Mantan Presiden Irlandia Mengaku Malu dengan Sikap Hipokrit Uni Eropa Terkait Agresi Brutal Israel di Gaza
POROS PERLAWANAN – Presiden perempuan pertama Republik Irlandia dan mantan Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Mary Robinson mengungkapkan kekecewaannya terhadap sikap Uni Eropa dalam menyikapi agresi brutal Israel di Jalur Gaza.
Dalam pernyataannya yang dikutip Tasnim News Agency pada Minggu 14 September, Robinson mengatakan, “Saya merasa malu dengan sikap Uni Eropa terhadap perang Israel di Gaza.”
Ia menegaskan bahwa Uni Eropa seringkali mengeklaim membela hak asasi manusia, namun gagal mengambil langkah nyata untuk menghentikan kejahatan yang dilakukan oleh rezim Zionis. “Uni Eropa berbicara tentang hak asasi manusia, tetapi bahkan tidak mampu menangguhkan perjanjian perdagangan dengan Israel, dan itu sungguh memalukan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Robinson menyerukan penghentian total dukungan militer terhadap Israel sebagai langkah konkret untuk menghentikan genosida di Gaza. “Segala cara harus digunakan untuk menghentikan perang di Gaza, dan cara yang semestinya adalah penghentian total bantuan senjata ke Israel,” tegasnya.
Analisis
Tanda Bangkitnya Suara Keadilan di Barat yang Retak
Pernyataan Mary Robinson tidak bisa dibaca hanya sebagai kritik moral dari seorang mantan pejabat tinggi Eropa, melainkan indikasi nyata bahwa retakan mulai muncul dalam keseragaman sikap Barat yang selama ini diam atau bahkan mendukung agresi Israel.
Ketika tokoh sekelas Robinson, yang berasal dari jantung Eropa dan memiliki latar belakang diplomatik internasional, secara terbuka menyebut sikap Uni Eropa sebagai sesuatu yang memalukan, maka itu menandakan bahwa kebohongan yang selama ini dibungkus retorika “hak asasi manusia” mulai terkuak.
Sikap hipokrit Uni Eropa, berteriak soal nilai-nilai universal sambil melindungi entitas penjajah, tak lagi bisa disembunyikan dari publik global yang menyaksikan kehancuran Gaza secara langsung. Suara-suara seperti Robinson menjadi gema yang memperkuat narasi kebenaran, bahwa dunia harus memilih, berpihak pada penjajah, atau berdiri bersama rakyat yang dijajah.
Gaza hari ini telah menjadi cermin, siapa yang benar-benar menjunjung kemanusiaan, dan siapa yang menjualnya demi kepentingan geopolitik dan kekuasaan.
