Realisme, Kekuasaan, dan Tragedi: Mearsheimer Membongkar Jalan Buntu Tel Aviv
POROS PERLAWANAN – John J. Mearsheimer tak diragukan lagi adalah salah satu suara paling berpengaruh dalam teori realis kontemporer hubungan internasional. Sebagai profesor di Universitas Chicago dan arsitek dari teori offensive realism, ia berargumen bahwa sistem internasional, yang tidak memiliki otoritas supranasional yang efektif mendorong negara-negara ke dalam kompetisi kekuasaan yang brutal dan tak terhindarkan.
Baginya, politik internasional bukan arena yang diatur oleh idealisme atau norma-norma abstrak, melainkan sebuah papan catur tempat kepentingan strategis, keamanan, dan kelangsungan hidup menentukan langkah-langkah para aktor negara.
Perspektif ini, bersama dengan kritik tajamnya terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat telah menjadikannya sosok kontroversial, terutama karena pertanyaannya yang gamblang tentang peran Israel di Kawasan dan keterlibatan Washington dalam tragedi Palestina. Wawancara terbarunya dengan Tucker Carlson yang dilansir Tehran Times pada Sabtu 2 Agustus, disertai kuliah, debat publik, dan esai-esainya, kembali membuka luka menganga di Asia Barat dan memaksa kita untuk menghadapi realitas geopolitik yang keras dan tidak nyaman.
Israel: Ekspansi, Kekuasaan, dan Kegagalan Struktural
Menurut Mearsheimer, strategi Israel mengikuti logika kekuasaan yang kejam: memaksimalkan dominasi regional dengan segala cara dan menetralisasi setiap ancaman yang mungkin muncul. Ia mengidentifikasi empat pilar utama dari proyek Zionis: ekspansi teritorial, pengusiran sistematis warga Palestina, destabilisasi negara-negara tetangga, dan dukungan tanpa syarat dari Amerika Serikat secara militer, politik, dan diplomatik.
Sejak awal berdirinya, menurut Mearsheimer, para pemimpin Israel menggabungkan kekuatan militer superior dengan tuntutan akan loyalitas absolut dari Washington. Operasi militer di Gaza, serta intervensi di Lebanon dan Suriah, bukan sekadar tindakan reaktif, melainkan juga bagian dari upaya sistematis untuk menghancurkan bentuk-bentuk perlawanan yang terorganisasi.
Serangan terbaru ke Gaza yang secara terang-terangan disebut Mearsheimer sebagai “genosida”, mencerminkan keyakinan bahwa hanya kekerasan besar-besaran, atau ancaman pemusnahan, yang dapat memaksa eksodus definitif warga Palestina yang terus melawan. Israel, ujarnya, tidak berniat membunuh seluruh warga Palestina, melainkan membuat hidup mereka sedemikian tak tertahankan hingga mereka terpaksa pergi. Ini sebuah bentuk “pembersihan etnis” yang dijalankan secara bertahap dan dibalut retorika keamanan nasional.
Strategi ini, tegasnya, dijalankan di bawah “perlindungan” permanen dari AS, yang secara aktif menghalangi kecaman internasional dan menjamin impunitas Israel, bahkan ketika pelanggaran terhadap hukum internasional terjadi secara terang-terangan. Bagi Mearsheimer, kebijakan luar negeri Amerika telah digerakkan oleh prinsip “Israel First”, sebuah hasil dari tekanan lobi pro-Israel yang mengorbankan kepentingan nasional AS sendiri.
Destabilisasi Regional sebagai Doktrin: Suriah, Iran, dan Imaji Kurdi
Analisis Mearsheimer melampaui konflik Israel–Palestina dan menjelajah ranah regional. Ia menyoroti bagaimana strategi Israel berupaya melemahkan negara-negara tetangga seperti Suriah dan Iran. Tujuan utamanya bukan hanya perubahan rezim, melainkan Balkanisasi: memecah entitas-entitas negara besar menjadi wilayah-wilayah yang bersaing dan tidak mampu menandingi hegemoni Israel.
Suriah menjadi ladang eksperimen untuk strategi ini di mana intervensi langsung dan tidak langsung menciptakan kekacauan dan menjadikan negara tersebut sebagai mozaik kantong-kantong konflik bersenjata. Sementara itu, obsesi Israel terhadap Iran diwujudkan dalam upaya mengeksploitasi garis-garis patahan etnis, termasuk mendorong gerakan separatis seperti proyek Kurdi, guna mengikis kekuatan Iran dari dalam.
Semua ini dikemas dalam bahasa pertahanan diri dan kontraterorisme. Namun bagi Mearsheimer, yang terlihat adalah sebuah rekayasa geopolitik berskala besar, digerakkan oleh ambisi hegemonik, bukan kebutuhan akan pertahanan yang sah. Ironisnya, dalam upayanya mencapai keamanan absolut, Israel justru menabur benih ketidakstabilan dan mengamplifikasi ancaman yang ingin dicegah.
Iran: Rasionalitas Strategis dan Dilema Nuklir
Jika media Barat secara konsisten memotret Iran sebagai sumber instabilitas dan ancaman global, Mearsheimer menawarkan pandangan yang lebih realis. Baginya, Iran adalah aktor rasional yang merespons tekanan eksistensial dengan strategi deterensi dan perlawanan yang terukur.
Alih-alih berniat menghancurkan Israel, prioritas utama Iran adalah kelangsungan hidup, kedaulatan nasional, dan mempertahankan pengaruh sahnya di Kawasan yang penuh permusuhan. Dalam banyak kesempatan, respons Militer Iran menunjukkan kalkulasi strategis yang matang, jauh dari karikatur negara irasional yang sering ditampilkan media Barat. Dalam pandangan Mearsheimer, justru Iran berperan sebagai penyeimbang penting terhadap ekses kekuasaan Israel dan mencegah terbentuknya Pax Israeliana yang dipaksakan.
Kekhawatiran Israel terhadap potensi senjata nuklir Iran, ujarnya, mencerminkan penolakan terhadap segala bentuk keseimbangan kekuatan regional. Sanksi dan ancaman militer yang terus didorong AS justru memperkuat posisi masing-masing dan menjauhkan kemungkinan kompromi. “Kesepakatan besar” kian tampak sebagai fatamorgana di tengah kebijakan yang menghindari pragmatisme dan menolak koeksistensi minimal.
Amerika Serikat: Keterlibatan, Ketidakberdayaan, dan Erosi Moral
Mearsheimer menggambarkan kebijakan AS di Asia Barat secara blak-blakan dan tanpa kompromi. Ia menuding Washington telah kehilangan arah akibat komitmen buta terhadap Atlantisme dan tekanan dari lobi pro-Israel. Hasilnya: AS bukan lagi kekuatan imparsial, melainkan sekutu pasif sekaligus kaki tangan aktif dari strategi Israel di Kawasan.
Dukungan militer, finansial, dan diplomatik terhadap Tel Aviv datang dengan harga mahal: runtuhnya otoritas moral, terkikisnya kredibilitas di mata dunia Muslim, serta keterlibatan dalam konflik-konflik yang justru dipicu oleh kebijakannya sendiri. Setiap serangan terhadap Gaza, Lebanon, atau sabotase terhadap Iran, memperdalam sentimen anti-Amerika dan mempersempit ruang bagi diplomasi dan dialog.
Jalan Buntu yang Diciptakan Sendiri
Dalam kerangka pemikiran Mearsheimer, realisme bukanlah pembenaran untuk kekejaman, tetapi peringatan akan bahaya mengabaikan dinamika kekuasaan yang sebenarnya. Ketika negara-negara bertindak seolah hukum internasional, moralitas, dan konsensus global bisa diabaikan demi kepentingan sempit, tragedi menjadi keniscayaan. Jalan buntu Tel Aviv bukan sekadar akibat dari perlawanan Palestina atau manuver Iran, melainkan hasil dari strategi hegemonik yang menabur badai, mengabaikan batas, dan kini, menghadapi tagihan sejarah.
