Bidikan Trump Tepat ke Jantung Israel
POROS PERLAWANAN – Setelah bertahun-tahun menjadi penerima terbesar bantuan militer AS, Israel kini menerima “bantuan tarif” sebagai hadiah perpisahan dari sahabat lamanya yang temperamental.
Pasar saham Tel Aviv ambruk, Shekel melemah, dan para investor panik. Namun, krisis kali ini bukan karena roket dari Gaza atau ketegangan regional, melainkan karena tembakan ekonomi dari Washington; lebih tepatnya, dari tangan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Mimpi Buruk Baru bagi Sekutu Lama
Pada Senin 7 April, media-media Israel melaporkan kejatuhan tajam bursa saham Tel Aviv dan merosotnya nilai tukar Shekel terhadap Dolar dan Euro. Pemicunya: kebijakan tarif impor global yang diumumkan oleh Trump pekan lalu.
Surat kabar Maariv menyebutkan bahwa bursa Tel Aviv kehilangan sekitar 40 miliar Shekel (setara 11 miliar Dolar AS), dengan indeks utama terjun sekitar 4%. Nilai Shekel juga terpukul—Dolar AS melonjak ke 3,77 Shekel, sementara Euro melesat ke 4,14 Shekel.
Kebijakan tarif Trump menjangkau 185 negara, termasuk Israel, yang dikenai tarif impor sebesar 17%. Ini merupakan salah satu tarif tertinggi yang diberlakukan AS, dan menjadi pukulan telak bagi ekonomi yang sangat tergantung pada hubungan dagang dengan Amerika.
Bank Sentral Tak Berdaya, Pemerintah Kehilangan Arah
Bank Sentral Israel, yang dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga hari ini pukul 16:00 waktu Yerusalem, diperkirakan akan mempertahankan tingkat bunga di 4,5% untuk kali kesepuluh berturut-turut. Ketidakpastian akibat lemahnya Shekel, tekanan inflasi, dan dampak perang membuat pelonggaran moneter menjadi opsi yang semakin jauh dari kenyataan.
Ketiadaan koordinasi antara Bank Sentral dan Pemerintahan Netanyahu memperburuk keadaan. Ketika Pemerintah mendorong belanja defisit, otoritas moneter justru menjaga rem inflasi. Hasilnya: stagnasi ekonomi dalam kepungan gejolak politik dan tarif luar negeri.
Bank Sentral Israel kini berdiri di persimpangan antara neraca perdagangan dan neraca penderitaan.
Ketergantungan pada AS Menjadi Sumber Luka
Menurut Direktur Forum Ekonomi Arab, Omar Fandi, “Trump menciptakan gempa ekonomi global dengan tarif sepihaknya, dan Israel, karena ketergantungannya pada AS, merasakan guncangan paling keras.”
Fandi menekankan bahwa sektor teknologi tinggi, tulang punggung ekonomi Israel menjadi korban utama. Produk-produk hi-tech yang selama ini menjadi primadona ekspor Israel kini kehilangan daya saing di pasar AS, memaksa perusahaan berhemat, menghentikan produksi, bahkan memutus hubungan kerja.
“Apa yang tidak bisa dilakukan perang selama enam bulan, kini mulai dicapai oleh tarif Trump hanya dalam enam hari,” ujar Fandi.
Dana Pensiun Anjlok, Pengangguran Naik
Krisis ini tidak berhenti di meja perdagangan internasional. Dana pensiun warga Israel anjlok 5% akibat kejatuhan pasar saham, menandakan risiko besar bagi stabilitas keuangan masyarakat dalam jangka panjang.
Pabrik-pabrik yang selama ini mengekspor ke AS kini stagnan. Banyak yang tidak mampu bersaing akibat lonjakan biaya dan tarif tambahan, sementara pasar Eropa tidak bisa serta-merta menyerap produk mereka yang sudah terlanjur didesain untuk pasar Amerika. Pengangguran pun mulai naik, dan kecemasan menular cepat ke semua sektor ekonomi.
Dana pensiun yang anjlok membuat para pensiunan Israel mendadak mengenal istilah “Ekonomi Perlawanan”. Mereka yang dulu bersorak atas perang, kini harus antre diskon di pasar swalayan.
Modal Kabur, Kepercayaan Menurun
Data dua tahun terakhir menunjukkan sekitar 14 miliar Dolar AS modal keluar dari Israel dan dialihkan ke AS, mencerminkan ketidakpercayaan investor terhadap masa depan ekonomi domestik. Kini, dengan pasar AS yang juga terguncang, investor Israel menghadapi risiko ganda.
Dunia pun mulai bertanya: jika Israel saja bisa ditampar tarif oleh AS, bagaimana nasib sekutu yang lebih kecil? Akankah dunia menyaksikan lahirnya era “Trumponomics Autarki Global”?
Bayang-Bayang Resesi Global
Para analis memperingatkan bahwa pendekatan ekonomi unilateral Trump bisa menyeret dunia menuju krisis yang mengingatkan pada Depresi Besar 1930-an, masa ketika tarif proteksionis memicu runtuhnya perdagangan global dan memiskinkan bangsa-bangsa.
“Jika tarif adalah peluru, maka Trump telah mengarahkan pistolnya ke dada sistem ekonomi global, dan Israel berada tepat di lintasan tembak”, tulis seorang kolumnis ekonomi Timur Tengah.
Redaksi POROS PERLAWANAN akan terus mengikuti dan memantau perkembangan ini; ketika para sekutu lama mulai merasakan bahwa dalam sistem ekonomi global hari ini, tidak ada yang benar-benar kebal dari luka, termasuk mereka yang selama ini duduk nyaman di samping penembak.
