Pesan Haji Ayatullah Mujtaba Khamenei: Dari Ritual Spiritual menuju Manifesto Perlawanan Umat
POROS PERLAWANAN — Di tengah memanasnya medan geopolitik Timur Tengah dan berlanjutnya perang di Gaza, Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatullah Mujtaba Khamenei, merilis pesan haji 1447 Hijriah yang tidak hanya bernuansa spiritual, tetapi juga sarat dengan narasi perlawanan, persatuan umat Islam, dan perubahan tatanan global.
Pesan yang disampaikan menjelang puncak ibadah haji 9 Dzulhijjah 1447 H itu menempatkan haji bukan hanya ritual individual, melainkan sebagai kerangka besar transformasi spiritual dan sosial-politik umat Islam. Dalam bahasa yang kental dengan simbolisme Revolusi Islam Iran, Ayatullah Mujtaba Khamenei menggambarkan haji sebagai jalan hijrah kolektif dari kehidupan material menuju kehidupan tauhid yang berporos pada penghambaan kepada Allah.
“Kesempatan untuk berhijrah ini bukan hanya milik para tamu dan jamaah haji Baitullah tahun ini semata, melainkan mencakup seluruh saudara-saudari Muslim bahkan seluruh umat manusia,” tulisnya.
Pesan tersebut dibuka dengan talbiyah haji, lalu berkembang menjadi refleksi panjang mengenai makna ihram, thawaf, sa‘i, wuquf, hingga ritual lempar jumrah. Namun seluruh simbol ritual itu ditafsirkan dalam dimensi yang lebih luas: perjuangan melawan hawa nafsu, dominasi asing, serta kekuatan yang dianggap menindas dunia Islam.
Dalam salah satu bagian paling ideologis, Ayatullah Mujtaba Khamenei menyebut Revolusi Islam Iran sebagai kelanjutan dari “seruan Ibrahimiah” Imam Khomeini. Ia menegaskan bahwa bangsa Iran berhasil menggulingkan rezim monarki Pahlavi, memutus pengaruh Amerika Serikat, dan menyingkirkan dominasi Zionisme dari Iran.
Pesan revolusioner dalam pesan tersebut tampak kuat melalui pengulangan frasa “Allahu Akbar” yang diposisikan bukan hanya sebagai zikir religius, tetapi juga sebagai simbol kekuatan politik dan perlawanan. Menurutnya, “senjata Allahu Akbar” telah menjadi fondasi perjuangan Iran sejak Revolusi Islam 1979, perang Iran-Irak, hingga konflik-konflik regional kontemporer.
Ia juga menempatkan “Poros Perlawanan” sebagai elemen utama dalam perubahan geopolitik kawasan. Poros itu digambarkan membentang dari Iran, Lebanon, Palestina, Irak, dan Suriah hingga Yaman, Afghanistan, Pakistan, serta berbagai “bangsa merdeka dunia”. Dalam pandangannya, jaringan tersebut telah memainkan peran sentral dalam menghadapi Israel dan Amerika Serikat.
Ayatullah Mujtaba Khamenei secara eksplisit menyinggung “Operasi Badai Al-Aqsa” sebagai bagian dari rangkaian perjuangan melawan Israel. Ia bahkan menyebut rezim Zionis sebagai “kanker ganas” yang disebutnya tengah mendekati akhir eksistensinya.
“Rezim Zionis yang rapuh dan kanker ganas Israel pun telah mendekati tahap akhir usia laknatnya,” tulisnya.
Salah satu penekanan utama dalam pesan itu adalah konsep bara’ah min al-musyrikin atau berlepas diri dari kaum musyrik. Menurut Ayatullah Mujtaba Khamenei, makna bara’ah pada musim haji tahun ini melampaui ritual simbolik di Tanah Suci dan harus hadir dalam kehidupan sosial-politik umat Islam di berbagai penjuru dunia.
Dalam konteks itu, ia menyatakan slogan “Maut bagi Amerika” dan “Maut bagi Israel” akan tetap menjadi seruan umum umat Islam dan kaum tertindas dunia, terutama generasi muda.
Di sisi lain, pesan tersebut juga memuat ajakan kepada negara-negara Islam untuk membangun kerja sama dan solidaritas demi membentuk “arsitektur masa depan kawasan dan dunia”. Ia menilai dominasi Amerika Serikat di Timur Tengah terus mengalami kemunduran dan kawasan tidak lagi akan menjadi ruang aman bagi pangkalan militer Washington.
Selain narasi geopolitik, pesan haji itu ditutup dengan serangkaian doa bagi persatuan umat Islam, pembebasan Palestina dan Masjid Al-Aqsa, serta kemunculan Imam Mahdi menurut keyakinan Syiah Imamiyah. Ia juga menyerukan agar jamaah haji mendoakan kemenangan akhir umat Islam atas apa yang disebutnya sebagai “kesombongan global”.
Dengan perpaduan antara spiritualitas haji, retorika revolusioner, dan pesan geopolitik, dokumen tersebut memperlihatkan bagaimana Iran terus memosisikan isu Palestina, perlawanan regional, dan solidaritas umat Islam sebagai bagian integral dari identitas ideologis Revolusi Islam.
