Berapa Banyak Kebohongan yang Disampaikan Trump tentang Iran dalam Pidatonya di Majelis Umum PBB?
POROS PERLAWANAN – Pidato Presiden Amerika Serikat, Donald Trump di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Selasa 23 September, lebih menyerupai sebuah pertunjukan penuh kebohongan dan distorsi ketimbang pernyataan diplomatik.
Ucapannya tentang Iran dipenuhi ketidakakuratan, pembesar-besaran, dan fabrikasi terang-terangan yang bertujuan menggambarkan Republik Islam sebagai ancaman, sekaligus menutupi rekam jejak destruktif Washington di Asia Barat.
Menukil Tehran Times pada Kamis 25 September, berikut adalah tiga kebohongan besar yang disampaikan Trump tentang Iran dalam pidatonya di PBB hari Selasa:
1. Iran adalah “Sponsor Teror”
Trump mengulang tuduhan usang Amerika bahwa Iran adalah “sponsor terorisme nomor satu di dunia”. Tudingan ini sudah lama dipakai Washington untuk membenarkan perang ekonomi, sanksi, dan agresi regional.
Namun tudingan itu mengabaikan kenyataan bahwa justru Amerika Serikat yang telah memicu instabilitas di Asia Barat, mulai dari invasi ke Irak, penghancuran Libya, hingga mempersenjatai Arab Saudi dalam perang brutalnya di Yaman. Dengan menghidupkan kembali label ini di hadapan dunia, Trump berusaha mengalihkan perhatian dari peran Amerika sendiri dalam menyebarkan kekerasan dan ekstremisme.
2. Washington ingin “bekerja sama” dengan Iran
Trump menyatakan bahwa ia telah menawarkan Iran “kerja sama penuh” jika Teheran setuju menangguhkan program nuklirnya. Pernyataan ini menyesatkan. Kegiatan nuklir Iran bersifat damai, sah, dan diawasi oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA), yang berulang kali menegaskan bahwa Teheran tidak pernah mengejar senjata nuklir.
Lebih penting lagi, justru Trump sendiri yang secara sepihak meninggalkan kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA), perjanjian yang sudah menetapkan batas ketat pada program Iran. “Tawaran” tersebut bukanlah sebuah isyarat kerja sama tulus, melainkan upaya menekan Iran agar menyerahkan hak kedaulatannya dengan imbalan janji samar dari Pemerintah AS yang sudah lebih dulu melanggar komitmennya.
Hanya beberapa hari sebelum pidato Trump di PBB, Dewan Keamanan gagal mengadopsi resolusi yang akan memblokir penerapan kembali sanksi terhadap Iran. Langkah itu menyusul aktivasi mekanisme “snapback” oleh Inggris, Prancis, dan Jerman dengan tuduhan bahwa Teheran melanggar JCPOA.
Teheran menolak langkah tersebut sebagai “ilegitim” dengan menekankan bahwa Amerika Serikat sudah meninggalkan perjanjian nuklir itu pada 2018. Para pejabat Iran menyatakan kekuatan Eropa bersekutu dengan kebijakan sanksi Washington alih-alih memenuhi komitmen mereka sendiri dalam perjanjian. Mereka menegaskan program nuklir Iran tetap damai, dan setiap pengurangan komitmen adalah respons langsung terhadap ketidakpatuhan Barat.
3. Iran tidak lagi memiliki kemampuan nuklir
Trump secara keliru menyombongkan bahwa kapasitas pengayaan nuklir Iran telah “dihancurkan” di bawah kepemimpinannya. Kenyataannya, para pejabat Iran berulang kali menegaskan bahwa bahkan setelah Perang 12 Hari, negara itu masih memiliki keahlian teknis dan infrastruktur untuk dengan cepat memulihkan dan memperluas kemampuan nuklirnya. Alih-alih dihancurkan, program nuklir damai Iran terus berlanjut di bawah pengawasan internasional.
Pidato Trump di PBB bukanlah upaya serius untuk berdiplomasi, melainkan panggung politik yang ditujukan untuk menakut-nakuti Iran sekaligus memikat audiens domestik. Dengan melebih-lebihkan ancaman dan mendaur ulang tuduhan tanpa dasar, ia berusaha menampilkan dirinya sebagai satu-satunya pemimpin yang mampu menghadapi Iran. Padahal kenyataannya, kampanye “Tekanan Maksimum”-nya gagal mencapai tujuan, justru mengisolasi Washington secara internasional, dan memperkuat tekad Iran untuk menempuh jalannya sendiri secara independen.
