Loading

Ketik untuk mencari

Iran

Misteri Wajah Muram Trump-Netanyahu Usai Pertemuan di Gedung Putih

POROS PERLAWANAN – Dalam editorial terbarunya di surat kabar elektronik, Rai al-Youm, analis terkemuka Palestina, Abdel Bari Atwan menanggapi kunjungan terbaru Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu ke Washington dan pertemuan panjangnya dengan Presiden AS, Donald Trump yang berfokus pada Iran. Atwan menulis:”Tidak ada perayaan meriah, tidak ada konferensi pers, tidak ada sorotan media, dan tidak ada senyuman untuk kamera, hanya wajah-wajah muram. Netanyahu meninggalkan Gedung Putih menuju pesawatnya di Bandara Washington dan langsung kembali ke Tel Aviv, sehingga kunjungan ketujuhnya ke Ibu Kota AS hanya berlangsung 30 jam.”

“Kunjungan ini akan tercatat dalam sejarah sebagai kunjungan terpendek yang pernah dilakukan oleh seorang Perdana Menteri Israel; seorang Perdana Menteri yang sebelumnya bertindak seolah-olah dia adalah penguasa de facto. Ini adalah kesimpulan awal dari kunjungan ‘bersejarah’ ini; perjalanan yang dimajukan dua minggu untuk memerintahkan Trump agar segera berperang melawan Iran jika tidak mematuhi tiga syarat Israel. Syarat-syarat tersebut adalah: penghentian total pengayaan uranium, pengurangan jumlah sistem rudal Iran dan pembatasan jangkauannya hingga hanya 300 kilometer, sehingga tidak dapat mencapai wilayah Palestina yang diduduki, serta penghentian dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok Perlawanan di Lebanon, Gaza, Yaman, dan Irak,” tulis Atwan, Tasnim melaporkan.

“Namun, kekuatan yang selalu hadir sekaligus aktif dalam pertemuan antara Trump dan tamu pongahnya yang tidak diundang, Netanyahu, adalah Iran dan rudal balistik canggihnya, yang menunjukkan keunggulan luar biasa dalam menembus semua pertahanan udara Israel dan mencapai sasaran di jantung Tel Aviv, sehingga mengubah semua perimbangan kekuatan di Timur Tengah.”

“Kekuatan dan ketahanan Iran di tingkat politik, militer, dan diplomatik, serta prioritasnya untuk melancarkan serangan mematikan terhadap Tel Aviv segera setelah serangan AS terhadap Iran, memperkuat daya prevensi negara tersebut. Berdasarkan perimbangan ini, Tehran telah menunjukkan bahwa biaya agresi terhadap Iran, baik dalam hal manusia, militer, ekonomi, maupun moral, akan sangat tinggi bagi agresor. Dan kali ini, tidak hanya pangkalan militer tetapi juga menara-menara tinggi dan mewah di Tel Aviv akan masuk dalam daftar target Iran.”

“Pengumuman penarikan semua pasukan AS dari pangkalan al-Tanf di Suriah tenggara, dan sebelumnya dari Ain al-Asad di Irak, merupakan salah satu tanda utama ketakutan dan kecemasan AS dan Zionis terhadap konsekuensi serangan apa pun terhadap Iran, yang akan dibalas dengan respons cepat dan tegas dari negara tersebut.”

“Kita semua tahu bahwa digulirkannya opsi perang melawan Iran oleh AS dalam situasi saat ini hanyalah tipu daya, dan mungkin sama sekali tidak akan ada perang; karena dalam perang pada Juni lalu, yang berlangsung selama 12 hari, AS dan Rezim Zionis memulai agresi mereka terhadap Iran tanpa ada kapal induk atau kapal perang yang dikirim dari AS ke Kawasan. Oleh karena itu, jika AS benar-benar mencari perang melawan Iran, mereka tidak memerlukan kapal induk ini. Ancaman untuk mengirim lebih banyak kapal induk ke wilayah tersebut hanyalah bagian dari upaya untuk menakut-nakuti Iran dan memaksa rakyat Iran untuk menuruti tuntutan dan tekanan AS dan Israel.”

“Namun, pendekatan bodoh AS dan Rezim Zionis ini telah sepenuhnya gagal. Bukti paling mencolok adalah terburu-burunya Netanyahu pergi ke Washington dan upayanya untuk mengalihkan negosiasi dari isu nuklir ke isu rudal serta menghentikan dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok Perlawanan di Kawasan.”

“Kenyataannya, Trump tidak ingin perang, dan seseorang yang membuat kesepakatan besar tidak akan menyerang atau mengancam. Dia mundur karena berbagai alasan. Yang paling penting adalah ketakutan akan respons Iran dan keinginan untuk menghindari terjebak dalam perang regional yang komprehensif dan berkepanjangan; perang yang disebut-sebut oleh Pemimpin Tertinggi Iran, sehingga menetapkan perimbangan bahwa perang ini, tidak akan cepat, singkat, dan tanpa korban bagi penyerang. Hal ini bertentangan dengan doktrin militer baru AS yang mengedepankan perang singkat dan pencapaian keuntungan maksimal.”

“Perpecahan di dalam Partai Republik AS juga semakin meluas terkait dengan rencana melancarkan perang atas nama Israel, yang di situ AS tidak memiliki kepentingan, yang berpotensi mengakibatkan kematian ribuan tentara AS, serupa dengan yang terjadi di Irak dan Afghanistan. Trump, yang pernah mengancam akan menghancurkan Iran dan menghapusnya dari peta, mengumumkan setelah pertemuan rahasianya dengan Netanyahu di Gedung Putih bahwa belum ada keputusan akhir yang diambil mengenai perang dengan Iran.”

“Setelah pertemuannya dengan Netanyahu, Trump mengatakan ia telah memilih untuk melanjutkan negosiasi sebagai jalan tercepat menuju kesepakatan yang akan mencegah Iran memperoleh ‘senjata nuklir.’ Dia mengeklaim akan mempertimbangkan opsi lain jika kesepakatan tidak tercapai. Saat kami menulis artikel ini, Trump belum memerintahkan pengerahan kapal induk keduanya ke Kawasan.”

“Pada Rabu lalu, jutaan warga Iran di seluruh provinsi negara itu merayakan ulang tahun ke-47 Revolusi Islam. Mungkin perayaan ini adalah latihan untuk kemenangan yang lebih besar melawan ‘Poros Kejahatan’ AS-Israel. Waktu yang akan membuktikannya.”

Tags:

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *