Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Petinggi Hamas Ungkap Rincian Baru tentang Kegagalan Serangan Teroris Israel di Doha

POROS PERLAWANAN – Seorang pejabat senior Hamas mengungkapkan bahwa upaya pembunuhan yang dilakukan oleh rezim Zionis terhadap delegasi Hamas di Doha, Qatar, berhasil digagalkan berkat langkah-langkah keamanan yang telah diambil sebelumnya oleh Gerakan Perlawanan.

Dalam wawancaranya dengan Arabi21, Anggota Biro Politik Hamas, Muhammad Nazzal menyatakan bahwa serangan rudal yang menargetkan pemimpin Hamas di Doha telah gagal total. Menurutnya, semua tokoh utama yang menjadi sasaran, selamat dari upaya pembunuhan tersebut.

“Serangan teroris pengecut ini menghancurkan ilusi Netanyahu dan berubah menjadi mimpi buruknya,” ujarnya.

Kronologi Serangan

Menurut laporan Tasnim News Agency pada Minggu 14 September, rudal yang ditembakkan oleh rezim Israel mengenai lima staf di Departemen Administrasi Hamas, termasuk Hammam, putra dari Wakil Kepala Biro Politik Hamas Khalil al-Hayyah, serta Badr al-Hamidi al-Dosari, seorang petugas keamanan Qatar. Keduanya gugur dalam serangan tersebut bersama tiga korban lainnya.

Serpihan rudal juga melukai Umm Osama (istri Khalil al-Hayyah), menantu perempuannya, serta cucunya, Abdulrahman, namun ketiganya hanya mengalami luka ringan.

Bantahan atas Rumor Intelijen

Menanggapi sejumlah klaim di media yang menyebut Hamas telah menerima peringatan dari Turki atau Mesir sebelum serangan terjadi, Nazzal menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar.

“Jika kami menerima peringatan, rumah Khalil al-Hayyah tentu telah dievakuasi sebelumnya,” katanya.

Namun, ia mengakui bahwa Hamas telah menerima peringatan intelijen umum dari sejumlah pihak sahabat, yang memperkirakan adanya ancaman terhadap para pemimpin Hamas di luar negeri.

“Rezim Zionis tidak mematuhi aturan apa pun. Tak ada satu pun tempat yang aman, baik di Turki maupun Qatar,” tegasnya.

Respons dan Implikasi Politik

Muhammad Nazzal menyebut kegagalan operasi pembunuhan ini sebagai pukulan serius bagi Netanyahu, yang berambisi meraih kemenangan simbolis untuk kepentingan domestik.

“Netanyahu siap mendeklarasikan kemenangan, tetapi justru dipaksa menelan kekalahan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan kekecewaan terhadap sikap Otoritas Palestina (PA), yang hanya mengutuk pelanggaran terhadap kedaulatan Qatar, tetapi tidak mengecam langsung pembunuhan terhadap anggota Hamas.

“Tidak ada belasungkawa, tidak ada empati. Ini mencerminkan sikap tak bertanggung jawab terhadap rakyat Palestina,” tambahnya.

Reaksi Internasional dan Keterlibatan Amerika

Hamas juga menanggapi pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang mengeklaim bahwa serangan itu adalah keputusan Netanyahu pribadi, dan AS telah memberi tahu Qatar sebelumnya.

Muhammad Nazzal menyebut pernyataan Trump sebagai menyesatkan, dan menuduh AS mengetahui, bahkan kemungkinan terlibat, dalam operasi tersebut.

“Pangkalan militer Amerika di kawasan ini pasti mendeteksi aktivitas rudal, tapi mereka tidak memberi tahu Qatar,” katanya.

Serangan ini telah membuat Qatar menangguhkan perannya sebagai mediator. Hamas menyatakan akan meninjau kembali posisinya dalam proses negosiasi gencatan senjata.

Mengenai tekanan internasional dan upaya pelucutan senjata Hamas, Nazzal menegaskan bahwa hal tersebut mustahil terjadi.

“Pelucutan senjata berarti melucuti hak rakyat Palestina untuk membela diri dan Tanah Air mereka,” katanya.

Ia juga mengungkap bahwa senjata sederhana para pejuang Perlawanan terbukti efektif, seperti dalam operasi terbaru di Jabalia, yang menewaskan sedikitnya empat tentara Zionis.

Pascaperang: Komite Nasional dan Masa Depan Gaza

Nazzal membenarkan bahwa Mesir telah mengajukan proposal pembentukan Komite Nasional untuk mengelola Gaza pascaperang. Usulan ini telah diterima oleh semua faksi Palestina kecuali Fatah. Hingga kini, Komite tersebut belum terbentuk.

Analisis POROS PERLAWANAN

Kegagalan Netanyahu di Doha adalah Titik Balik yang Meruntuhkan Mitos Kedigdayaan Intelijen Zionis

Upaya pembunuhan para pemimpin Hamas di tanah Qatar merupakan peristiwa gegabah dan sembrono, dari rezim Zionis. Serangan itu tidak hanya merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan negara mediator, tetapi juga menjadi bukti bahwa Israel semakin panik dalam menghadapi kebuntuan di Gaza.

Gagalnya operasi ini memiliki dampak strategis ganda: meruntuhkan mitos kemampuan intelijen Zionis dan mempermalukan Netanyahu di hadapan publik internasional dan dalam negeri. Israel yang ingin membunuh simbol-simbol perlawanan justru kehilangan narasi “kendali penuh” yang selama ini dibanggakan.

Lebih jauh lagi, keberhasilan Hamas dalam mempertahankan keamanannya di luar negeri adalah kemenangan dalam perang non-militer: perang psikologis, perang intelijen, dan perang opini. Ini menunjukkan bahwa Poros Perlawanan tidak hanya bertahan di medan tempur, tetapi juga di wilayah diplomatik dan geopolitik.

Netanyahu berharap membungkam suara perlawanan dengan rudal, namun yang terjadi adalah sebaliknya, gelombang dukungan terhadap Hamas dan Perlawanan Palestina justru menguat, bahkan dari negara-negara yang selama ini memilih diam.

Tags: