Qatar dan Mesir Dorong Gencatan Senjata Baru, Hamas Tuntut Jaminan ‘Akhiri Perang’
POROS PERLAWANAN – Qatar dan Mesir mengumumkan dalam pernyataan bersama bahwa mereka tengah meningkatkan koordinasi diplomatik dengan Amerika Serikat untuk mendorong rencana gencatan senjata baru yang bertujuan mengakhiri agresi brutal rezim Zionis di Gaza.
Menurut laporan Al Jazeera pada Senin 2 Juni, kedua negara penengah regional ini kini sedang berupaya menjembatani jurang besar antara tuntutan sah faksi-faksi Perlawanan Palestina dan kebijakan penghancuran total yang diterapkan oleh entitas Pendudukan Israel. Rencana ini disusun berdasarkan proposal yang diajukan oleh utusan khusus AS untuk kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataan resmi, Qatar dan Mesir menyerukan dimulainya kembali negosiasi tidak langsung yang “bertanggung jawab”, meskipun tekanan publik internasional terus meningkat terhadap kebuntuan diplomatik yang sebagian besar disebabkan oleh sikap keras kepala rezim Zionis.
Isi Rencana: Gencatan Senjata 60 Hari dan Bantuan Kemanusiaan
Rencana yang diusulkan mencakup gencatan senjata selama 60 hari, dengan kemungkinan diperpanjang menuju penghentian permanen permusuhan. Poin-poin utama lainnya termasuk pembukaan kembali penyeberangan Gaza dan masuknya bantuan kemanusiaan secara signifikan, sebagai langkah awal untuk meredakan bencana kemanusiaan dan memulai proses rekonstruksi.
Rencana tersebut juga dilaporkan sejalan dengan peta jalan politik yang disahkan dalam KTT Liga Arab di Kairo pada Maret lalu; peta jalan yang masih menghadapi jalan terjal karena Pendudukan Israel terus melanggengkan blokade dan penolakan atas hak-hak dasar rakyat Palestina.
Kegagalan Putaran Sebelumnya, Rezim Zionis Ingkari Komitmen
Upaya-upaya sebelumnya untuk mencapai gencatan senjata kerap gagal akibat penolakan Tel Aviv terhadap tuntutan pokok Palestina. Dalam putaran negosiasi sebelumnya yang dimediasi oleh Qatar, Mesir, dan AS, rezim Zionis menolak memberikan jadwal pasti untuk penghentian blokade dan penarikan penuh pasukannya dari Gaza, dua syarat mutlak yang diajukan oleh Hamas dan faksi-faksi lainnya sebagai prasyarat untuk perdamaian yang adil.
Al Jazeera mencatat bahwa bahkan selama gencatan senjata sementara yang lalu, entitas Zionis tetap melanjutkan serangan udara dan operasi daratnya di Jalur Gaza, menunjukkan kelicikan diplomatik dan pelanggaran terang-terangan atas perjanjian yang disepakati.
Hamas: Tidak Ada Gencatan Nyata Tanpa Penarikan dan Akhiri Blokade
Faksi-faksi Perlawanan Palestina menegaskan bahwa setiap proposal gencatan senjata harus disertai jaminan tertulis dan terverifikasi mengenai penarikan penuh pasukan Israel serta penghentian total pengepungan atas Gaza. Tanpa jaminan tersebut, semua negosiasi dinilai hanya sebagai taktik pengalihan oleh rezim penjajah untuk meredam tekanan global sambil melanjutkan proyek penghancuran sistematis.
