Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Presiden Iran: AS dan Israel Rusak dan ‘Khianati’ Kepercayaan dan Diplomasi Internasional

POROS PERLAWANAN – Dalam pidatonya yang kedua pada Selasa 23 September, di Majelis Umum PBB sejak menjabat pada 2024, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa perang AS-Israel yang dipaksakan terhadap Iran awal tahun ini merupakan “pengkhianatan besar terhadap diplomasi” yang telah melumpuhkan prospek perdamaian regional.

Pezeshkian menegaskan bahwa serangan terbaru terhadap Iran bukanlah peristiwa terpisah, melainkan bagian dari pola agresi yang didukung Barat untuk melemahkan kedaulatan bangsa. Presiden Iran itu mengangkat sebuah buku berjudul “Killed by Israel” dan membuka halaman-halamannya yang menampilkan sebagian dari lebih 1.000 anak-anak, perempuan, dan laki-laki yang terbunuh akibat serangan Israel terhadap infrastruktur sipil, militer, dan nuklir.

“Serangan ini dilakukan tepat ketika Iran tengah terlibat dalam negosiasi diplomatik, memperlihatkan kemunafikan para musuh Iran,” ujarnya. “Agresi terang-terangan ini… memberikan pukulan berat terhadap kepercayaan internasional.”

Pezeshkian mengaitkan serangan ilegal terhadap Iran dengan krisis yang terus berlangsung di Gaza, seraya menegaskan bahwa Israel sedang melakukan genosida di wilayah Palestina itu dengan dukungan penuh Barat. “Dua tahun terakhir dunia telah menyaksikan genosida di Gaza, kelaparan paksa anak-anak yang lemah, dan pembantaian lebih dari 65.000 orang tak bersalah.”

Berbalik mengarahkan kritiknya ke Eropa, Presiden Iran mengecam Jerman, Prancis, dan Inggris karena bertindak atas perintah Washington untuk secara ilegal menghidupkan kembali sanksi mati PBB terhadap Iran. Ia menyebut mereka mengesampingkan itikad baik, mengakali hukum, dan melakukan penyalahgunaan terang-terangan setelah gagal memaksa Iran bertekuk lutut melalui satu dekade “itikad buruk” dan dukungan terhadap agresi militer.

“Tindakan ilegal ini… tidak memiliki legitimasi internasional dan tidak akan disambut oleh komunitas dunia,” tegasnya, sambil menggambarkan langkah itu sebagai upaya putus asa untuk menghancurkan perjanjian nuklir (JCPOA) yang sebelumnya mereka rayakan.

Terkait program nuklir Iran, Pezeshkian mengulang pernyataan yang disampaikan sehari sebelumnya oleh Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei. “Saya nyatakan sekali lagi… bahwa Iran tidak pernah dan tidak akan pernah berusaha membangun senjata nuklir,” katanya, sambil menegaskan bahwa sikap ini berlandaskan keyakinan agama dan fatwa dari Pemimpin. Ia membandingkannya dengan negara-negara bersenjata nuklir yang memiliki “arsenal terbesar” sembari menuduh Iran.

Presiden Iran itu menempatkan “rencana khayalan Israel tentang ‘Israel Raya’” berhadapan dengan visi alternatif Iran untuk Kawasan. Ia mengartikulasikan masa depan yang dibangun bukan atas dasar “perdamaian melalui kekuasaan”, yang ia samakan dengan agresi, melainkan “kekuasaan melalui perdamaian”. Visi ini, jelasnya, berlandaskan pada keamanan kolektif, martabat manusia, pembagian sumber daya yang adil, dan penghormatan teguh terhadap kedaulatan nasional.

Pezeshkian juga menyatakan dukungan Iran terhadap inisiatif perdamaian regional, termasuk proses antara Azerbaijan dan Armenia, serta harapan bagi berakhirnya perang di Ukraina secara adil. Ia menyambut baik pakta pertahanan terbaru antara Arab Saudi dan Pakistan sebagai fondasi potensial bagi arsitektur keamanan regional yang lebih luas yang dipimpin negara-negara Muslim.

Dokter bedah jantung yang beralih menjadi presiden itu menutup pidatonya dengan kutipan dari penyair Persia ternama, Saadi: “Anak-anak Adam adalah anggota dari satu tubuh… Engkau yang tak terguncang oleh penderitaan orang lain, tidak pantas disebut manusia”.

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *