Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

The Intercept Ungkap Kejanggalan dan Manipulasi Data Korban Militer AS dalam Perang Melawan Iran

POROS PERLAWANAN — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menjadi sorotan setelah menyampaikan angka korban Militer AS dalam perang melawan Iran yang bertolak belakang dengan laporan media dan data internal Pentagon.

Menurut laporan Fars News Agency pada Senin 25 Mei, Trump mengeklaim Amerika Serikat hanya kehilangan 13 personel Militer dalam perang melawan Iran dan Venezuela. Dia menyebut operasi militer terhadap Iran dengan nama “Epic Fury” dan menyatakan jumlah korban tewas hanya 13 orang.

Namun, media investigatif Amerika, The Intercept, sebelumnya menyoroti berbagai ketidaksesuaian dalam statistik korban yang dirilis Pentagon dalam perang melawan Iran. Media tersebut menuding Departemen Pertahanan AS melakukan penyembunyian data korban di tengah meningkatnya pertanyaan mengenai biaya manusia dari perang tersebut.

Dalam laporan tertanggal 22 April, The Intercept menyebut bahwa pada hari diberlakukannya gencatan senjata antara Iran dan Pemerintahan Trump, jumlah korban tewas dan luka di pihak Militer AS diumumkan mencapai 385 orang. Meski pertempuran telah berhenti, angka itu beberapa hari kemudian meningkat menjadi 428 orang.

Namun sehari setelahnya, tanpa penjelasan resmi dari Pentagon, jumlah korban luka tiba-tiba berkurang 15 orang sehingga total korban berubah menjadi 413 orang. Dalam salah satu laporan resmi Kementerian Pertahanan AS, jumlah keseluruhan korban bahkan tercatat 411 orang.

The Intercept melaporkan dua Jubir Pentagon menghindari pertanyaan mengenai 15 korban luka yang hilang dari statistik resmi. Mereka berdalih hanya “petugas jaga” yang dapat memberikan penjelasan, namun pejabat tersebut disebut tidak berada di tempat.

Media itu menilai angka resmi Pentagon kemungkinan hanya mencerminkan sebagian kecil dari total korban sebenarnya. Seorang pejabat Pemerintah AS yang dikutip The Intercept menyebut praktik tersebut sebagai bentuk “penyembunyian statistik korban”.

Laporan tersebut juga menyoroti bahwa sistem pendataan korban Militer Pentagon tidak memasukkan banyak korban luka non-tempur dalam statistik resmi. Padahal, menurut studi militer AS sendiri, cedera non-tempur dan penyakit merupakan faktor terbesar yang mengurangi kemampuan tempur pasukan selama perang.

Selain dugaan manipulasi dan pengurangan jumlah korban luka, laporan itu menyebut Pentagon kemungkinan juga tidak memasukkan sebagian korban tewas ke dalam daftar resmi perang melawan Iran. Salah satu nama yang disorot ialah Mayor Surfley Davius yang tewas pada 6 Maret 2026 di Kuwait dalam operasi “Epic Fury”. Meski mendapat penghormatan dari anggota Kongres dan petinggi Militer AS sebagai prajurit yang gugur dalam perang, namanya disebut tidak tercantum dalam daftar korban resmi Pentagon.

Laporan tersebut juga mengingatkan bahwa pola serupa pernah terjadi setelah serangan rudal Iran terhadap Ain al-Asad Airbase pada 2020. Saat itu, Trump awalnya menyatakan tidak ada tentara Amerika yang terluka. Namun belakangan terungkap lebih dari 100 personel Militer AS mengalami cedera otak traumatis.

Menurut The Intercept, pola pengurangan data korban dan minimnya transparansi tersebut menunjukkan adanya upaya berulang Pemerintah AS untuk membentuk persepsi publik mengenai biaya sebenarnya dari operasi militer luar negeri.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *