Loading

Ketik untuk mencari

Palestina

Pisau Cukur di Leher Anak Palestina: Ketika Dunia Rayakan Hari Kesehatan, Gaza Terkapar Tak Dihiraukan

POROS PERLAWANAN — Ketika dunia memperingati Hari Kesehatan Sedunia dengan harapan dan seruan untuk pemerataan akses layanan medis, realitas di Jalur Gaza justru memperlihatkan paradoks paling tragis: sistem kesehatan yang nyaris runtuh, rumah sakit tanpa listrik, anak-anak sekarat karena kelaparan, dan vaksin polio yang tertahan di perbatasan.

“Kondisi kesehatan di Gaza telah mencapai titik nadir. Ini bukan lagi krisis—ini bencana,” tegas Wakil Menteri Kesehatan Gaza, Dr. Yousef Abu al-Rish, pada Senin 7 April.

Vaksin Polio Ditahan, 600.000 Anak Terancam Lumpuh

Salah satu isu paling mengkhawatirkan yang disampaikan Kementerian Kesehatan Gaza adalah pencegahan masuknya vaksin polio oleh rezim Pendudukan Israel. Dengan lebih dari 600.000 anak-anak di Gaza yang belum divaksinasi dan kini terancam mengalami kelumpuhan permanen, situasi ini disebut sebagai “bom waktu” oleh para pejabat medis.

“Ini bukan sekadar penundaan logistik,” kata Dr. Abu al-Rish. “Ini sabotase terhadap masa depan anak-anak kami.”

Rumah Sakit Tanpa Obat, Operasi Tanpa Anestesi

Dalam keterangan resminya, Kementerian Kesehatan menyebut bahwa 59 persen stok obat-obatan esensial telah habis total. Di banyak rumah sakit, pasien hanya bisa berharap pada generator listrik tua yang sering rusak karena kekurangan bahan bakar, oli, dan suku cadang.

“Kami melakukan operasi darurat tanpa anestesi. Bayangkan anak-anak yang harus dijahit luka perang, mereka dalam keadaan sadar penuh,” ujar seorang tenaga medis dari Rumah Sakit Al-Shifa yang meminta namanya dirahasiakan karena alasan keamanan.

Tak hanya itu, 274 bayi dilaporkan gugur sebagai “martir” sejak perang dimulai—banyak di antaranya lahir prematur dan tidak mendapat akses inkubator, oksigen, atau obat-obatan yang layak.

Blokade Membunuh dalam Diam

Penutupan total perbatasan membuat 13.000 pasien kritis tidak bisa dirujuk keluar Gaza. Di sisi lain, anak-anak terus meninggal karena kekurangan gizi dan anemia, terutama di wilayah utara yang paling terdampak blokade. Menurut data Kementerian Kesehatan, 52 anak meninggal akibat kelaparan selama perang berlangsung—angka yang diperkirakan meningkat drastis dalam beberapa minggu mendatang.

Infrastruktur Kesehatan Dihancurkan, Ambulans Diserang

Serangan Militer yang menyasar infrastruktur sipil tak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga menumpulkan respons kemanusiaan. Puluhan ambulans dan kendaraan pertahanan sipil dilaporkan menjadi target serangan langsung, menyulitkan upaya evakuasi korban di wilayah padat seperti Jabalia dan Khan Younis.

“Banyak korban luka tewas bukan karena cedera awalnya, tapi karena kami tak bisa menjangkau mereka tepat waktu,” kata salah satu anggota tim pertahanan sipil yang telah bertugas tanpa henti selama tiga bulan terakhir.

Gaza Tanpa Air Bersih, Wabah Mengintai

Pemutusan saluran air dan hancurnya sistem sanitasi di berbagai kota di Gaza—terutama di Rafah dan Deir al-Balah—memperbesar potensi wabah penyakit. Infeksi kulit, diare, dan penyakit saluran pencernaan meningkat drastis, terutama di kamp-kamp pengungsi yang terlalu padat dan minim fasilitas.

Rafah Dihapus dari Peta, Rumah Sakit Indonesia Hancur

Di Rafah, kota paling selatan Gaza yang dulu relatif aman, kini tak lagi ada yang tersisa. Pemerintah Gaza menyebut bahwa 90 persen permukiman kota telah dihancurkan, dan wilayah itu secara resmi dinyatakan sebagai “zona militer tertutup” oleh Militer Israel.

Seluruh 12 pusat medis di kota tersebut tak lagi beroperasi, termasuk Rumah Sakit Indonesia dan Rumah Sakit Martir Abu Yusuf Al-Najjar—dua dari sedikit fasilitas yang sebelumnya mampu menangani kasus-kasus kritis di bagian selatan.

Selain itu, 85 persen jaringan pembuangan limbah kota Rafah dihancurkan, menciptakan potensi besar penyebaran epidemi di tengah penduduk yang masih bertahan di puing-puing rumah mereka.

“Ini bukan hanya penghapusan kota dari peta, tapi juga dari sejarah dan kemanusiaan,” ujar Juru Bicara Kantor Informasi Pemerintah Gaza.

Dunia Mengecam, Tapi Bantuan Tak Juga Tiba

UNRWA dan UNICEF, dua lembaga utama PBB yang beroperasi di Gaza, kembali menyerukan penghentian blokade dan pembukaan koridor kemanusiaan.

“Israel telah menutup akses bantuan kemanusiaan sejak 2 Maret, menjadikan ini blokade terpanjang sepanjang perang berlangsung,” kata perwakilan UNICEF dalam pernyataan tertulis. “Apa yang terjadi di Gaza adalah noda hitam dalam sejarah kemanusiaan modern.”

Menurut UNICEF, angka kekurangan gizi dan infeksi di kalangan anak-anak meningkat hingga tiga kali lipat dalam dua bulan terakhir. Mereka memperingatkan apabila akses medis tidak segera dibuka, Gaza akan menghadapi kematian massal yang tidak disebabkan oleh senjata, tetapi oleh kelaparan dan infeksi.

Ketika dunia merayakan kesehatan sebagai hak universal, Gaza menunjukkan bahwa hak itu bisa dicabut kapan saja, dengan senyap, sistematis, dan kejam. Anak-anak yang tak tahu apa-apa kini menjadi sandera dalam permainan geopolitik yang mematikan. Sementara waktu terus berjalan, anak-anak Palestina di Gaza terkapar dan tak dihiraukan.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *