Qalibaf: Tanpa Perjuangan Melawan Kezaliman, Islam Tidak Bermakna
POROS PERLAWANAN — Ketua Parlemen Republik Islam Iran, Dr. Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan bahwa untuk menghidupkan kembali kejayaan Islam dan kehormatan umat Muslim, diperlukan persatuan dan semangat perlawanan terhadap segala bentuk kezaliman. “Islam tanpa perjuangan melawan kezaliman tidak memiliki makna,” ujarnya tegas.
Pernyataan tersebut disampaikannya dalam pertemuan dengan komunitas Muslim Syiah Indonesia di Pusat Kebudayaan Islam Jakarta, sebagai bagian dari kunjungannya ke Indonesia untuk menghadiri Konferensi ke-19 Uni Antar-Parlemen Negara-Negara Islam (PUIC).
“Saya merasa terhormat, sebagai seorang Iran yang lahir dan besar di kota suci Mashhad, serta sebagai pelayan di Makam Suci Imam Ridha, dapat hadir di tengah Anda semua hari ini,” ungkap Qalibaf. “Saya menyampaikan salam dari Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran dan seluruh rakyat Iran kepada Anda sekalian. Saya juga akan menjadi wakil ziarah Anda di Makam Suci Imam Ali bin Musa ar-Ridha, menyampaikan salam, penghormatan, cinta, dan semangat revolusioner Anda, kepada Ayatullah Khamenei.”
Dalam kesempatan tersebut, Qalibaf juga menyampaikan apresiasinya kepada Pemerintah dan Parlemen Indonesia atas penyelenggaraan PUIC serta undangan yang diberikan kepada Republik Islam Iran. “Saya bersyukur kepada Allah karena dalam kunjungan singkat ini, saya dapat berada di tengah para pencinta Ahlulbait. Momen ini adalah salah satu yang paling bermakna dalam perjalanan saya,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Al-Qur’an dan Ahlulbait mengajarkan pentingnya kepedulian terhadap sesama, khususnya terhadap umat Muslim. “Hari ini, ketika kita dapat duduk dengan tenang, saudara-saudara kita di Palestina—khususnya di Gaza—menanti syahid akibat serangan militer atau meninggal karena penyakit dan kelaparan.”
Qalibaf juga mengutip ajaran Imam Khomeini yang menjadi dasar Revolusi Islam Iran: persatuan umat dan penolakan terhadap kezaliman. “Imam Khomeini menggunakan budaya Al-Qur’an dan Ahlulbait (a.s) untuk menanamkan dua hal: pertama, kita harus bersatu, dan kedua, kita tidak boleh berbuat zalim atau menerima kezaliman.”
Ia mengingatkan bahwa jalan perjuangan bukanlah jalan mudah, namun kepastian kemenangan telah dijanjikan. “Imam Khomeini membagi Islam menjadi dua: Islam murni Muhammad (s.a.w) dan Islam Amerika. Islam murni mengajarkan bahwa masyarakat yang diam terhadap kezaliman bukanlah masyarakat hidup, melainkan sekadar mayat berjalan. Jika seorang Muslim hanya beribadah secara individu tanpa peduli terhadap keadilan sosial, maka agamanya belum sempurna.”
Lebih jauh, Qalibaf mengutuk keras kejahatan yang dilakukan oleh rezim Zionis terhadap rakyat Palestina. “Dengan dukungan Amerika, sebagai simbol kezaliman dan kesombongan global, rezim penjajah Zionis terus melakukan kejahatan terang-terangan. Melawan kezaliman seperti ini bukan hanya kewajiban syar’i, melainkan juga kemanusiaan.”
Dalam pidatonya, Qalibaf juga mengenang perjuangan Syahid Qasim Soleimani sebagai teladan pengorbanan dalam membela keadilan. “Selama lebih dari 40 tahun saya berjuang bersama beliau. Dari awal Revolusi hingga akhir hayatnya, ia tidak pernah berhenti berjihad. Setelah perang, ia tetap turun ke daerah-daerah miskin dan menghadapi musuh-musuh seperti ISIS yang menyerang tanpa memandang Syiah, Sunni, atau Kristen.”
Menurut Qalibaf, semangat pengorbanan Syahid Soleimani lahir dari keyakinannya terhadap budaya Al-Qur’an, ajaran Ahlulbait, dan pemikiran Imam Khomeini. “Ia tidak gentar dalam menghadapi kesulitan, dan tidak pernah meragukan janji Allah bahwa kemenangan adalah milik orang-orang beriman.”
Qalibaf menutup pidatonya dengan penegasan bahwa kebangkitan Islam dan kehormatan umat Muslim hanya akan terwujud melalui persatuan dan perlawanan terhadap kezaliman. “Selain keimanan kepada Allah, Imam Khomeini juga menanamkan keyakinan pada diri dan rakyatnya. Itulah yang menumbuhkan martabat dan menghidupkan kembali ruh Islam yang sejati.”
Ia juga mendoakan kesuksesan seluruh Muslim Indonesia, khususnya komunitas Muslim Syiah, dan berharap terjalinnya persaudaraan dan persatuan yang lebih erat antara Iran, Indonesia, dan seluruh negara Muslim.
Sumber POROS PERLAWANAN di lokasi menyebutkan bahwa Qalibaf disambut hangat oleh komunitas Muslim Syiah Indonesia setibanya di Pusat Kebudayaan Islam (ICC Jakarta). Ia didampingi oleh Dr. Mohsen Zanganeh (Ketua Kelompok Persahabatan Parlemen Iran-Indonesia), Duta Besar Iran untuk Indonesia Boroujerdi, serta sejumlah pejabat tinggi lainnya.
