Loading

Ketik untuk mencari

Amerika

Profesor Universitas California: Israel Bisa Hilang dalam 50 hingga 100 Tahun Mendatang

Profesor Universitas California: Israel Bisa Hilang dalam 50 hingga 100 Tahun Mendatan

POROS PERLAWANAN – Seorang Profesor Ilmu Politik dan Hubungan Internasional dari Universitas California, Ronnie Lipschutz menyatakan bahwa ada kemungkinan besar Israel tidak akan bertahan dalam 50 hingga 100 tahun ke depan.

Menurut laporan Kantor Berita Farsnews pada Sabtu 1 Februari, pakar Ilmu Politik dan Hubungan Internasional serta penulis buku seperti Politik Ruang Global, Mimpi Perang Dingin, dan Ekonomi Global tersebut, membahas isu ini dalam wawancara dengan ILNA.

Berikut beberapa poin penting dari wawancara tersebut.

Gencatan Senjata di Gaza: Strategi Politik atau Tekanan Internasional?

Saat ditanya mengenai gencatan senjata terbaru di Gaza, Lipschutz menduga bahwa Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, berada di bawah tekanan dari Donald Trump dan timnya untuk menerima kesepakatan sebelum pelantikan Presiden AS.

“Trump mungkin menjanjikan bahwa setelah 42 hari—jika gencatan senjata bertahan dan semua sandera telah ditukar—Israel akan diberikan kebebasan untuk melanjutkan serangan terhadap Gaza dan Hamas. Jika kesepakatan gagal, Trump bisa menyalahkan Biden. Jika berhasil, Trump bisa mengeklaimnya sebagai pencapaian pribadi,” ujarnya.

Lipschutz juga menyoroti bahwa gencatan senjata ini memberi keuntungan politik bagi Netanyahu, yang tengah menghadapi tekanan dari keluarga sandera, sekutu sayap kanan, serta oposisi domestik. Selain itu, kesepakatan ini juga membuka peluang bagi Israel untuk memperkuat posisinya dalam konflik regional, termasuk kemungkinan intervensi di Suriah dan perhitungan ulang terhadap Iran.

Namun, menurutnya, mediator internasional mungkin tidak mempertimbangkan aspek-aspek ini secara mendalam dan hanya berfokus pada penghentian konflik. “Hamas masih akan menuntut penghapusan Israel, dan Israel tetap akan berupaya menghancurkan Hamas,” katanya.

Ambisi Trump dalam Gencatan Senjata

Menanggapi pertanyaan tentang motivasi di balik gencatan senjata, Lipschutz menduga bahwa Trump menginginkan Hadiah Nobel Perdamaian untuk perannya dalam mediasi konflik Gaza.

“Hadiah Nobel Perdamaian diberikan pada 10 Desember. Jadi, ada kemungkinan besar Trump ingin mempertahankan gencatan senjata setidaknya hingga akhir 2025,” jelasnya.

Trump sebagai Politisi Transaksional

Saat ditanya apakah Trump akan menggunakan gencatan senjata ini untuk memperkuat posisi Israel atau menghidupkan kembali Kesepakatan Abad Ini, Lipschutz menegaskan bahwa Trump adalah politisi transaksional.

“Trump membuat keputusan berdasarkan kepentingan politik dan ekonominya sendiri, bukan demi kepentingan yang lebih luas. Setelah 42 hari, saya yakin Trump akan mendukung apa pun yang diinginkan Israel,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa Kesepakatan Abad Ini pada dasarnya bertujuan membangun koalisi rezim Arab konservatif untuk melawan Iran, Hizbullah, dan Hamas. “Keberhasilannya tergantung pada apakah Israel lebih fokus menghancurkan Hamas—yang tidak realistis—atau memperkuat koalisi anti-Iran.”

Masa Depan Netanyahu dan Dinamika Politik Israel

Lipschutz menilai bahwa gencatan senjata ini dapat meredakan kritik internal terhadap Netanyahu.

“Sayap kiri Israel dan gerakan perdamaian sudah sangat melemah, sehingga oposisi terhadap Netanyahu praktis tidak memiliki kekuatan yang cukup,” jelasnya. Namun, ia menekankan bahwa kasus hukum terhadap Netanyahu masih menjadi tantangan bagi kelangsungan politiknya.

“Trump mungkin mengharapkan kesetiaan dari Netanyahu, tapi jika Netanyahu bertindak bertentangan dengan kepentingan Trump, saya bisa membayangkan Trump mendukung partai-partai sayap kanan lain di Israel,” tambahnya.

Mungkinkah Israel Menghilang dalam 50 hingga 100 Tahun?

Menjawab pertanyaan tentang perubahan geopolitik di Timur Tengah, Lipschutz mengungkapkan pandangan kontroversialnya bahwa Israel mungkin tidak akan bertahan dalam jangka panjang.

“Jika seseorang di AS atau Eropa membaca ini, mungkin akan menimbulkan masalah bagi saya. Tapi saya melihat Israel seperti ‘Negara Salib’ dalam konteks Perang Salib. Ada kemungkinan besar bahwa negara ini akan menghilang dalam 50 hingga 100 tahun ke depan,” katanya.

Menurutnya, negara dua bangsa (one-state solution) tidak bisa dihindari, meskipun bentuk akhirnya—apakah akan terjadi secara damai, melalui kekerasan, atau kombinasi keduanya—masih belum jelas.

Lipschutz juga meragukan bahwa diplomasi dan hubungan China dapat secara fundamental mengubah dinamika geopolitik di Timur Tengah. “Meski ada ketakutan besar di Washington dan Eropa tentang China, ‘pertarungan’ ini lebih bersifat ekonomi daripada politik,” pungkasnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *