zionis. Ia menyatakan, “Kita memahami sepenuhnya hakikat musuh kriminal ini, yang tidak membedakan antara tentara dan warga sipil. Mereka menghancurkan infrastruktur sipil dan membunuh warga yang tidak bersalah, termasuk perempuan, anak-anak, dan lansia.”
Ia melanjutkan, “Kita sendiri telah menyaksikan kebiadaban Zionis. Apa yang terjadi di Gaza membuka mata dunia dan menjadi noda moral bagi umat manusia.”
“Di tengah kebisuan komunitas internasional, termasuk PBB dan lembaga-lembaga hak asasi manusia, musuh Zionis memperlakukan manusia hanya sebagai angka, dan tidak ragu melakukan kejahatan apa pun,” tambahnya.
Terkait serangan terbaru di Beirut selatan yang menewaskan seorang Komandan senior Hizbullah, Sayyid Haitsam Ali Thabathabai (Abu Ali), Ezzedine menyatakan, “Yang terjadi adalah agresi besar-besaran. Serangan ini menargetkan seluruh Lebanon, bukan hanya Hizbullah atau jajaran pemimpin Perlawanan. Warga Lebanon secara keseluruhan menjadi sasaran.”
Ia menegaskan bahwa warga Lebanon yang menjadi korban agresi Zionis memiliki negara dan pemerintah yang berkewajiban melindungi mereka. Menurutnya, setiap langkah Rezim Zionis dilakukan dengan restu Amerika Serikat, yang memberikan kebebasan penuh bagi Rezim tersebut dalam menentukan tindakan militernya.
“Jika musuh mampu melemahkan kemampuan Lebanon dalam menghadapi Perlawanan,” ujarnya, “mereka akan melancarkan serangan sebagai bagian dari proyek ‘Israel Raya’ yang pernah diumumkan Perdana Menteri pendudukan, Benyamin Netanyahu.”
Ia menambahkan bahwa setelah Perlawanan Lebanon mengusir Israel pada 2000 silam dan menggagalkan rencana mereka pada 2006, Rezim Zionis terus mencari peluang untuk membalas dendam terhadap Lebanon.
“Kami telah kehilangan banyak pemimpin, komandan, dan pejuang dalam pertempuran terakhir,” katanya. “Namun kami tidak kalah dan tidak akan pernah menyerah. Tidak ada pihak yang boleh meremehkan kami, dan kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi.”
Ia menegaskan bahwa Hizbullah tengah membangun fondasi bagi negara Lebanon yang sejati, sebuah pemerintahan yang adil, kompeten, dan mampu melindungi rakyatnya. Tekanan yang dilakukan musuh saat ini, lanjutnya, bertujuan menutupi kegagalan mereka sebelumnya, termasuk kegagalan ofensif darat yang melibatkan lima divisi militer.
“Para pejuang kami menghadapi musuh dengan cara yang kelak dicatat sejarah dengan tinta emas,” ujarnya. “Untuk memberi Rezim Zionis kemenangan yang tidak dapat mereka capai di medan perang, Amerika kini menekan Lebanon secara politik, ekonomi, dan finansial. Dampaknya dialami seluruh rakyat, dengan tujuan memaksa negara ini menyerah.”
Menutup pernyataannya, Ezzedine menegaskan, “Perlawanan yang dipimpin Syahid Al-Thabathabai telah menggagalkan seluruh rencana musuh. Meski menghadapi rasa sakit dan penderitaan yang besar, Perlawanan tetap teguh. Jalan para syuhada adalah amanah di pundak para pemimpin Hizbullah, para pejuang, dan kita semua. Kita berkewajiban melanjutkan jalan itu.”
